Israel Lacak Pengguna Ponsel di 10 Negara dalam Tiga Tahun Terakhir, Termasuk di Asia Tenggara

Israel melakukan dua operasi pelacakan terpisah, yang masing-masing kemungkinan dijalankan oleh perusahaan komersial.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Israel Lacak Pengguna Ponsel di 10 Negara dalam Tiga Tahun Terakhir, Termasuk di Asia Tenggara
Israel Lacak Pengguna Ponsel di 10 Negara dalam Tiga Tahun Terakhir, Termasuk di Asia Tenggara (Merdeka.com)

Infrastruktur telekomunikasi Israel digunakan untuk melacak warga di lebih dari sepuluh negara selama tiga tahun terakhir, menurut laporan yang baru-baru ini diterbitkan oleh kelompok riset digital berbasis di Kanada, Citizen Lab.

Temuan tersebut, yang ditinjau oleh Haaretz dalam beberapa pekan terakhir, mengungkap bagaimana upaya peningkatan infrastruktur jaringan telepon yang dibangun sejak 1970-an untuk era smartphone masih membuat bahkan perangkat paling canggih sekalipun rentan terhadap pengawasan.

Laporan tersebut menggambarkan dua operasi pelacakan terpisah, yang masing-masing kemungkinan dijalankan oleh perusahaan komersial yang menjual teknologi pengawasan kepada pemerintah di seluruh dunia. Salah satunya juga diketahui memanfaatkan teknologi geolokasi Israel untuk melacak target, menggunakan jaringan milik 019Mobile dan Partner Communications, meskipun kedua perusahaan Israel tersebut membantah keterlibatan apa pun.

Menyamar Sebagai Operator Seluler

Studi: Main Ponsel Sebelum Tidur Bisa Kurangi Waktu Tidur hingga 24 Menit
Ilustrasi main hp ponsel di tempat tidur. (Photo by Boudewijn Huysmans on Unsplash) © 2025 Liputan6.com

Operasi kedua yang lebih canggih dikaitkan dengan perusahaan Swiss yang menjadi pusat investigasi Haaretz tahun 2023 karena memasok perusahaan pengawasan Israel, termasuk Rayzone Group, yang mengembangkan dan menjual teknologi intelijen siber kepada lembaga pemerintah di seluruh dunia.

Laman Haaretz melaporkan, Ahad (3/5), investigasi tersebut menemukan bahwa perusahaan telekomunikasi Swiss memungkinkan perusahaan seperti Rayzone menyamar sebagai operator seluler dan terhubung ke jaringan seluler lama untuk melacak pengguna secara global, dengan mengeksploitasi protokol sinyal telekomunikasi lama bernama SS7 untuk tujuan pengawasan. SS7 awalnya dirancang untuk mengarahkan panggilan dan pesan teks, memungkinkan roaming internasional, serta menghubungkan berbagai operator seluler.

Regulator Inggris melarang praktik tersebut pekan lalu sebagai upaya menindak spyware pelacak, setelah lebih dari satu dekade laporan investigatif tentang penyalahgunaannya, dan menyebut praktik itu sebagai sumber terbesar lalu lintas berbahaya ke jaringan seluler.

Rentan terhadap Spyware Pelacak

Selain itu, temuan Citizen Lab menunjukkan bahwa sistem pensinyalan yang lebih baru—yang diperkenalkan untuk memperkuat keamanan—juga dieksploitasi oleh perusahaan spyware, meskipun dirancang untuk mengurangi risiko keamanan dan mencegah pengawasan.

Salah satu contohnya adalah Diameter, sistem jaringan seluler yang menangani roaming internasional 4G dan sebagian besar jaringan 5G, yang dirancang untuk memperlancar konektivitas seluler ke internet, namun kini terbukti rentan terhadap spyware pelacak.

Dalam operasi pertama yang diungkap Citizen Lab, peneliti mencatat lebih dari 500 upaya pelacakan lokasi antara November 2022 hingga 2025 di Thailand, Afrika Selatan, Norwegia, Bangladesh, Malaysia, dan beberapa negara Afrika lainnya.

Investigasi ini bermula dari satu pelanggan: seorang pengusaha Timur Tengah yang dilacak secara sistematis selama empat jam dalam sebuah kejadian yang membuka pola lebih luas—yakni perusahaan yang menanyakan sistem telepon internasional atas nama klien untuk mengikuti target.

