Trump Ultimatum Rusia: Akhiri Perang Ukraina dalam 50 Hari atau Hadapi Tarif 100 Persen
Kesabaran Trump terhadap Putin akhirnya mencapai batasnya.
Pada hari Senin, 14 Juli 2025, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan kepada Rusia agar segera mengakhiri konflik di Ukraina dalam waktu 50 hari. Jika tidak, Rusia akan menghadapi sanksi ekonomi yang jauh lebih berat. Pernyataan ini disampaikan Trump saat ia menjelaskan rencana pengiriman senjata tambahan untuk Ukraina melalui NATO. Dia juga mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap Presiden Vladimir Putin, menegaskan bahwa kesabarannya telah mencapai batas terkait sikap Putin yang terus menolak untuk menghentikan invasi yang telah berlangsung selama tiga tahun. "Kami akan memberlakukan tarif yang sangat berat jika tidak ada kesepakatan dalam 50 hari, tarif sekitar 100 persen," ungkap Trump dalam sebuah pertemuan di Ruang Oval bersama Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, seperti dilansir oleh CNA.
Trump menambahkan bahwa tarif tersebut akan berupa "tarif sekunder" yang akan dikenakan kepada mitra dagang Rusia yang masih ada, dengan tujuan untuk melemahkan kemampuan Rusia dalam menghadapi sanksi besar-besaran dari negara-negara Barat. Dalam kesempatan tersebut, Trump dan Rutte juga mengumumkan kesepakatan penting di mana aliansi militer NATO akan membeli senjata senilai miliaran dolar dari AS, termasuk sistem rudal anti-serangan udara Patriot, yang kemudian akan dikirimkan ke Ukraina. "Ini sangat besar," puji Rutte, sambil menekankan bahwa kesepakatan ini bertujuan untuk mengatasi keluhan Trump yang merasa bahwa AS telah memberikan kontribusi lebih besar dibandingkan negara-negara Eropa dan sekutu NATO lainnya dalam mendukung Ukraina. Negara-negara seperti Jerman, Kanada, Denmark, Finlandia, Belanda, Norwegia, Swedia, dan Inggris turut berperan sebagai pembeli yang membantu Ukraina.
Rutte juga menambahkan, "Kalau saya adalah Vladimir Putin hari ini dan mendengar pernyataan Anda ... saya akan mempertimbangkan kembali apakah saya harus lebih serius dalam negosiasi soal Ukraina." Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengekspresikan rasa terima kasihnya kepada Trump atas kesepakatan pengiriman senjata tersebut, menegaskan pentingnya dukungan internasional dalam menghadapi situasi yang sulit ini.
Batas waktu Trump terlalu panjang
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menegaskan bahwa Berlin akan memiliki "peran menentukan" dalam rencana pengiriman senjata baru. Di sisi lain, Kaja Kallas, yang menjabat sebagai Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, berpendapat bahwa tenggat waktu sanksi yang ditetapkan oleh Trump terlalu panjang. "Lima puluh hari adalah waktu yang sangat lama jika kita melihat bahwa mereka (Rusia) membunuh warga sipil tidak berdosa setiap hari," ungkapnya. Pendekatan Trump terhadap Putin sempat terjadi tidak lama setelah dia memulai masa jabatan keduanya, di mana ia berusaha untuk memenuhi janji kampanye terkait penyelesaian konflik Ukraina dalam waktu 24 jam.
Perubahan sikap Trump yang lebih mendekati Putin menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Ukraina, yang merasa bahwa ada kemungkinan dia akan mengkhianati negara mereka. Hal ini semakin diperparah ketika Trump dan timnya memberikan kritik tajam terhadap Presiden Zelenskyy dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di Ruang Oval pada 28 Februari. Kekhawatiran ini mencerminkan ketidakpastian mengenai komitmen Amerika Serikat terhadap dukungan bagi Ukraina, yang tengah berjuang melawan agresi Rusia. Dengan situasi yang semakin kompleks, banyak pihak berharap agar langkah-langkah yang diambil oleh pemimpin dunia dapat mencegah lebih banyak korban jiwa dan memastikan stabilitas di kawasan tersebut.