Astronom Saksikan 2 Galaksi Bertabrakan
Kedua galaksi yang bersangkutan terlihat bergerak saling mendekat dengan kecepatan yang sangat tinggi, mencapai sekitar 500 kilometer per detik.
Para astronom telah berhasil merekam sebuah kejadian yang sangat langka dan dramatis, yaitu tabrakan galaksi. Fenomena kosmik ini terjadi lebih dari 11 miliar tahun cahaya dari Bumi ketika semesta masih berada dalam tahap awal, sekitar 2,5 miliar tahun atau 18 persen dari usia saat ini.
Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature dan menjadi langkah signifikan dalam pemahaman ilmiah mengenai evolusi galaksi serta peran lubang hitam supermasif dalam proses pembentukan bintang.
Mengacu pada laporan Sci News yang dirilis pada Jumat (23/5), para ilmuwan memanfaatkan dua instrumen paling canggih di dunia untuk menyelidiki peristiwa ini: Very Large Telescope (VLT) milik European Southern Observatory (ESO) dan teleskop jaringan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) yang berlokasi di Chile.
Dengan menggabungkan data dari kedua teleskop tersebut, mereka berhasil menyaksikan sebuah kisah menakjubkan dari masa lalu yang mereka sebut sebagai "jousting cosmic," yang menggambarkan pertarungan galaksi mirip dengan turnamen kesatria di zaman pertengahan.
Kedua galaksi yang terlibat dalam peristiwa ini terlihat saling mendekat dengan kecepatan yang sangat tinggi, mencapai sekitar 500 kilometer per detik. Namun, yang terjadi bukanlah tabrakan frontal.
Sebaliknya, galaksi-galaksi ini hanya bersentuhan secara lembut, kemudian mundur, dan bersiap untuk interaksi selanjutnya. Fenomena ini bukan hanya sekadar tabrakan, tetapi merupakan serangkaian interaksi yang penuh energi, yang memicu perubahan dramatis dalam struktur internal masing-masing galaksi.
Dalam pertempuran ini, salah satu galaksi memiliki keunggulan yang signifikan, yaitu sebuah quasar. Quasar adalah inti galaksi yang sangat terang karena didorong oleh lubang hitam supermasif yang aktif.
Quasar yang dikenal dengan nama J012555.11-012925.00 memancarkan radiasi energi tinggi yang sangat kuat, yang dapat mengganggu dan menghancurkan awan gas serta debu di galaksi tetangga, sehingga memutus pasokan bahan baku utama untuk pembentukan bintang baru.
Masalah yang terjadi pada Awan Molekul
Quasar memancarkan radiasi yang sangat kuat, yang dapat mengganggu awan molekul di sekitarnya. Akibatnya, hanya bagian-bagian yang paling padat dan kecil yang tersisa, yang kemungkinan besar tidak cukup untuk memicu proses kelahiran bintang baru.
Dengan demikian, galaksi yang terpengaruh akan kehilangan kemampuan alaminya untuk menghasilkan bintang. Fenomena ini menandakan perubahan drastis yang menunjukkan transisi dari galaksi yang aktif menjadi galaksi yang pasif.
Di sisi lain, galaksi yang menjadi tempat tinggal quasar justru mengalami peningkatan pasokan gas ke pusatnya akibat tabrakan dengan galaksi lain. Gas-gas tersebut mengalir menuju lubang hitam supermasif, memberikan "bahan bakar" tambahan yang memungkinkan quasar untuk terus memancarkan energi yang luar biasa.
Fenomena ini mengungkapkan bahwa tabrakan antar galaksi tidak hanya menyebabkan kerusakan, tetapi juga dapat memicu aktivitas inti galaksi yang lebih intensif. Peristiwa semacam ini lebih umum terjadi pada era awal alam semesta, ketika galaksi sering bertumbukan dan quasar lebih banyak ditemukan.
Saat ini, kejadian serupa semakin jarang terjadi. Para ilmuwan harus melihat jauh ke masa lalu melalui cahaya yang telah melakukan perjalanan lebih dari 11 miliar tahun sebelum tiba di bumi. Temuan ini memberikan wawasan baru mengenai evolusi galaksi dan peran penting lubang hitam supermasif dalam membentuk atau bahkan menghentikan kehidupan bintang-bintang.