Trump Kirim Surat ke Mitra Dagang Jelang Tarif Impor Berlaku 9 Juli
Surat tersebut akan berisi penetapan tarif sepihak, menjelang tenggat waktu 9 Juli 2025.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan segera mengirimkan surat kepada sejumlah mitra dagang dalam satu hingga dua minggu ke depan.
Melansir dari Yahoo Finance, surat tersebut akan berisi penetapan tarif sepihak, menjelang tenggat waktu 9 Juli yang menjadi batas akhir bagi pemberlakuan kembali tarif impor yang lebih tinggi terhadap puluhan negara. Kebijakan ini menandai langkah terbaru Washington dalam tekanan dagang global yang semakin intensif.
"Pada titik tertentu, kami akan mengirim surat. Dan saya rasa Anda mengerti bahwa, ketika saya mengatakan 'inilah kesepakatannya', Anda bisa memilih untuk menerimanya atau menolaknya," kata Trump.
Pernyataan Trump muncul setelah sebelumnya dia mengguncang pasar dengan mengenakan tarif baru yang cukup tinggi. Namun kemudian, ia juga memberlakukan penangguhan atas bea masuk tertinggi tersebut, yang masa berlakunya akan berakhir pada 9 Juli.
Meskipun demikian, komentar terbaru Trump justru menambah ketidakpastian soal langkah berikutnya yang akan diambil pemerintah saat tenggat waktu kian mendekat.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memberi pernyataan di hadapan Kongres, menyebut bahwa kemungkinan besar jeda tarif akan diperpanjang bagi negara-negara yang tengah melakukan negosiasi dengan itikad baik.
"Ada 18 mitra dagang utama, kami sedang berupaya mencapai kesepakatan dengan negara-negara tersebut dan sangat mungkin, jika mereka bernegosiasi dengan itikad baik, maka kami akan menyesuaikan tanggalnya," ujar Bessent.
Sementara itu, Amerika Serikat dan China dikabarkan telah mencapai kesepakatan kerangka kerja serta rencana implementasi untuk meredakan ketegangan seputar tarif dan perdagangan antar kedua negara.
Trump menyatakan persetujuannya atas kesepakatan tersebut, menyebut bahwa perjanjian itu telah selesai, tinggal menunggu konfirmasi resmi darinya dan Presiden China, Xi Jinping.
Kesepakatan antara Washington dan Beijing tersebut diharapkan dapat menyelesaikan sejumlah isu pelik, termasuk permasalahan ekspor mineral tanah jarang dan magnet, yang selama ini menjadi titik panas dalam perang dagang.
Namun, laporan lanjutan menunjukkan bahwa China kemungkinan hanya akan melonggarkan pembatasan ekspor mineral tanah jarang selama enam bulan saja.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan kembali membuka kesempatan bagi mahasiswa asal China untuk menempuh pendidikan tinggi di universitas-universitas AS sebuah isu sensitif yang mencuat setelah kesepakatan kedua negara di Jenewa pada pertengahan Mei.
Selain itu, Trump menyebut bahwa total tarif yang akan dikenakan terhadap produk-produk dari China akan mencapai 55 persen.
Menurut laporan Ben Werschkul angka tersebut diperoleh dengan menjumlahkan seluruh bea masuk yang telah diberlakukan sebelumnya, bukan merupakan tambahan tarif baru. Pernyataan ini memperkuat kesan bahwa Trump terus mendorong kebijakan proteksionis sebagai strategi utama dalam perundingan perdagangan internasional.
Di tengah ketidakpastian hukum terkait tarif-tarif tersebut, pada hari Selasa, Trump menerima kabar baik dari lembaga peradilan. Pengadilan banding federal mengeluarkan keputusan yang mengizinkan tarif tersebut tetap diberlakukan untuk sementara waktu.
Sebelumnya, Pengadilan Perdagangan Internasional AS sempat memblokir implementasinya, menyatakan bahwa metode yang digunakan pemerintah dalam menetapkan tarif itu melanggar hukum. Kini, dengan putusan baru dari pengadilan banding, Trump memperoleh celah hukum untuk melanjutkan langkah tarifnya, setidaknya untuk saat ini.