Asal Usul Cahaya Pertama di Alam Semesta Mulai Terungkap
Para ilmuwan mengungkapkan bahwa galaksi kerdil memiliki peran krusial dalam menciptakan cahaya awal di alam semesta.
Studi terbaru mengungkapkan asal mula cahaya pertama alam semesta. Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Nature pada bulan Februari 2024 dan dipimpin oleh Iryna Chemerynska, seorang astrofisikawan dari Institut d'Astrophysique de Paris, bersama tim penelitinya.
Berdasarkan laporan dari Science Alert pada Kamis (14/11), para peneliti menemukan bahwa galaksi kerdil memiliki peran krusial dalam proses pembentukan cahaya pertama di alam semesta. Dalam studi ini, mereka menjelaskan bahwa cahaya yang pertama kali tersebar bebas di ruang angkasa berasal dari galaksi-galaksi kecil yang dikenal sebagai "galaksi kerdil".
Chemerynska menekankan bahwa galaksi kerdil memiliki peran penting dalam melepaskan foton pengion yang berfungsi untuk membersihkan kabut hidrogen yang sebelumnya menghalangi cahaya untuk bergerak bebas di alam semesta.
Pada fase awal setelah peristiwa Big Bang, ruang angkasa dipenuhi oleh kabut hidrogen dan plasma yang sangat panas dan padat. Dalam kondisi ini, banyak partikel terionisasi, seperti elektron bebas dan proton, yang mengambang di ruang angkasa, sehingga cahaya tidak dapat menembus kabut tersebut.
Namun, sekitar 300.000 tahun setelah Big Bang, saat alam semesta mulai mendingin, proton dan elektron mulai bergabung membentuk gas hidrogen netral serta sedikit helium.
Bintang-bintang pertama yang terbentuk di galaksi kerdil ini kemudian mulai memancarkan radiasi yang kuat, yang berfungsi untuk mengionisasi gas hidrogen. Proses ini, yang dikenal sebagai reionisasi kosmik, menyebabkan gas hidrogen netral berubah menjadi plasma terionisasi, sehingga memungkinkan cahaya mulai menyebar bebas di seluruh alam semesta.
Reionisasi ini tidak hanya mengubah sifat kabut hidrogen, tetapi juga membuka jalan bagi cahaya untuk menyebar, mengungkapkan alam semesta yang sebelumnya tersembunyi dalam kegelapan.
Untuk memverifikasi temuan ini, para peneliti menggunakan teleskop James Webb Space Telescope (JWST) yang sangat canggih. Pengamatan yang dilakukan melalui JWST memungkinkan tim peneliti untuk mendalami lebih lanjut proses reionisasi ini.
Mereka menemukan bahwa galaksi kerdil memang memiliki peran penting dalam memulai proses pembersihan kabut hidrogen, yang pada gilirannya memungkinkan cahaya pertama muncul di alam semesta.