Berlaku 9 Juli, Trump Siapkan Surat Tarif Baru untuk 130 Negara
Belum ada kejelasan mengenai keputusan akhir terkait tarif dagang terhadap sekitar 130 negara.
Batas waktu 90 hari dalam perang dagang yang dijuluki “Hari Pembebasan 2.0” oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump akan berakhir pada 9 Juli 2025. Namun, hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai keputusan akhir terkait tarif dagang terhadap sekitar 130 negara.
Presiden Trump mengindikasikan tiga kemungkinan skenario yaitu pemberlakuan tarif baru, perpanjangan tenggat waktu, atau pengumuman kesepakatan dagang. Dalam pernyataan kepada media, Trump menyebut bahwa surat pemberitahuan akan segera dikirim kepada mitra dagang yang isinya menyatakan, “Ini kesepakatannya, Anda bisa terima atau tinggalkan.”
“Beberapa negara mungkin akan menerima perpanjangan waktu, beberapa lainnya kesepakatan terbatas. Tapi kami sedang unggul dalam negosiasi ini,” ujar Trump pada Rabu malam.
Tiga Sinyal Berbeda dalam Sehari
Sinyal kebijakan dari Gedung Putih mengalami perubahan cepat dalam satu hari. Di pagi hari, Menteri Perdagangan Howard Lutnick menyatakan kepada CNBC bahwa pemerintah sedang menyusun serangkaian kesepakatan baru.
“Kesepakatan demi kesepakatan akan mulai terjadi minggu depan,” kata Lutnick.
Namun siang harinya, Menteri Keuangan Scott Bessent memberikan pernyataan berbeda saat bersaksi di hadapan Kongres. Ia menyebut pemerintah kemungkinan besar akan menunda tenggat waktu bagi sejumlah mitra dagang utama, khususnya yang dianggap bernegosiasi dengan itikad baik.
Bessent juga membuka opsi kesepakatan regional yang memungkinkan kelompok negara menerima perlakuan tarif serupa. “Jika ada yang tidak mau bernegosiasi, maka kami juga tidak akan melanjutkan pembicaraan,” katanya.
Di malam hari, Trump menegaskan bahwa surat pemberitahuan tarif akan dikirim dalam satu hingga dua minggu, yang menandai sikap tegas terhadap negara-negara yang belum mencapai kesepakatan. Meski demikian, ia tetap membuka kemungkinan perpanjangan dan menyebut bahwa kesepakatan sedang berlangsung dengan negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan.
Prediksi Kombinasi Strategi
Henrietta Treyz dari Veda Partners memprediksi pemerintah akan mengambil pendekatan campuran: sebagian negara akan mendapatkan perpanjangan, sebagian lain dikenai tarif 10–25%, dan beberapa akan menjalin kesepakatan terbatas.
“Ini akan seperti makan prasmanan sedikit dari segalanya,” tulis Treyz dalam catatan untuk investor.
Pasar dan investor global kini menunggu kejelasan lebih lanjut, karena ketidakpastian ini menambah tekanan terhadap perdagangan internasional yang sudah terpengaruh oleh kebijakan tarif selama masa pemerintahan Trump.