Peneliti Klaim Temukan Pesan Misterius ‘Nabi Musa’ di Tambang Kuno Mesir, Terukir di Permukaan Batu
Tulisan itu mungkin berbunyi "zot m'Moshe", bahasa Ibrani yang berarti "Ini dari Musa".
Sebuah interpretasi kontroversial terhadap tanda-tanda yang terukir di dinding tambang kuno di Mesir mungkin bisa membuktikan kebenaran Kitab Keluaran dalam Alkitab.
Peneliti Michael Bar-Ron mengklaim sebuah tulisan Proto-Sinaitik berusia 3.800 tahun, yang ditemukan di Serabit el-Khadim di Semenanjung Sinai, Mesir, mungkin berbunyi “zot m’Moshe”, bahasa Ibrani yang berarti “Ini dari Musa.”
Tulisan itu terukir di permukaan batu di dekat situs bernama Sinai 357 di Tambang L, bagian dari kumpulan lebih dari dua lusin teks Proto-Sinaitik yang pertama kali ditemukan pada awal 1900-an.
Tulisan-tulisan ini, yang merupakan salah satu skrip alfabetik paling awal yang diketahui, kemungkinan dibuat oleh para pekerja penutur bahasa Semitik pada akhir Dinasti ke-12, sekitar tahun 1800 SM.
Alfabet paling awal
Bar-Ron, yang menghabiskan delapan tahun menganalisis gambar resolusi tinggi dan pemindaian 3D, menyatakan frasa tersebut bisa menunjukkan kepengarangan atau dedikasi yang terkait dengan sosok bernama Musa.
Menurut Alkitab, Musa memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir, dan dikenal sebagai penerima Sepuluh Perintah Tuhan di Gunung Sinai. Namun hingga kini, belum ada bukti nyata tentang keberadaannya yang ditemukan.
Dilansir Daily Mail, Senin (28/7), beberapa tulisan di sekitar situs tersebut menyebutkan “El,” dewa yang diasosiasikan dengan penyembahan awal orang Israel, dan menunjukkan tanda-tanda bahwa nama dewi Mesir Hathor telah dirusak, mengisyaratkan ketegangan budaya dan agama.
Para pakar arus utama tetap berhati-hati. Mereka mencatat bahwa meskipun Proto-Sinaitik adalah alfabet paling awal yang diketahui, karakter-karakternya sangat sulit untuk diuraikan.
Dr Thomas Schneider, seorang ahli Mesir Kuno dan profesor di University of British Columbia, menyebut klaim tersebut “sepenuhnya tidak terbukti dan menyesatkan,” dan memperingatkan bahwa identifikasi huruf yang “sewenang-wenang” bisa mengaburkan sejarah kuno.
Namun, pembimbing akademik Bar-Ron, Dr Pieter van der Veen, mendukung pembacaan tersebut, menyatakan, “Kamu benar sekali, saya juga membacanya seperti itu, ini bukan hasil imajinasi!”
Studi Bar-Ron, yang belum dipublikasikan di jurnal ilmiah peer-review, meneliti ulang 22 tulisan rumit dari tambang batu pirus kuno, yang berasal dari masa pemerintahan Firaun Amenemhat III.
Firaun dalam Kitab Keluaran
Beberapa cendekiawan sebelumnya mengusulkan Amenemhat III, yang dikenal karena proyek pembangunan besar-besarannya, bisa jadi adalah firaun yang disebutkan dalam Kitab Keluaran.
Bahasa yang digunakan dalam ukiran tersebut tampaknya merupakan bentuk awal Semitik Barat Laut, yang sangat mirip dengan bahasa Ibrani Alkitabiah, dan menunjukkan jejak bahasa Aram.
Dengan menggunakan gambar resolusi tinggi dan cetakan 3D yang dipelajari di Museum Semitik Harvard, Bar-Ron mengelompokkan tulisan-tulisan tersebut ke dalam lima kategori atau “clade,” termasuk dedikasi kepada dewi Baʿalat, doa kepada Tuhan Ibrani El, serta ukiran hibrida yang menunjukkan tanda-tanda kerusakan dan modifikasi di kemudian hari.
Konflik agama
Beberapa ukiran yang menghormati Baʿalat tampaknya telah dicoret oleh penyembah El, kemungkinan mencerminkan konflik agama di antara para pekerja penutur Semitik.
Tulisan itu juga memuat referensi tentang perbudakan, pengawas, dan penolakan dramatis terhadap kultus Baʿalat, yang menurut para ilmuwan bisa menandakan adanya pemberontakan dan kepergian para pekerja dari lokasi tersebut.
Sebuah kuil Baʿalat yang terbakar, yang dibangun oleh Amenemhat III, dan referensi tentang ‘Gerbang Si Terkutuk,’ yang kemungkinan merujuk pada gerbang milik Firaun, mengisyaratkan adanya perlawanan terhadap kekuasaan Mesir.