Tawanan Amerika-Israel Ini Ogah Bertemu Netanyahu Setelah Dibebaskan Hamas
Hamas membebaskan tawanan Amerika-Israel, Edan Alexander, setelah ditahan 19 bulan di Gaza,
Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, membebaskan tawanan warga negara Amerika-Israel, Edan Alexander, pada Senin (12/5) malam, setelah ditahan lebih dari 10 bulan di Jalur Gaza. Pembebasan ini terjadi menjelang kunjungan Presiden Donald Trump ke Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab, dan dianggap sebagai langkah signifikan menuju resolusi konflik yang berkepanjangan.
Menurut laporan Channel 7 Israel, dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (13/5), Alexander (21) diserahkan kepada Komite Palang Merah Internasional (ICRC) di kota selatan Khan Younis. Alexander adalah sandera AS terakhir yang diketahui masih hidup dan ditahan di Gaza.
Alexander dilaporkan menolak bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah dibebaskan, menurut laporan lembaga penyiaran Israel, KAN.
Hamas menyatakan pembebasan tawanan AS-Israel ini sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengamankan gencatan senjata dan mengizinkan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan masuk ke Gaza.
Pejabat senior Hamas, Khalil al-Hayya mengumumkan langkah tersebut pada Minggu (11/5), menyusul kontak langsung antara kelompok tersebut dan AS dalam beberapa hari terakhir. Ia mengatakan keputusan itu diambil di tengah upaya mediasi yang dipimpin oleh Qatar, Mesir, dan Turki.
“Gerakan kami menegaskan kesiapannya untuk segera memulai negosiasi intensif dan melakukan upaya serius untuk mencapai kesepakatan akhir guna mengakhiri perang, menukar tahanan dengan cara yang disepakati,” kata al-Hayya, dikutip dari Middle East Eye, Selasa (13/5).
Alexander, yang berkewarganegaraan ganda AS-Israel, bertugas di militer Israel saat ia ditangkap dalam serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober di Israel selatan. Saat itu, ia dilaporkan ditempatkan di dekat perbatasan Gaza.
Penyerahan tersebut terjadi setelah negosiasi intensif yang melibatkan berbagai pihak, termasuk mediator internasional. Pembebasan ini disambut dengan gembira oleh keluarga Alexander dan pemerintah AS.
"Saya bahagia mengumumkan Edan Alexander, warga negara Amerika yang ditawan sejak Oktober 2023, kembali kepada keluarganya. Saya berterima kasih kepada semua yang terlibat mewujudkan kabar gembira ini," jelas Presiden AS Donald Trump dalam pernyataannya yang diunggah di Truth Social.
Trump juga mengapresiasi peran Qatar dan Mesir sebagai negosiator dalam pembebasan tawanan ini.
"Semoga ini pertama dari langkah-langkah terakhir yang diperlukan untuk mengakhiri konflik yang brutal ini. Saya sangat menantikan datangnya hari perayaan itu!" pungkas Trump.