Menengok Museum PDRI di Sumbar, Saksi Bisu Perjuangan RI dapatkan Kemerdekaan
Museum ini terdiri dari enam lantai, di dalamnya dipamerkan sejarah pembentukan PDRI yang disajikan dalam bentuk tulisan
Di tengah sejuknya udara perbukitan Koto Tinggi, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) berdiri sebuah bangunan megah yang mengingatkan kembali akan perjuangan bangsa untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bangunan ini bernama Museum Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Museum ini mengingatkan kembali bahwa Nagari Koto Tinggi sebagai salah satu pusat pemerintahan Indonesia pada era PDRI.
Kini, bagunan itu tak hanya menjadi pengingat masa kelam perjuangan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga destinasi wisata sejarah bagi anak bangsa.
Bangunan itu berdiri kokoh di kaki perbukitan dengan gaya arsitektur memadukan atap bangunan dengan dindingnya. Bangunan ini terdiri dari dua segmen yang memiliki atap tinggi dan lancip pada bagian ujungnya. Apabila dilihat dari ketinggian, atap itu membentuk pola tanduk kerbau khas Sumatera Barat.
Latar perbukitan hijau dan sejuknya hawa Koto Tinggi menambah nuansa syahdu museum inu. Bangunan yang terdiri dari dua segmen ini satunya dimanfaatkan untuk aula, kemudian satunya lagi untuk museum.
Memasuki museum, pengunjung langsung disambut dengan kutipan dari Sjafruddin Prawiranegara, Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia sejak 19 Desember 1948-13 Juli 1949.
"Menghentikan perjuangan berarti pengkhianatan terhadap cita-cita semula dan terhadap korban-korban yang telah jatuh mati atau cacat di medan perjuangan," begitulah bunyi kutipan itu menyapa siapa saja yang memasuki museum.
Museum ini terdiri dari enam lantai, di dalamnya dipamerkan sejarah pembentukan PDRI yang disajikan dalam bentuk tulisan. Kemudian ada juga foto-foto para pemimpin PDRI seperti Sjafruddin yang saat itu ditunjuk menjadi Ketua Pemerintah Darurat Indonesia hingga tokoh lainnya seperti Sutan Mohammad Rasjid.
Di sini juga dipamerkan tulisan mengenai perjanjian Royen pada 07 Mei 1949 hingga serangan umum 1 Maret ke Yogyakarta dan masih banyak lainnya.
Museum ini berdiri di atas tanah seluas 20 hektar dan diresmikan langsung oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia di Hari Bela Negara, tepatnya pada 19 Desember 2024 lalu. Kini, museum ini telah dibuka untuk umum. Adapun jadwal buka pada Selasa,Rabu, Kamis, Sabtu dan Minggu dari pukul 10.00-16.00 WIB.