Jerman Tegas Tak Mau Terlibat Perang Iran, Ini Alasannya
Mengapa Jerman enggan terlibat dalam konflik di Iran?
Hubungan antara Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terbilang "panas-dingin". Setahun lalu, Merz dikenal sebagai pengkritik keras Trump. Namun, setelah itu, ada fase di mana Merz mendekati presiden AS tersebut, sehingga lawan politiknya sempat menuduhnya berupaya untuk menyenangkan Trump.
Puncak dari pendekatan ini terjadi ketika Merz melakukan kunjungan ke Gedung Putih sekitar dua minggu lalu. Dalam pertemuan tersebut, Merz menyatakan bahwa ia memahami serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang menargetkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Saat itu, Merz menyatakan bahwa ia tidak ingin 'menguliahi' Trump tentang isu hukum internasional. Namun, saat ini, sikap kanselir tersebut berubah, sebagaimana dikutip dari laman DW Indonesia pada Rabu (18/3/2026).
Menurut Stefan Kornelius, juru bicara pemerintah Jerman, "Pemerintah Jerman tidak akan berpartisipasi dalam perang ini," yang disampaikan pada Senin (16/03) waktu setempat. Ia menambahkan bahwa Jerman tidak akan terlibat dalam operasi militer untuk memastikan kelancaran pelayaran di Selat Hormuz.
"Perang ini tidak ada hubungannya dengan NATO. Ini bukan perang NATO," jelas Stefan ketika ditanya oleh wartawan mengenai kemungkinan kontribusi Angkatan Laut Jerman dalam operasi tersebut. Pada hari yang sama, Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menegaskan kembali posisi ini.
"Ini bukan perang kami. Kami tidak memulainya. Kami menginginkan solusi diplomatik dan akhir konflik yang cepat, tetapi penambahan kapal perang di kawasan kemungkinan besar tidak akan membantu mewujudkan hal itu," ujar Boris. Ia juga berpendapat bahwa EU Operation Aspides, operasi militer Uni Eropa untuk merespons serangan kelompok Houthi guna mengamankan jalur pelayaran di Laut Merah, tidak cocok untuk diterapkan di Selat Hormuz.
Trump Ancam NATO
Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social, Trump menulis, "Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terdampak oleh pembatasan ini akan mengirim kapal ke kawasan tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman dari sebuah negara yang 'kepemimpinannya sudah dipenggal'." Trump kemudian memperkuat tuntutannya dengan memperingatkan bahwa NATO akan menghadapi masa depan yang suram jika tidak membantu mengamankan selat yang sangat penting bagi transportasi minyak dunia. "Amerika Serikat juga tidak berkonsultasi dengan kami sebelum perang dimulai. Karena itu kami menilai ini bukan urusan NATO maupun pemerintah Jerman," kata Stefan.
Dampak Kenaikan Harga Energi terhadap Ekonomi
Di tengah dampak yang ditimbulkan oleh konflik di Iran, Merz mengambil pendekatan yang tegas terhadap Trump.
"Yang paling kami khawatirkan adalah nampaknya tidak ada rencana [Amerika Serikat dan Israel] untuk mengakhiri perang dengan cepat dan tegas," ungkap Merz. Ia menekankan bahwa perang yang berkepanjangan tidak sejalan dengan kepentingan Jerman. Merz juga memperingatkan bahwa ada konsekuensi yang luas bagi Eropa, terutama dalam aspek keamanan, pasokan energi, dan migrasi.
Selain itu, lonjakan harga minyak secara signifikan mencerminkan dampak langsung dari konflik tersebut terhadap Jerman, yang menjadi tantangan besar bagi Merz.
Memulihkan ekonomi Jerman adalah prioritas politik utama Merz saat ini. Tanpa adanya faktor perang di Iran, perekonomian Jerman sudah menghadapi kesulitan untuk bangkit dari resesi, dan hanya dapat bertahan berkat investasi besar yang dibiayai oleh utang publik. Banyak perusahaan Jerman yang terpaksa bangkrut atau memilih untuk memindahkan operasional mereka ke luar negeri. Selain itu, tingkat pengangguran terus mengalami peningkatan. Ifo Institute for Economic Research, sebuah lembaga penelitian ekonomi, telah memproyeksikan dampak dari perang di Iran terhadap ekonomi Jerman.
Berdasarkan studi mereka, konflik tersebut diperkirakan akan menghambat pemulihan ekonomi dan meningkatkan inflasi. Studi Ifo menyatakan bahwa jika perang berakhir dalam waktu dekat, pertumbuhan ekonomi Jerman tahun ini dapat berkurang antara 0,2% hingga 0,8%. Namun, jika konflik berlanjut lebih lama, penurunan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 0,4%.
Dilema Merz
Merz menyadari bahwa keberhasilan atau kegagalan pemerintahannya sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi. Krisis internasional dapat berdampak pada pemilihan umum di negara bagian Sachsen-Anhalt dan Mecklenburg-Vorpommern, yang akan berlangsung pada bulan September mendatang.
Di kawasan tersebut, partai sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD) menunjukkan keunggulan yang signifikan berdasarkan hasil jajak pendapat. AfD mendorong agar sanksi terhadap Rusia dihentikan. Dengan fakta bahwa Trump juga ingin menangguhkan sanksi di sektor energi untuk meredakan tekanan pada harga minyak dan gas, posisi AfD semakin diperkuat. Situasi ini menempatkan Merz dalam sebuah dilema yang sulit.
Di satu sisi, ia ingin mempertahankan sanksi terhadap Moskow demi menekan Rusia dalam konflik di Ukraina. Namun, di sisi lain, mayoritas masyarakat Jerman berharap pemerintah mengambil langkah untuk menurunkan harga energi. Jajak pendapat menunjukkan bahwa publik sangat menolak keterlibatan Jerman dalam perang melawan Iran. Ini merupakan dilema kedua yang dihadapi Merz. Ia ingin tampil sebagai sekutu yang dapat diandalkan oleh Amerika Serikat. Setelah berusaha keras membangun hubungan baik dengan Trump, kini ia kembali terpaksa mengambil jarak.
Namun, Merz bukanlah satu-satunya pemimpin di Eropa yang menolak memberikan kontribusi militer dalam perang ini. Inggris dan Prancis, yang juga memiliki kekuatan angkatan laut, bersikap hati-hati dan enggan terlibat dalam konflik yang dimulai oleh Trump tanpa adanya konsolidasi dengan sekutu-sekutu yang telah ada sebelumnya.