Kerusuhan Pecah di Demo Iran, 7 Nyawa Melayang
Aksi demonstrasi yang berujung jatuhnya korban jiwa di Iran dipicu oleh akumulasi persoalan struktural yang telah lama menekan kehidupan masyarakat.
Gelombang demonstrasi yang disebabkan oleh tekanan ekonomi yang semakin berat di Iran telah meluas ke berbagai provinsi pedesaan pada hari Kamis, yang menyebabkan bentrokan dengan aparat keamanan dan menewaskan sedikitnya tujuh orang.
Insiden ini menjadi catatan korban jiwa pertama sejak protes dimulai, dan berpotensi memicu respons keamanan yang lebih keras dari pemerintah Teheran.
Pihak berwenang melaporkan bahwa dua orang tewas pada Rabu (31/12) dan lima lainnya pada Kamis, dengan lokasi kejadian tersebar di empat kota.
Sebagian besar korban berasal dari daerah yang dihuni oleh kelompok etnis Lur. Meskipun intensitas protes di ibu kota Teheran dilaporkan menurun, unjuk rasa justru semakin meluas ke wilayah lain.
Protes kali ini dianggap sebagai yang terbesar sejak tahun 2022, ketika kematian Mahsa Amini, seorang wanita berusia 22 tahun, dalam tahanan polisi memicu demonstrasi nasional.
Namun, skala dan intensitas protes saat ini dinilai belum menyamai gelombang protes yang terjadi setelah kematian Amini, yang ditahan terkait dengan aturan penggunaan hijab, sebagaimana dikutip dari laman AP News pada hari Jumat (2/1).
Kekerasan yang paling parah dilaporkan terjadi di Azna, Provinsi Lorestan, yang terletak sekitar 300 kilometer barat daya Teheran.
Video yang beredar di internet menunjukkan benda-benda dibakar di jalan, suara tembakan, dan teriakan massa yang mengecam aparat keamanan.
Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan bahwa tiga orang tewas di kota tersebut, sementara sejumlah media pro-reformasi mengutip laporan dari Fars.
Di sisi lain, media pemerintah tampak minim memberitakan kekerasan ini, diduga akibat adanya pembatasan peliputan, sebuah pengalaman yang pernah berujung pada penangkapan jurnalis pada tahun 2022.
Penembakan Demonstran
Di Lordegan, Provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, sebuah video menunjukkan sekelompok orang berkumpul di jalan sementara suara tembakan terdengar di latar belakang.
Menurut laporan dari Fars yang mengutip pejabat anonim, dua orang dilaporkan tewas pada hari Kamis.
Pusat Hak Asasi Manusia Abdorrahman Boroumand yang berlokasi di Washington juga mencatat adanya dua korban jiwa dan mengidentifikasi mereka sebagai para demonstran.
Di sisi lain, di Fuladshahr, Provinsi Isfahan, media pemerintah melaporkan satu kematian pada hari yang sama.
Kelompok aktivis mengaitkan kejadian tersebut dengan penembakan yang dilakukan oleh polisi terhadap para demonstran.
Pada malam Rabu, seorang relawan berusia 21 tahun dari pasukan paramiliter Basij dilaporkan tewas dalam demonstrasi yang berbeda. Kantor berita negara IRNA telah mengonfirmasi kematian tersebut, meskipun tidak merinci penyebabnya.
Media Student News Network yang memiliki kedekatan dengan Basij menyalahkan para demonstran atas insiden tersebut, dengan mengutip pernyataan Wakil Gubernur Lorestan, Saeed Pourali. Ia menyebutkan bahwa 13 anggota Basij dan polisi lainnya mengalami luka-luka.
Pourali juga menegaskan bahwa protes tersebut dipicu oleh tekanan ekonomi, inflasi, dan fluktuasi nilai tukar. "Suara warga harus didengar dengan bijaksana," ujarnya, sambil menyebutkan bahwa 20 orang telah ditangkap di Kouhdasht dan situasi telah kembali kondusif.