Sowan ke Menteri HAM Natalius Pigai, Gubernur Dedi Mulyadi Jelaskan Alasan Siswa Nakal Digembleng di Barak Militer
Khususnya, mereka yang duduk di bangku sekolah menengah pertama dan menengah atas atau sederajat.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyambangi kantor Menteri HAM Natalius Pigai di Jakarta, untuk bertukar pikiran terkait program pembinaan pelajar bermasalah di barak militer. Dia menuturkan kebijakan menempatkan pelajar di barak militer didasari dari berubahnya pola hidup pelajar. Khususnya, mereka yang duduk di bangku sekolah menengah pertama dan menengah atas atau sederajat.
"Yang terjadi pada anak-anak di Jawa Barat itu pola hidupnya adalah rata-rata tidurnya jam 4 pagi karena waktunya dihabiskan untuk main game online. Kemudian berdampak mereka tidak bersekolah. Selain berdampak tidak bersekolah, mereka sering terorganisir secara sistemik melalui kekuatan media sosial melakukan pertarungan secara terbuka dan tertutup, melahirkan banyak orang yang terluka, bahkan banyak orang yang meninggal," kata pria karib disapa Demul ini kepada awak media di Jakarta, Kamis (7/5).
Dedi menyayangkan, hal itu diperparah dengan beredarnya obat-obat yang tidak layak dikonsumsi dari sisi kesehatan dan dijual terbuka dengan harga di bawah Rp10.000 untuk 3 butir.
"Itu eksimer dan sejenisnya, ada juga minuman-minuman yang beredar secara luas yang bisa diakses oleh anak-anak SMP," beber mantan bupati Purwakarta ini.
"Nah ini adalah problem yang harus segera diselesaikan, tidak bisa diselesaikan di internal sekolah melalui pendekatan bimbingan konseling dan problem itu juga tidak bisa diselesaikan di internal keluarga oleh ayah dan ibunya. Nah karena problem ini tidak bisa diselesaikan di sekolah dan di keluarga serta tidak semua problem itu bisa ditangani lewat peradilan anak, maka harus ada upaya jangka pendek yang bisa dilakukan melalui pola pendidikan disiplin siswa dalam bahasa saya adalah pendidikan bela negara dengan penguatan pendidikan berkarakter," sambungnya.
"Maka kami menggandeng lembaga TNI, karena TNI memiliki pengalaman dalam melakukan pola pendidikan, baik untuk kalangan militer maupun kalangan sipil," kata Dedi.
Rutinitas di Barak Militer
Dedi selanjutnya merinci apa saja pola yang akan dijalankan oleh pelajar saat masuk ke barak militer di Kodam 3 Siliwangi. Selain membentuk karakter yang lebih baik, Dedi ingin membangun kebugaran fisik pelajar yang lebih sehat.
Pertama adalah pembangunan kualitas disiplin dengan melepas ketergantungan terhadap ponsel. Kedua, melepas tradisi bermotor. Ketiga, melepas kecanduan minuman keras. Keempat, melepas pengaruh obat-obatan terlarang dan kelima, melepas konsumsi-konsumsi zat lain yang merusak.
Dedi memastikan, jadwal rutinitas pelajar di barak militer akan dilakukan dengan membentuk pola yang lebih baik. Hal itu diawali dari jam tidur maksimal pukul 10 malam dan bangun pukul 4 pagi yang dilanjutkan dengan kegiatan mandi, salat subuh, membereskan tempat tidur, lalu masuk ke masjid untuk mendapat bimbingan rohani dari kiai yang menjadi pembimbingnya.
"Setelah itu mereka sarapan pagi. Setelah sarapan pagi mereka berolahraga, usai berolahraga, mereka langsung masuk ruang kelas belajar sebagaimana didapatkan di sekolah," kata Dedi.
Dedi memastikan, Pemprov Jawa Barat akan mendatangkan guru dari berbagai tempat untuk mengajar materi sekolah sesuai dengan jenjangnya.
Pada siang harinya, lanjut Dedi, pelajar akan menuaikan salat zuhur di waktu istirahat. Kemudian, pelajar alam mengikuti program minat dan bakat melalui pendekatan olahraga hingga maghrib tiba.
Saat magrib, dia masuk ke masjid lagi, belajar ngaji sampai isya. Kemudian nanti mereka makan malam dan kembali ke tempat tidur untuk istirahat.
"Jadi model itu yang kami kembangkan dan kami tadi konsultasikan. Tidak ada pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan terhadap hak-hak anak sendiri," ungkap Dedi.