Nggak Cuma Tren! Silent Walking yang Ramai di Tiktok Ternyata Bisa Bikin Mental Lebih Tenang
Silent walking, tren TikTok terbaru, mengajak berjalan tanpa gangguan suara, membantu meningkatkan fokus, ketenangan, dan kesehatan mental.
TikTok kembali melahirkan tren baru yang bukan sekadar hiburan semata. Kali ini, tren yang disebut silent walking atau berjalan dalam keheningan mulai menarik perhatian banyak pengguna. Berbeda dari kebiasaan generasi digital yang cenderung tak bisa lepas dari gawai dan suara latar seperti musik atau podcast, silent walking justru mengajak orang untuk berjalan tanpa gangguan audio apa pun. Hanya diri sendiri, langkah kaki, dan dunia sekitar.
Fenomena ini mungkin terdengar sederhana, bahkan remeh, bagi sebagian orang. Namun siapa sangka, berjalan tanpa mendengarkan musik ternyata bisa membawa dampak luar biasa bagi kesehatan mental. Banyak pengguna TikTok membagikan pengalaman pribadi mereka tentang bagaimana silent walking membantu mereka merasa lebih tenang, fokus, bahkan lebih kreatif. Salah satu pengguna menyebutkan, “Aku merasa saat berjalan dalam keheningan, seluruh inderaku seperti waspada. Aku mencium segala aroma, mendengar segala suara, melihat segalanya. Rasanya sangat membumi.”
Meskipun awalnya dianggap sebagai gaya hidup eksentrik, para ahli kesehatan jiwa menegaskan bahwa silent walking sangat erat kaitannya dengan praktik mindfulness atau kesadaran penuh, yang telah terbukti secara ilmiah mampu meredakan stres, kecemasan, hingga gejala depresi. Jadi, apakah tren ini hanya sekadar viral di TikTok? Atau justru bisa menjadi kebiasaan yang berdampak jangka panjang bagi kesehatan mental?
Kembali ke Saat Ini: Keheningan yang Menenangkan
Dalam era serba cepat dan penuh distraksi, fokus menjadi komoditas langka. Otak kita terus-menerus disibukkan oleh suara notifikasi, arus informasi tanpa henti, dan kebiasaan multitasking. Menurut Dr. Rael Cahn, profesor dari Keck School of Medicine, silent walking membantu otak keluar dari kondisi yang disebut default mode network—sebuah mode mental di mana kita cenderung membayangkan masa depan, meratapi masa lalu, atau melamun tanpa henti.
Berjalan tanpa distraksi apa pun memungkinkan kita untuk benar-benar hadir di momen sekarang. “Dengan fokus pada momen saat ini selama meditasi atau berjalan, kita menghentikan otak dari kebiasaan ‘ngobrol terus dengan diri sendiri’,” ujar Cahn. Praktik ini adalah inti dari mindfulness—mengembalikan perhatian ke tubuh dan lingkungan sekitar.
Lebih lanjut, riset menunjukkan bahwa berjalan secara mindful, terutama di alam terbuka, mampu mengurangi tekanan darah, memperbaiki kualitas tidur, serta meredakan gejala gangguan kecemasan dan depresi. Maka, tidak mengherankan bila banyak orang yang merasa lebih jernih dan ringan setelah melakukan silent walk, meski hanya dalam durasi singkat seperti 30 menit.
Bergerak dan Merasakan: Cara Tubuh Membawa Pikiran Kembali
Bagi banyak orang, hadir di saat ini bukanlah hal yang mudah. Pikiran terus berpindah, dari kekhawatiran akan pekerjaan hingga rencana makan malam. Namun gerakan fisik ternyata bisa menjadi pintu masuk alami untuk membawa kita kembali ke realita.
“Dengan menggerakkan tubuh, kita juga mengaktifkan indra secara alami,” jelas Cahn. Tanpa harus menguasai teknik meditasi tingkat tinggi, berjalan dalam keheningan dapat mendorong kita untuk memperhatikan angin yang menyentuh kulit, cahaya matahari di wajah, atau suara dedaunan yang bergesekan. Inilah yang disebut sebagai the art of noticing, atau seni memperhatikan.
Susan Evans, PhD, profesor psikologi klinis dari Weill Cornell Medicine, menambahkan bahwa manfaat dari menyadari momen secara penuh bisa sangat besar. “Manfaat dari apa yang kamu alami saat benar-benar memperhatikan bisa sangat luar biasa,” katanya.
