Setelah Penantian Panjang, Taliban Lepas Pasangan Lansia Inggris di Afghanistan
Peran Qatar sangat penting dalam proses pembebasan Peter dan Barbara.
Pemerintah Taliban di Afghanistan telah membebaskan sepasang lansia berkewarganegaraan Inggris yang ditahan selama hampir delapan bulan dengan tuduhan yang tidak dijelaskan.
Berdasarkan laporan dari Al Jazeera, Peter Reynolds (80) dan istrinya, Barbara (76), dibebaskan dari penjara pada Jumat (19/9) setelah melalui proses peradilan, dan kemudian diserahkan kepada perwakilan khusus Inggris untuk Afghanistan, Richard Lindsay.
Pembebasan ini merupakan hasil dari negosiasi yang dilakukan oleh Qatar.
Abdul Qahar Balkhi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Afghanistan, menyatakan bahwa pasangan tersebut ditangkap pada bulan Februari karena diduga melanggar hukum Afghanistan, meskipun ia tidak merinci undang-undang yang dilanggar.
Pejabat dari Inggris pun segera mengungkapkan rasa syukur dan lega atas pembebasan tersebut, serta berterima kasih kepada negara yang menjadi mediator.
"Saya menyambut baik pembebasan Peter dan Barbara Reynolds dari tahanan di Afghanistan dan saya tahu kabar yang telah lama ditunggu ini akan menjadi kelegaan besar bagi mereka dan keluarga mereka," ungkap Perdana Menteri Keir Starmer.
"Saya ingin memberikan penghormatan atas peran penting yang dimainkan oleh Qatar."
Qatar juga mengungkapkan apresiasi terhadap kerja sama yang telah terjalin antara pejabat Afghanistan dan Inggris yang menghasilkan pembebasan ini.
Pada bulan Juli, para pakar hak asasi manusia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah meminta Taliban untuk membebaskan pasangan tersebut.
Mereka mengingatkan bahwa kondisi fisik dan mental pasangan ini bisa memburuk dengan cepat, serta menekankan bahwa keduanya berisiko mengalami penderitaan yang tidak dapat dipulihkan, bahkan berujung pada kematian.
"Kami diperlakukan dengan sangat baik," kata Barbara.
"Kami juga menanti untuk kembali ke Afghanistan jika memungkinkan," tambahnya.
Pertemuan dengan keluarga sangat mengharukan
Setelah mendapatkan kebebasan, Peter dan Barbara terbang menuju Doha, Qatar, dan tiba pada Jumat sore.
Di sana, mereka disambut kembali oleh putri mereka, Sarah Entwistle, dalam suasana haru yang mengharukan, di mana pelukan erat menjadi tanda kebahagiaan setelah waktu yang lama terpisah.
Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, pasangan yang sudah lanjut usia ini dijadwalkan untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Inggris.
Begitu tiba di Doha, Barbara Reynolds menyampaikan rasa syukurnya. "Sungguh luar biasa bisa berada di sini," ujarnya, seperti yang dilaporkan oleh BBC.
Dalam kesempatan tersebut, Sarah juga mengungkapkan bahwa dia terakhir kali berkomunikasi dengan orang tuanya pada hari Sabtu lalu, di mana keduanya sudah menyatakan keinginan untuk pulang.
Menurut keterangan keluarga, mereka merasakan rasa syukur dan lega yang mendalam atas pembebasan tersebut, yang mereka sebut sebagai momen penuh sukacita yang luar biasa.
"Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu memastikan pembebasan orang tua kami," ungkap pernyataan keluarga.
Keluarga Reynolds juga memberikan penghargaan khusus kepada Qatar yang berperan sebagai mediator, serta pemerintah Inggris, dan dukungan dari Amerika Serikat (AS) dan PBB, yang dianggap memiliki kontribusi penting dalam proses pembebasan tersebut.
Cinta yang mendalam terhadap Afghanistan
Mengacu pada BBC, Peter dan Barbie Reynolds melangsungkan pernikahan mereka di Kabul pada tahun 1970.
Selama 18 tahun terakhir, mereka telah mengelola program pelatihan amal untuk masyarakat setempat, yang bahkan mendapat dukungan dari pejabat Taliban ketika kelompok bersenjata tersebut kembali berkuasa pada tahun 2021.
Keluarga mereka menjelaskan bahwa pasangan ini memiliki cinta yang mendalam terhadap Afghanistan, yang terlihat dari keputusan mereka untuk tetap tinggal di negara itu setelah rezim otoriter mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021, sementara banyak warga Barat lainnya memilih untuk meninggalkan Afghanistan.
Menteri Inggris untuk Urusan Timur Tengah, Afghanistan, dan Pakistan, Hamish Falconer, menyatakan bahwa ia merasa lega karena penderitaan pasangan tersebut telah berakhir.
Ia menekankan bahwa pemerintah Inggris telah berupaya keras sejak mereka ditahan dan terus memberikan dukungan kepada keluarga selama masa sulit ini.
Sejak Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021, puluhan warga negara asing telah ditangkap setelah penarikan militer AS, menambah kompleksitas situasi di negara itu.