Kecam Rencana Israel Ingin Duduki Gaza, Jerman Hentikan Ekspor Senjata
Bagaimana respons Israel terhadap keputusan Jerman, mengingat bahwa kedua negara memiliki hubungan kerja sama di bidang keamanan yang cukup erat?
Kanselir Friedrich Merz telah mengambil langkah penting dengan menghentikan ekspor peralatan militer yang dapat digunakan di Gaza, sebagai respons terhadap kecaman global terhadap rencana Israel untuk menguasai Jalur Gaza secara total. Sebelumnya, Merz secara terbuka mengkritik kebijakan Israel yang dianggap "tidak jelas" serta bencana kemanusiaan yang tengah berlangsung di wilayah tersebut. Meskipun kritik tersebut disampaikan, Merz tidak memberikan rincian mengenai langkah konkret atau perubahan kebijakan yang akan diambil sebagai hasil dari kritik tersebut.
Merz menegaskan bahwa Israel memiliki hak untuk membela diri dari Hamas dan menekankan pentingnya membebaskan sandera, yang menjadi "prioritas tertinggi" bagi Berlin bersamaan dengan upaya untuk mencapai gencatan senjata. Namun, ia juga menambahkan bahwa tindakan militer yang lebih keras yang diambil oleh Kabinet Keamanan Israel membuat pencapaian tujuan tersebut semakin sulit. Oleh karena itu, pemerintah Jerman memutuskan untuk menghentikan sementara persetujuan ekspor peralatan militer yang dapat digunakan di Gaza.
Kanselir Jerman menegaskan bahwa pemerintahnya sangat prihatin terhadap penderitaan yang terus berlanjut bagi penduduk sipil di Gaza. "Dengan serangan militer yang direncanakan, pemerintah Israel memikul tanggung jawab yang lebih besar daripada sebelumnya atas penyediaan kebutuhan bagi penduduk sipil," ungkap Merz pada Jumat (8/8/2025), seperti dilansir The Guardian.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengkritik keputusan tersebut, menyatakan bahwa "Jerman memotivasi terorisme Hamas dengan melarang ekspor senjata ke Israel." Pengumuman dari Jerman ini sejalan dengan kecaman yang disampaikan oleh para pemimpin internasional pada hari yang sama terkait rencana Israel untuk memperluas serangan militernya di Gaza.
Jerman mendesak Israel
Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Jerman meningkatkan ekspor senjata ke Israel dengan signifikan. Parlemen Jerman mengungkapkan pada bulan Juni bahwa izin untuk ekspor peralatan militer ke Israel senilai 485 juta euro telah dikeluarkan antara 7 Oktober 2023 hingga 13 Mei 2025. Selama beberapa dekade, Jerman telah mempertahankan hubungan keamanan yang kuat dengan Israel, yang dianggap sebagai bagian penting dari Staatsrason, inti dari identitas nasional Jerman, mengingat tanggung jawab negara tersebut atas Holocaust.
Dukungan yang kuat ini membuat Jerman menolak untuk mendukung seruan terbaru Uni Eropa yang meminta sanksi terhadap Israel atas kematian warga sipil di Gaza. Ini termasuk penangguhan perjanjian asosiasi yang memberikan syarat perdagangan yang menguntungkan atau mengecualikan Israel dari program pendanaan besar seperti Horizon dan Erasmus. Uni Eropa sendiri menghadapi kritik karena tidak mengambil tindakan terhadap Israel di tengah krisis kemanusiaan yang parah di Gaza, termasuk kelaparan dan blokade terhadap utilitas serta bantuan. Namun, blok tersebut terpecah, dengan Jerman, Hongaria, dan Austria lebih memilih untuk mendukung hak Israel dalam membela diri.
Dalam pernyataannya pada hari Jumat, Merz menekankan pentingnya Israel memberikan akses penuh untuk pengiriman bantuan, termasuk dari organisasi PBB dan lembaga non-pemerintah lainnya, agar situasi kemanusiaan di Gaza dapat diperbaiki secara berkelanjutan. Merz juga menyatakan bahwa Jerman sangat mendesak pemerintah Israel untuk tidak mengambil langkah lebih lanjut menuju aneksasi Tepi Barat. Opini publik di Jerman semakin kritis terhadap Israel, dipicu oleh gambar-gambar mengerikan tentang anak-anak yang kelaparan dan banyaknya korban sipil di Gaza. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh lembaga riset opini Forsa pada akhir Juli menunjukkan bahwa hampir tiga perempat responden percaya bahwa Jerman seharusnya memberikan tekanan lebih besar pada pemerintah Israel terkait situasi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan di Gaza.