Dengan kata lain, tubuh kita sudah memiliki kemampuan alami untuk menuntun pikiran kembali ke realita. Yang dibutuhkan hanyalah sedikit keberanian untuk melambat dan membuka diri terhadap pengalaman yang mungkin selama ini tertutup oleh suara musik, podcast, atau sekadar pikiran yang melayang ke mana-mana.
Awalnya Aneh, Lama-lama Terbiasa
Tak bisa dimungkiri, memulai silent walking bisa terasa canggung. Bagi mereka yang terbiasa ditemani oleh lagu favorit atau obrolan podcast, berjalan dalam keheningan bisa terasa kosong, bahkan membuat gelisah. Hal ini wajar, terutama jika seseorang menggunakan hiburan sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari pikiran negatif.
“Karena multitasking sudah menjadi kebiasaan, melambat dan hanya melakukan satu hal saja bisa terasa tidak nyaman,” ujar Evans. Sementara itu, Cahn menyarankan bahwa jika seseorang merasa cemas atau depresi secara intens, penting untuk berkonsultasi dengan terapis terlebih dahulu sebelum mencoba silent walking sebagai terapi mandiri.
Namun, bagi sebagian besar orang, ketidaknyamanan itu akan hilang seiring waktu. “Itu hanyalah sesuatu yang akan berlalu, dan hanya butuh ketekunan untuk melewatinya,” kata Cahn. Ia menambahkan bahwa “kekayaan pengalaman dan hidupnya indra sama sekali tidak membosankan saat kamu benar-benar hadir.”
Dalam konteks ini, silent walking bukan sekadar soal diam dan berjalan. Ini adalah proses latihan mental untuk membangun kebiasaan sadar. Dan seperti kebiasaan baik lainnya, hasilnya akan terasa setelah dilakukan secara rutin dan penuh komitmen.
Bagaimana Memulai Silent Walking?
Salah satu daya tarik utama dari silent walking adalah kesederhanaannya. Tidak ada peralatan khusus. Tidak ada tempat khusus. Yang dibutuhkan hanyalah waktu dan kemauan untuk hadir.
Tentu saja, berjalan di taman atau area yang tenang bisa menjadi awal yang baik. Namun jika tidak memungkinkan, berjalan di trotoar menuju tempat kerja pun tetap bisa menjadi latihan mindfulness. “Bahkan jika kamu di rumah atau apartemen, kamu bisa melatih mindful walking di ruang tamu atau kamar tidur,” jelas Evans. “Berdirilah, rasakan posisi tubuhmu saat berdiri, bawa perhatianmu ke napas, dan mulai perlahan mengangkat kaki.”
Untuk pemula, tidak perlu memaksakan durasi lama. Cukup lima hingga sepuluh menit sehari untuk mulai membangun koneksi dengan keheningan. Yang penting adalah konsistensi dan kehadiran penuh saat melakukannya. Bahkan kegiatan seperti mendaki gunung bisa menjadi praktik meditatif jika dilakukan dengan keheningan dan kesadaran penuh.
Satu hal yang ditekankan oleh para ahli: jangan khawatir jika pikiran melayang. Itu wajar. “Saat pikiran datang—entah kekhawatiran, rencana, atau perencanaan—praktikkan untuk menyadarinya, lalu bawa kembali perhatianmu ke saat ini,” kata Evans. Silent walking bukan soal ‘mengosongkan pikiran’, melainkan soal menyadari kapan pikiran pergi, dan secara lembut membawanya pulang ke kenyataan.
Tren yang Layak Dipertahankan
Tren TikTok seringkali datang dan pergi, tetapi tidak semua membawa dampak sebesar ini. Silent walking bukan sekadar gaya hidup baru yang viral di media sosial. Ia menawarkan ruang untuk bernapas di tengah dunia yang terus memanggil perhatian kita ke segala arah.
Dalam keheningan, kita menemukan kembali kekuatan sederhana dari berjalan. Dalam sunyi, kita belajar untuk hadir. Dan dalam langkah yang tenang, kita bisa menjumpai diri sendiri yang lebih utuh dan damai.
Jadi, lain kali kamu hendak berjalan, cobalah tinggalkan earphone di rumah. Biarkan dunia menjadi satu-satunya suara yang menemanimu. Siapa tahu, justru dalam sunyi itulah kamu menemukan kedamaian yang selama ini kamu cari.