Mahasiswa Ikut Lomba Menulis Lawan AI, Hasilnya Sangat Tak Terduga
Tulisan siapa yang lebih bagus? Manusia atau mesin AI?
Meningkatnya penggunaan AI seperti ChatGPT memicu kekhawatiran di ruang kelas di seluruh dunia. Dengan beberapa klik, siapa pun dapat membuat esai yang tampak bagus, koheren, dan tepat secara akademis.
Namun, dapatkah mesin benar-benar meniru nuansa pemikiran manusia pada tiap lembar esai tersebut?
Sebuah studi kolaboratif yang melibatkan University of East Anglia dan Jilin University menghasilkan temuan yang cukup mengejutkan. Studi ini membandingkan kemampuan menulis antara mahasiswa dan kecerdasan buatan (AI), khususnya ChatGPT. Lalu, apa yang membuat studi ini menarik? Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki keunggulan dalam aspek-aspek tertentu.
Para peneliti membandingkan 145 esai yang ditulis oleh mahasiswa dengan 145 esai yang dihasilkan oleh ChatGPT. Penilaian dilakukan berdasarkan "engagement markers". Engagement markers adalah elemen-elemen yang dapat melibatkan pembaca secara emosional dan intelektual. Lalu, bagaimana hasil perbandingan tersebut?
Hasilnya cukup menarik. Esai-esai yang ditulis oleh mahasiswa dinilai lebih hidup. Selain itu, esai mahasiswa juga dinilai lebih menggugah. Lebih jauh lagi, esai mahasiswa juga dinilai lebih mampu menciptakan dialog dengan pembaca.
Para ilmuwan berharap hasil ini akan membantu guru dan badan ujian di seluruh dunia dalam menandai tugas asli buah pikiran manusia atau hasil AI. Detektor perangkat lunak masih menghasilkan hasil positif yang salah, jadi penilaian manusia tetap penting, seperti dikutip dari laman Earth, Rabu (28/5).
Keunggulan Esai Mahasiswa
Menurut Profesor Ken Hyland, seorang pakar pendidikan dari Uni Emirat Arab, esai mahasiswa memiliki keunggulan tertentu. Esai mahasiswa lebih kaya dengan pertanyaan retoris. Selain itu, esai mahasiswa juga lebih kaya dengan komentar pribadi. Lebih jauh lagi, esai mahasiswa juga lebih kaya dengan ajakan langsung kepada pembaca.
Teknik-teknik tersebut, menurut Profesor Hyland, meningkatkan kejelasan dan kekuatan argumen dalam esai. Dengan kata lain, meskipun AI mampu menghasilkan tulisan, tulisan mahasiswa dinilai lebih unggul. Keunggulan ini terutama dalam hal keterlibatan dan daya tarik bagi pembaca.
"Kami menemukan esai yang ditulis oleh mahasiswa sungguhan secara konsisten menampilkan serangkaian strategi keterlibatan yang kaya, sehingga membuatnya lebih interaktif dan persuasif," jelasnya.
Penulis manusia menaburkan karya mereka dengan momen-momen yang ditujukan kepada pembaca, membangun rasa dialog.
"Esai-esai itu penuh dengan pertanyaan retoris, komentar pribadi, dan seruan langsung kepada pembaca – semua teknik yang meningkatkan kejelasan, koneksi, dan menghasilkan argumen yang kuat," paparnya.
Studi ini menyoroti pentingnya kemampuan berpikir kritis dan kreativitas manusia dalam menulis. Kemampuan ini, menurut studi tersebut, masih belum dapat sepenuhnya direplikasi oleh AI saat ini.
Penggunaan AI Mencemaskan
Hayland mengatakan, sejak dirilis ke publik, ChatGPT menimbulkan kecemasan yang cukup besar di kalangan akademisi karena khawatir para mahasiswa akan memanfaatkannya untuk mengerjakan tugas mereka.
"Kekhawatirannya adalah ChatGPT dan alat tulis AI lainnya berpotensi memfasilitasi kecurangan dan dapat melemahkan keterampilan literasi inti dan berpikir kritis. Hal ini terutama terjadi karena kita belum memiliki alat untuk mendeteksi teks yang dibuat AI secara andal," kata dia.
“Di sisi lain, esai ChatGPT, meskipun fasih secara linguistik, lebih impersonal. Esai AI meniru konvensi penulisan akademis tetapi tidak dapat menyuntikkan teks dengan sentuhan personal atau menunjukkan sikap yang jelas."
Tanpa pertanyaan atau komentar yang jelas, hasil kerja mesin terasa datar, kurang menarik, dan tidak memiliki perspektif yang kuat tentang suatu topik.
Meski demikian, para peneliti tidak menolak perangkat AI. Mereka melihatnya sebagai tutor potensial saat digunakan secara terbuka.
"Saat siswa datang ke sekolah, perguruan tinggi, atau universitas, kami tidak hanya mengajari mereka cara menulis, kami mengajari mereka cara berpikir – dan itu adalah sesuatu yang tidak dapat ditiru oleh algoritme mana pun," kata Hyland.
Para peneliti mendesak guru untuk merancang tugas berbasis proses yang memerlukan draf dan refleksi – langkah-langkah yang tidak dapat disediakan oleh chatbot. Melatih siswa untuk mengenali penanda keterlibatan, mereka menambahkan, akan mempertajam keterampilan menulis dan pendeteksian.
Hasil studi ini diterbitkan dalam jurnal Written Communication.