Selama Ini Jadi Perdebatan Ilmuwan, Ukuran Hiu Purba Megalodon Ternyata Bisa Setara Lapangan Basket
Megalodon menjadi predator paling ganas di lautan pada masanya.
Lima belas juta tahun lalu, spesies lumba-lumba, paus, dan dugong yang kini telah punah pernah hidup menjelajahi lautan dunia dan menduduki puncak rantai makanan di bawah laut. Namun saat itu, salah satu dari makhluk tersebut dapat menjadi mangsa predator puncak paling ganas di lautan, yaitu megalodon, hiu raksasa dengan gigi besar dan tubuh seukuran paus.
Ilmuwan sejak lama memperdebatkan ukuran sebenarnya hewan yang punah enam juta tahun yang lalu, megalodon, dengan nama ilmiah Otodus megalodon.
Perdebatan mengenai kepunahannya masih belum terselesaikan karena sebagian hiu tidak memiliki tulang dan penemuan kerangka tulang rawan cenderung jarang. Namun, beberapa catatan fosil megalodon telah ditemukan. Ilmuwan mampu menyusun tebakan terbaik mereka tentang seperti apa rupa hiu terbesar ini.
Berdasarkan salah satu kerangka tulang belakang megalodon yang diteliti dalam jurnal Palaeontologia Electronica, dikatakan bahwa hiu raksasa itu panjangnya mencapai 16,4 meter, atau kira-kira seukuran bagian kargo truk gandeng.
Ada juga yang meneliti menggunakan tulang belakang megalodon yang lebih besar ditemukan dari tempat lain, ukurannya mencapai panjang 24 meter, setara dengan ukuran paus biru dan diperkirakan setara ukuran lapangan basket.
Karena hiu raksasa ini tidak memiliki kerabat yang masih hidup, hewan ini unik karena bersifat endotermik (berdarah panas), mirip dengan ikan opah, hiu putih besar, dan sebagian spesies hiu endotermik. Hal ini dianggap sebagai keuntungan yang memungkinkan predator ini bisa mengatur suhu tubuh mereka di perairan yang lebih dingin, sehingga mereka dapat berburu dengan lebih efisien di habitat pesisir mereka yang membentang di setiap benua kecuali Antartika.
Megalodon memiliki kemiripan dengan hiu putih besar, keduanya memiliki struktur gigi yang mirip. Penelitian sebelumnya memperkirakan ukuran megalodon dengan menggunakan hiu putih besar sebagai pengganti.Jack Cooper, seorang paleobiologi di Universitas Swansea, memimpin penelitian menggunakan hiu putih besar dan beberapa kerabatnya.
Penelitian ini sebagai titik referensi untuk memperkirakan ukuran megalodon, dan menemukan bahwa panjangnya sekitar 15 meter. Perkiraan sebelumnya menduga bahwa hiu raksasa bisa mencapai panjang 20 meter.
Namun, penelitian terbaru tidak menggunakan hiu putih besar sebagai pengganti. Sebaliknya, mereka membandingkan megalodon dengan 150 spesies lain yang lebih besar, untuk memperkirakan seberapa besar kepala dan ekornya, lalu menambahkan hasil perhitungan tersebut ke catatan fosil yang sudah ada untuk mendapatkan panjang tubuh secara keseluruhan.
“Tim peneliti kami menemukan bahwa hiu putih besar modern, dengan tubuh agak gemuk, jika secara hipotesis membesar hingga seukuran megalodon, tidak akan memungkinkannya menjadi perenang yang efisien karena kendala hidrodinamik,” kata Dr. Kenshu Shimada yang mempelajari evolusi laut di Universitas DePaul, seperti dilansir Salon.com, Rabu (12/3).
“Karena alasan-alasan ini, studi baru kami sangat menyarankan bahwa kemungkinan besar megalodon memiliki tubuh yang jauh lebih ramping daripada hiu putih besar modern, diperkirakan sama rampingnya dengan hiu lemon yang masih hidup,” jelasnya.
Hiu lemon (Negaprion Brevirostris) lebih pipih dan panjang dibandingkan hiu putih bertubuh besar. Studi terbaru melaporkan bahwa megalodon sedikit lebih besar dari perkiraan Cooper. Namun, analisis Shimada membandingkan beberapa spesies untuk menentukan bahwa megalodon lebih mirip hiu lemon daripada hiu putih besar.
Temuan Shimada menunjukkan ukuran hiu raksasa ini mempengaruhi kecepatan berenangnya. Analisis sisik fosil megalodon mengungkap bahwa ia tidak memiliki ciri khas hiu perenang cepat, secepat hiu putih besar. Megalodon cenderung memiliki tubuh ramping agar bisa berenang secara efisien.
Menurut Cooper, Ukuran sebenarnya megalodon akan terus terbuka untuk diperdebatkan kecuali kerangka fosil lengkap hewan ini ditemukan.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey