Kim Jong-un Sebut Korea Utara Sedang Siapkan Drone Militer Berbasis AI
Kim Jong Un juga mengajak untuk meningkatkan dan memperluas kemampuan produksi drone secara massal.
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, mengungkapkan bahwa penerapan kecerdasan buatan (AI) menjadi fokus utama dalam upaya modernisasi teknologi persenjataan negara yang semakin maju serta dalam pengembangan kemampuan drone. Pernyataan ini disampaikan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), yang dikutip dari Al Jazeera pada hari Jumat, 19 September 2025.
Dalam kunjungannya ke Kompleks Teknologi Aeronautika Tak Berawak di ibu kota Pyongyang pada tanggal 18 September, Kim mengawasi uji coba performa drone serbaguna dan kendaraan pengintai tak berawak.
Menurut KCNA, ia menekankan urgensi untuk mempercepat pengembangan teknologi kecerdasan buatan yang baru diperkenalkan sebagai prioritas utama untuk meningkatkan sistem senjata tak berawak militer Korea Utara.
Kunjungan Kim ke kompleks aeronautika tersebut terjadi hanya satu minggu setelah ia menyaksikan uji coba mesin roket bahan bakar padat yang dirancang untuk rudal balistik antarbenua, yang ia sebut sebagai langkah signifikan dalam memperluas kemampuan nuklir Korea Utara.
Berdasarkan informasi dari Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat (DIA), kekuatan militer Korea Utara mencakup rudal balistik serta rudal jelajah bersenjata nuklir, dengan persediaan senjata nuklir yang terus meningkat, serta program satelit mata-mata yang masih dalam tahap awal. Diperkirakan, jumlah personel aktif Korea Utara mencapai satu juta tentara, ditambah lebih dari tujuh juta pasukan cadangan dari total populasi sekitar 25,6 juta jiwa. Namun, tingkat kemajuan kecerdasan buatan di negara ini masih belum jelas.
Mengatasi Keterlambatan
Menurut laporan dari kelompok analisis independen 38 North, Korea Utara terlibat dalam penelitian kolaboratif internasional di bidang kecerdasan buatan dengan akademisi yang berasal dari AS, China, dan Korea Selatan, meskipun negara tersebut sedang menghadapi sanksi. Hal ini menunjukkan bahwa Korea Utara telah melakukan langkah-langkah signifikan untuk mengejar ketertinggalan dalam perlombaan AI.
"Upaya tersebut sebagian besar bergantung pada China, salah satu pemain AI paling dominan di dunia," tambah laporan 38 North. Meskipun selama ini Pyongyang bergantung pada China dalam aspek politik dan ekonomi, di bawah kepemimpinan Kim Jong-un, negara ini secara bertahap berusaha memperkuat hubungan dengan Rusia.
Tahun lalu, Kim dan Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani perjanjian pertahanan bersama yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan negara-negara Barat. Sebuah lembaga pemikir asal Jerman baru-baru ini melaporkan bahwa meskipun Korea Utara telah mengirimkan hampir USD 10 miliar dalam bentuk senjata kepada Moskow, serta mengirimkan puluhan ribu tentara untuk membantu pasukan Rusia dalam konflik di Ukraina, negara tersebut hanya menerima imbalan sekitar USD 457 juta hingga USD 1,19 miliar.
Bantuan dari Rusia sebagian besar terdiri dari makanan, bahan bakar, sistem pertahanan udara, dan kemungkinan beberapa pesawat tempur untuk Korea Utara. Pada bulan Mei, DIA melaporkan bahwa Korea Utara kini berada dalam posisi strategis terkuatnya dalam beberapa dekade terakhir, dengan kemampuan militer yang dapat mengancam pasukan AS dan sekutunya di Asia Timur Laut, sekaligus terus meningkatkan kapasitasnya untuk menargetkan langsung AS.