Alamat Unik

Operator Israel, 019Mobile, digunakan dalam operasi tersebut. Menurut informasi yang diperoleh Haaretz, puluhan upaya pelacakan tampaknya melewati server 019—permintaan yang tidak tampak sebagai komunikasi sah, melainkan seperti aktivitas pengawasan. Setiap jaringan seluler memiliki alamat unik—mirip alamat situs web—yang digunakan perusahaan telekomunikasi lain untuk mengarahkan panggilan dan data. Citizen Lab menemukan bahwa alamat yang terdaftar atas nama 019 digunakan untuk mengirim permintaan pelacakan lokasi melalui Partner Communications, yang infrastrukturnya digunakan oleh 019.

Jalur lain melewati Exelera Telecom, perusahaan Israel yang menyediakan layanan cloud dan komunikasi, termasuk kabel serat optik bawah laut internasional. Exelera tidak menanggapi permintaan komentar dari Haaretz.

Kepala keamanan 019Mobile, Gil Nagar, membantah keterlibatan apa pun, menyatakan bahwa perusahaan tersebut adalah operator virtual yang menjual layanan di atas jaringan operator lain tanpa memiliki jaringan sendiri, serta tidak memiliki perjanjian roaming dengan operator luar negeri.

Ia mengatakan pesan yang dikirim atas nama perusahaannya akan “ditolak” dalam kondisi apa pun. Citizen Lab menyatakan bahwa pihak di balik operasi tersebut mungkin telah memalsukan identitas 019 untuk mendapatkan akses.

Meskipun peneliti Kanada tersebut tidak mengungkap vendor di balik operasi, mereka menyoroti beberapa pihak yang berpotensi terlibat—di antaranya Cognyte, perusahaan Israel-Amerika yang menyediakan layanan serupa kepada klien pemerintah.

Dokumen internal yang diperoleh Haaretz menunjukkan bahwa perusahaan induk Cognyte, Verint, menjual produk bernama SkyLock—alat pelacakan berbasis SS7—kepada klien pemerintah di Republik Demokratik Kongo.



Operator di Indonesia

SkyLock menggunakan sistem roaming lama untuk menemukan lokasi perangkat di mana saja di dunia. Dokumen tersebut juga menunjukkan hubungan komersial perusahaan dengan operator di Thailand, Malaysia, Indonesia, Vietnam, dan Kongo—beberapa negara yang sama di mana kampanye pelacakan pertama kemudian teridentifikasi. Salah satu operator tersebut, AIS Thailand, juga muncul sebagai sumber lalu lintas dalam kampanye tersebut.

Operasi lainnya dikaitkan dengan Fink Telecom Services—perusahaan Swiss yang diungkap oleh Haaretz dan Lighthouse Reports pada 2023 karena memasok kemampuan pelacakan berbasis SS7 kepada perusahaan pengawasan, memungkinkan mereka “mem-ping” jaringan seluler seolah-olah mereka adalah operator.

Para peneliti menyatakan bahwa infrastruktur seluler yang lebih baru—yang seharusnya mencegah penyalahgunaan semacam ini—justru dieksploitasi dengan cara yang sangat mirip seperti sistem lama yang seharusnya digantikannya. Hal ini menunjukkan bagaimana sistem pensinyalan lama dan baru digunakan secara bersamaan untuk melacak individu.

Salah satu metode termasuk penggunaan teknik yang mengeksploitasi kerentanan pada kartu SIM, menunjukkan bagaimana perusahaan dan operator bayangan menyesuaikan metode pengawasan mereka seiring berkembangnya infrastruktur telekomunikasi. Ponsel target menerima pesan teks tersembunyi berisi perintah rahasia yang memicu kartu SIM untuk mengirimkan lokasi perangkat—tanpa sepengetahuan pengguna dan tanpa meninggalkan jejak yang terlihat di ponsel.

Citizen Lab mengidentifikasi lebih dari 15.700 upaya pelacakan semacam ini sejak akhir 2022. Ketika Haaretz dan Lighthouse Reports mengungkap aktivitas Fink pada 2023, teknik ini—yang dikenal sebagai SIMjacking—belum digunakan.

Fink, Exelera Telecom, serta Verint/Cognyte tidak memberikan tanggapan. Sementara itu, Partner menyatakan kepada Haaretz bahwa perusahaan “tidak memiliki hubungan dengan kasus ini dan upaya apa pun untuk mengaitkan namanya adalah keliru.”

Rekomendasi