Ilmuwan Ungkap Bintang Paling Terang dan Panas di Alam Semesta
Bintang terbentuk dari gas yang menyala, seperti hidrogen dan helium, yang terletak di antara bintang-bintang di galaksi.
Bintang merupakan objek langit yang menghasilkan cahaya dan panas melalui proses fusi nuklir di bagian intinya. Objek ini berperan penting sebagai penyusun galaksi. Proses pembentukan bintang terjadi dari gas yang menyala, seperti hidrogen dan helium, yang terdapat di antara bintang-bintang lain di galaksi.
Massa bintang bervariasi, mulai dari 0,08 hingga 200 kali massa matahari di Bima Sakti. Selain itu, bintang dapat memiliki bentuk yang beragam, mulai dari bulat, pipih, hingga menyerupai kacang. Warna bintang pun bervariasi, meskipun cahaya yang dihasilkan umumnya tampak berwarna putih atau kuning pucat.
Salah satu jenis bintang yang ada di alam semesta adalah bintang biru. Baik bintang biru maupun bintang merah terbentuk dari komposisi yang serupa, yaitu sekitar 75 persen hidrogen, 24 persen helium, dan sejumlah kecil elemen lainnya. Warna biru pada bintang menunjukkan suhu dan massa yang dimilikinya. Bintang dengan massa tiga kali lipat atau lebih dari matahari akan terlihat berwarna biru. Ciri khas dari bintang-bintang ini adalah kecerahannya yang luar biasa, sehingga tetap dapat terlihat meskipun berada pada jarak yang sangat jauh.
Dilansir Live Science, Senin (3/2), api biru memiliki suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang berwarna merah. Logam yang dipanaskan juga akan berwarna merah pada awalnya, tetapi saat suhu meningkat, warnanya akan berubah menjadi biru-putih.
Contoh bintang super raksasa biru adalah Rigel yang terletak di rasi bintang Orion, yang memancarkan energi 60 ribu kali lipat lebih besar dari matahari. Meskipun berada pada jarak 860 tahun cahaya, bintang ini tampak sangat terang. Bintang biru termasuk dalam kategori bintang muda, meskipun kecerahannya sangat mencolok dan energi yang dihasilkan sangat besar. Seiring waktu, bintang biru akan bertransformasi menjadi bintang raksasa merah akibat penurunan suhu.
Meskipun memiliki ukuran besar dan suhu tinggi, umur bintang biru tergolong pendek. Tingginya suhu dan luminositas bintang biru menyebabkan mereka terus-menerus memancarkan energi dalam jumlah besar ke ruang angkasa, sehingga cepat menghabiskan bahan bakarnya. Hal ini membuat bintang biru menjadi langka.
Karena umur yang singkat, kita tidak akan pernah melihat 'bintang biru tua'. Namun, kita masih dapat menemukan 'bintang biru yang tersesat' yang berada di deret utama dalam gugus bintang yang sudah sangat tua. Alasan utama mereka masih bersinar adalah karena mereka merupakan bintang-bintang merah tua yang telah diperbaharui oleh materi baru yang jatuh ke dalamnya. Salah satu bintang biru yang masih dapat diamati saat ini meskipun dalam kondisi sekarat adalah Alnilam. Alnilam, yang dikenal juga sebagai Epsilon Orionis, adalah bintang super raksasa biru yang terletak di tengah asterisma Sabuk Orion. Bintang ini merupakan bintang tercerah ke-30 di langit malam serta bintang tercerah keempat di rasi bintang Orion.
Ledakan Supernova
Keindahan dan sinar cemerlang Alnilam menjadikannya salah satu objek langit yang paling menarik untuk diamati. Diprediksi bahwa bintang ini akan mengakhiri siklus hidupnya dengan ledakan supernova yang spektakuler dalam beberapa juta tahun ke depan. Menurut informasi dari laman Space pada Senin (3/2), Alnilam terletak di pusat sabuk Orion, yang merupakan salah satu asterisme paling terkenal di langit malam. Bintang ini dikelilingi oleh dua bintang lainnya, yaitu Alnitak dan Mintaka, yang berada di sisi kiri dan kanannya. Alnilam adalah bintang paling terang, terbesar, dan terjauh di antara ketiga bintang tersebut. Dengan jarak sekitar 1.977 tahun cahaya dari Bumi, Alnilam merupakan satu-satunya bintang tunggal yang ada di sabuk Orion.
Alnilam tidak hanya merupakan bintang paling terang di antara Alnitak dan Mintaka, tetapi juga tergolong sebagai bintang super raksasa biru yang sangat panas dan bercahaya. Ukurannya sekitar 40 kali lipat dari Matahari dan memiliki kecerahan 375.000 kali lebih besar. Posisi Alnilam di tengah Sabuk Orion menjadikannya salah satu landmark langit malam yang paling ikonik dan mudah diingat. Alnilam dikategorikan sebagai bintang super raksasa biru dalam konstelasi Orion, termasuk dalam tipe spektral B0 Ia. Bintang ini memancarkan cahaya putih-biru yang sangat panas, dengan magnitudo tampak sebesar 1,69. Selain itu, Alnilam juga termasuk dalam klasifikasi bintang variabel dari kelas Alpha Cygni, yang menyebabkan kecerahannya bervariasi antara 1,69 hingga -1,74.
Alnilam juga masuk dalam daftar bintang navigasi, yang terdiri dari bintang-bintang paling terang dan mudah dikenali. Di langit malam, Alnilam menempati posisi ke-29 sebagai bintang paling terang. Dalam konstelasi Orion, Alnilam berada di urutan ke-4 setelah Rigel, Betelgeuse, dan Bellatrix. Selain itu, Epsilon Orionis ini menghuni asterisme sabuk Orion yang sangat mudah dikenali. Beberapa ilmuwan memperkirakan, Alnilam akan berakhir sebagai supernova, yaitu ledakan dari bintang super besar. Namun, sebelum mencapai fase akhir tersebut, bintang ini diperkirakan akan berubah menjadi raksasa merah terlebih dahulu. Selain itu, Alnilam juga akan menghasilkan lubang hitam atau black hole di fase akhir kehidupannya nanti.
Meskipun Alnilam adalah bintang super raksasa biru, tidak semua jenis bintang ini berakhir dengan ledakan supernova. Bintang super raksasa biru dengan massa antara 8 hingga 20 kali massa Matahari biasanya berevolusi menjadi bintang neutron, bukan supernova. Diperkirakan, Alnilam memiliki massa sekitar 37 kali massa Matahari, yang menunjukkan bahwa bintang ini mungkin termasuk dalam kategori yang terlalu besar untuk menjadi bintang neutron, tetapi terlalu kecil untuk meledak menjadi supernova.