Korban Tewas Akibat Banjir Monsoon Pakistan Bertambah Menjadi 400 Orang, Ribuan Terlantar
Jumlah korban tewas akibat banjir monsoon Pakistan bertambah menjadi 400 Orang, memicu krisis kemanusiaan.
Lebih dari 400 orang dilaporkan tewas akibat banjir bandang dan hujan deras (Monsoon) yang melanda Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan utara, sejak Kamis (14/8/2025). Menurut data dari Otoritas Manajemen Bencana Nasional (NDMA), hingga Selasa (19/8), tercatat 356 korban jiwa berasal dari wilayah tersebut. Hujan Monsoon yang berlangsung selama beberapa hari telah menyebabkan kerusakan yang signifikan, menghanyutkan rumah-rumah, memicu tanah longsor, dan menimbulkan banyak korban jiwa.
Otoritas setempat memprediksi bahwa hujan deras ini akan terus berlanjut hingga akhir pekan, seperti yang dilaporkan oleh CNA pada Rabu (20/8).Selain banyaknya korban jiwa, ratusan orang juga mengalami luka-luka, dan ribuan lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi. Saat ini, tim penyelamat dan masyarakat setempat masih berupaya melakukan pencarian terhadap korban yang selamat. Situasi ini menunjukkan betapa seriusnya dampak dari bencana alam yang terjadi, dan perlunya perhatian lebih dari pihak berwenang untuk menangani krisis ini secara efektif.
Di Desa Dalori yang mengalami kerusakan parah, tim penyelamat bekerja keras menggali lumpur dan reruntuhan untuk menemukan korban yang masih belum ditemukan. Umar Islam, seorang buruh berusia 31 tahun, berbagi kisah duka setelah kehilangan ayahnya pada hari Senin yang lalu. Ia mengungkapkan betapa sulitnya menghadapi musibah yang menimpa keluarganya. "Penderitaan kami tidak bisa dijelaskan. Dalam hitungan menit, semua yang kami punya hilang. Hidup kami hancur," ujarnya. Selain itu, Fazal Akbar, seorang penduduk setempat, menggambarkan banjir tersebut sebagai sesuatu yang "mengerikan".
Dampak Meluas dan Angka Kematian yang Terus Meningkat
Banyak jalan yang terendam air dan putus, sehingga proses evakuasi menjadi sangat sulit. Selain itu, kerusakan pada jaringan telepon mengakibatkan beberapa wilayah terisolasi dari komunikasi. Di bagian selatan Provinsi Sindh, hujan mulai turun pada hari Selasa, namun pejabat setempat telah memberikan peringatan mengenai risiko banjir di kota-kota besar seperti Karachi, yang disebabkan oleh infrastruktur yang tidak memadai. Selama hujan lebat, banyak pengemudi terjebak di jalanan yang tergenang air, dan beberapa area di Karachi mengalami pemadaman listrik akibat sistem drainase yang tua tidak mampu menampung volume air yang tinggi.
Di Provinsi Balochistan, hujan telah merusak antara 40 hingga 50 rumah di dua distrik, serta memutuskan jalan raya utama yang menghubungkan provinsi tersebut dengan Sindh. Hal ini disampaikan oleh pejabat provinsi, Muhammad Younis, yang mengungkapkan bahwa dampak dari hujan sangat signifikan. Kejadian ini menunjukkan betapa rentannya infrastruktur yang ada dalam menghadapi cuaca ekstrem. Dengan kondisi yang semakin memburuk, diperlukan langkah-langkah cepat untuk menangani situasi darurat ini dan membantu masyarakat yang terdampak.
Perubahan Iklim dan Intensitas Monsun yang Memburuk
NDMA memperkirakan bahwa hujan Monsoon akan terus berlangsung hingga hari Sabtu, dengan gelombang hujan selanjutnya diperkirakan akan terjadi pada akhir bulan ini. Sejak tanggal 26 Juni, lebih dari 700 orang dilaporkan meninggal dan hampir 1.000 orang mengalami luka-luka akibat musim hujan yang sedang berlangsung, menurut data resmi yang dirilis.
Pakistan dikenal sebagai salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Pada tahun 2022, banjir akibat Monsoon telah menenggelamkan sepertiga dari wilayah negara tersebut dan menyebabkan sekitar 1.700 orang kehilangan nyawa. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya dampak perubahan iklim terhadap kehidupan masyarakat di Pakistan.