Jutaan Warga Iran Menolak Pergi dari Teheran, 'Jika Hutan Terbakar, Hanya Binatang yang Lari, Pohon Punya Akar di Tanah'
Warga Iran di Teheran menunjukkan keteguhan hati dan rasa solidaritas di tengah perang.
Serangan bom Israel yang terus menerus ke Iran nyaris menghantam rumah seorang nenek lanjut usia yang tinggal di kawasan elit Tehran. Nenek itu adalah Mahin, perempuan berusia 80 tahun yang lingkungan sekitar rumahnya dipenuhi asap tebal karena ledakan bom Israel.
Mahin termasuk di antara jutaan penduduk Ibu Kota Iran yang menolak untuk mengungsi.
“Mau ke mana saya? Saya lebih nyaman di rumah,” ucapnya, seperti dikutip Financial Times, Kamis (19/6).
Ledakan bom itu sangat mengguncang tubuhnya hingga ia merasa “seluruh sistem pencernaanku seperti keluar dari mulut.” Meski demikian, ia tetap enggan pergi.
“Saya tidak ingin repot mengemasi dan membongkar barang, lalu mencari makan di tempat lain. Harus ada yang tinggal, menjaga rumah dan menyiram kebun.”
Toko-toko tetap buka
Sejak serangan pertama pada Jumat (13/6), jalanan di Tehran dipenuhi kendaraan warga yang berusaha melarikan diri. Gelombang eksodus baru terjadi setelah Israel perintahkan evakuasi satu distrik, dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (16/6) mendesak semua orang agar meninggalkan Tehran. Meski AS belum terlibat secara militer, Trump dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk ikut campur.
Tidak ada data resmi mengenai jumlah penduduk yang sudah meninggalkan kota berpenduduk 10 juta itu. Aktivitas di Teheran biasanya padat dan sekarang berkurang drastis. Namun, toko sembako, toko roti, bank, pusat medis, dan SPBU tetap buka.
Menurut Kementerian Kesehatan Iran, serangan Israel telah menewaskan atau melukai hampir 1.500 orang. Sebagian penduduk tetap tinggal, sementara yang lainnya berlindung di tempat perlindungan darurat.
Sebagian warga bahkan sudah mulai terbiasa mendengar serangan-serangan itu. Namun mereka tetap menyaksikan ledakan dari atap rumah sambil menerka-nerka lokasi mana yang terkena.
“Begitu terdengar ledakan, tetangga kami langsung ke jendela atau naik ke atap. Seperti menonton kembang api,” ujar seorang warga dari kawasan kelas menengah di Tehran Barat.
Rasa solidaritas
Pegawai bank, rumah sakit, kantor polisi, dan militer diperintahkan tetap tinggal di kota. Warga lain yang memilih bertahan berpegang teguh pada prinsip “Tidak akan meninggalkan tanah kelahiran dalam kondisi apa pun”.
Shirin, seorang pegawai swasta mengatakan, “Saya bukan pendukung Republik Islam, tapi sekarang saatnya saya tunjukan rasa solidaritas untuk Iran,” ujar dia seraya menambahkan, “Trump dan Netanyahu menyuruh kami ‘evakuasi’ seakan-akan mereka peduli pada kesehatan kami. Mana mungkin kota berpenduduk 10 juta bisa dievakuasi? Saya dan suami tidak akan memudahkan jalan mereka. Biar saja mereka membunuh kami.”
Bagi sebagian warga, kekacauan di jalanan lebih menakutkan daripada ancaman serangan Israel. SPBU dipenuhi antrean panjang dan mulai memberlakukan pembatasan BBM. Sementara laporan dari daerah yang dianggap aman menyebutkan gangguan pasokan makanan, membuat warga semakin enggan pergi.
Kemarahan terhadap Israel dan Trump kian meningkat. Terutama setelah peringatan keras mereka soal eskalasi konflik yang dianggap justru memperkuat semangat nasionalisme.
Jantung Iran
“Saya akan tetap tinggal di Teheran. Kota ini adalah jantung Iran,” tulis jurnalis Farid Modarresi di media sosial X. Dia menyebut seruan evakuasi ini sangat berbahaya dan bisa menjadi bagian dari “operasi hibrida yang rumit untuk menduduki wilayah Iran.”
Gelombang solidaritas juga mulai terlihat di dunia maya. Banyak warga yang mengunggah pesan untuk meyakinkan bahwa mereka masih tinggal di Teheran. “Kami masih di Teheran dan siap membantu,” tulis sebuah pusat konseling psikologi setempat.
“Saya justru lebih mencintai Teheran daripada sebelumnya,” tulis seorang ibu rumah tangga di Instagram. Ia mengungkapkan kekecewaannya kepada mereka yang memilih untuk pergi dan menganggap mereka telah memberikan kemenangan kepada pihak musuh.
“Kalau hutan terbakar, hanya binatang yang lari. Pohon punya akar di tanah,” lanjut ibu rumah tangga itu.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey