Aksi Gila di Final Destination, Perempuan Tertua Lakukan Stunt Dibakar Hidup-Hidup
Final Destination: Bloodlines pecahkan rekor dengan aksi pembakaran nyata Yvette Ferguson, perempuan tertua yang dibakar hidup-hidup di film.
Film horor kerap menampilkan adegan ekstrem yang memacu adrenalin penonton. Namun Final Destination: Bloodlines, film keenam dari waralaba legendaris Final Destination, melangkah lebih jauh dari sekadar menampilkan kematian yang mengerikan. Film ini menghadirkan aksi berani yang benar-benar membakar batas normal perfilman—secara harfiah.
Dalam sebuah adegan dramatis di awal film, seorang perempuan lanjut usia benar-benar dibakar hidup-hidup di depan kamera. Yvette Ferguson, seorang mantan pemeran pengganti yang telah pensiun, kembali ke dunia akting pada usia 71 tahun untuk mencetak rekor baru dalam sejarah perfilman. Ferguson menjadi perempuan tertua yang melakukan aksi stunt dibakar seluruh tubuhnya dalam balutan gaun perak—sebuah prestasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia film.
“Kami membakar begitu banyak orang yang berbeda, termasuk memecahkan rekor dunia untuk orang tertua yang terbakar bersama Yvette Ferguson, yang melakukan pembakaran seluruh tubuh dengan gaun perak. Itu adalah orang tertua yang pernah terbakar, di depan kamera,” ujar sutradara Bloodlines, Zach Lipovsky, dalam wawancaranya bersama Entertainment Weekly.
Adegan Berbahaya di Ketinggian: Restoran Gantung dan Kobaran Api
Adegan pembakaran Yvette Ferguson terjadi dalam urutan pembuka film yang berlatar tahun 1960-an. Berlokasi di restoran mewah di puncak menara fiktif Skyview Tower setinggi 122 meter, adegan ini menjadi momen pembuka yang menggetarkan. Bangunan futuristik ini memiliki lantai kaca dan pemandangan 360 derajat yang menakjubkan—namun justru menjadi latar sempurna untuk bencana.
Di tengah suasana romantis dalam restoran, karakter utama bernama Iris—diperankan oleh Brec Bassinger, bintang serial Stargirl DC—mendadak merasakan firasat aneh. Dalam ciri khas film Final Destination, ia membayangkan keruntuhan mengerikan menara tersebut, lengkap dengan pecahan kaca, runtuhan beton, dan kobaran api. Salah satu korban dalam penglihatan itu adalah Nyonya Fuller, yang diperankan oleh Ferguson, yang terbakar hebat di tengah restoran sebelum seluruh menara ambruk.
Bassinger mengungkapkan kekagumannya saat menyaksikan langsung aksi bakar diri tersebut di lokasi syuting. “Saya ada di lokasi syuting ketika mereka membakarnya! Ya Tuhan, itu indah sekali. Semua orang mulai bertepuk tangan… Dia sangat bersemangat,” katanya antusias.
Tak tanggung-tanggung, proses syuting adegan ini disebut sebagai yang paling rumit dan memakan waktu paling lama. “Kami selalu mencari hal-hal yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari Anda yang dapat kami hancurkan,” kata Adam Stein, rekan sutradara Lipovsky.
Adegan tersebut membutuhkan konstruksi set besar, termasuk restoran berdiameter 30 meter yang dibangun dari bahan tahan api. Setiap elemen harus dirancang agar tahan panas ekstrem. “Kami harus membangunnya agar tahan panas ekstrem… Anda tidak bisa berada di dalam set itu. Harus berdiri sangat jauh,” jelas Lipovsky.
Untuk menggambarkan runtuhnya restoran, set harus dimiringkan hingga 30 derajat dan digantung 50 kaki (sekitar 15 meter) di udara. Para pemain pun harus dipasangi alat pengaman khusus untuk mencegah kecelakaan akibat ketinggian.
Bassinger mengakui bahwa faktor ketakutan nyata sangat membantu dalam mendalami perannya. “Risiko jatuh secara harfiah, sejujurnya, membantu akting karena pada suatu saat, saya bahkan tidak berakting,” ungkapnya.
Kekerasan Realistis: Stunt Ekstrem dan Dedikasi Total
Selain adegan restoran yang membakar adrenalin dan tubuh pemeran pengganti, Final Destination: Bloodlines juga menghadirkan aksi sadis lain yang tak kalah ekstrem. Salah satunya melibatkan karakter Erik, yang diperankan oleh Richard Harmon. Dalam salah satu adegan paling mengerikan di film, Erik berada di sebuah salon tato ketika anting hidungnya tersangkut pada rantai yang terhubung ke kipas angin.
Saat kipas mulai berputar, rantai tertarik, dan kepala Erik ikut terangkat ke udara—sementara di bawahnya, api mulai menyala. “Saat api muncul, celana saya mulai terasa hangat. Luar biasa. Anda tidak perlu berpura-pura. Ada api. Anda digantung di hidung Anda,” kata Harmon mengenang pengalaman menegangkan itu.
Tim produksi menggunakan alat khusus yang ditempatkan di dalam hidung Harmon untuk menahan rantai sungguhan. Bahkan, untuk kebutuhan pengambilan gambar close-up, Harmon secara sukarela melepas alat pengaman agar adegan terlihat lebih nyata dan menegangkan.
Dedikasi ini mencerminkan komitmen penuh seluruh tim produksi terhadap realisme dan efek visual praktikal. Sutradara Zach Lipovsky menyatakan, “Salah satu hal istimewa tentang Final Destination adalah skalanya… Anda mendapatkan tontonan ala film bencana Hollywood, tetapi dengan kekerasan berperingkat R.”
Tak heran, film ini menjadi sorotan publik dan penggemar horor sejak peluncuran trailer resminya. Adegan stunt, pembakaran langsung, serta elemen ketegangan psikologis berhasil menciptakan atmosfer mencekam yang menjadi ciri khas waralaba Final Destination.
Rekor Dunia dan Penghormatan pada Pemeran Pengganti
Pencapaian Yvette Ferguson bukan hanya sekadar prestasi dalam dunia film. Di balik kobaran api yang melahap gaun peraknya, tersimpan kisah keberanian luar biasa dari seorang perempuan berusia 71 tahun yang kembali dari masa pensiun demi satu aksi terakhir—dan spektakuler.
Tim produksi telah mengajukan pencatatan resmi ke Guinness World Records atas aksi stunt Ferguson. Meski hingga kini belum mendapatkan tanggapan resmi, pencapaian tersebut telah mendapat pengakuan luas dari para kru film, aktor, dan komunitas perfilman.
Rekor sebagai pemeran pengganti tertua yang dibakar hidup-hidup di depan kamera tak hanya menjadi kebanggaan tersendiri, tetapi juga menjadi bukti bahwa usia bukanlah batas bagi keberanian.
“Dia sangat bersemangat,” kata Brec Bassinger tentang Ferguson. Antusiasme Ferguson menggambarkan kecintaan mendalam terhadap seni peran dan dedikasi luar biasa untuk dunia perfilman.
Tayang di Bioskop Mulai 14 Mei 2025
Final Destination: Bloodlines resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 14 Mei 2025. Film ini dipastikan menyuguhkan teror visual dan ketegangan psikologis yang lebih gila, brutal, dan emosional dibandingkan film-film pendahulunya.
Dengan stunt ekstrem, efek praktikal realistis, serta plot khas yang menggambarkan kematian sebagai sesuatu yang tak terhindarkan, film ini diyakini akan menjadi salah satu film horor paling berani dan ikonik di tahun ini.
Bagi penggemar waralaba Final Destination maupun pencinta genre horor penuh adrenalin, film ini jelas tak boleh dilewatkan. Tidak hanya menyajikan kematian-kematian kreatif dan mengerikan, Bloodlines juga memperlihatkan betapa dedikasi aktor dan kru film bisa melahirkan momen sinematik yang mencetak sejarah—secara literal membakar batas realitas dan fiksi.