Ilmuwan Temukan 'Bukit Pasir' di Bawah Antartika, Berada 17 Kilometer di Bawah Lapisan Es
Struktur unik ini ditemukan menggunakan robot kapal selam.
Para ilmuwan menemukan bentuk-bentuk es yang belum pernah ada sebelumnya di bawah Lapisan Es Dotson Antartika. Penemuan ini menggunakan kapal selam otonom bernama Ran.
Menurut penelitian yang dipublikasikan di Science Advances, kapal selam Ran memulai misi selama 27 hari di bawah Lapisan Es Dotson di Antartika Barat, berlayar sejauh lebih dari 1.000 kilometer dan mencapai kedalaman 17 kilometer ke dalam rongga lapisan es.
Berbekal sonar multibeam yang canggih, Ran menangkap visualisasi yang belum pernah terlihat sebelumnya dari sisi bawah gletser. Gambar-gambar ini mengungkap tekstur dan lanskap yang tak terduga – jauh dari dasar yang halus dan tanpa fitur yang diantisipasi para peneliti.
“Dengan berlayar ke dalam rongga, kami dapat memperoleh peta beresolusi tinggi dari sisi bawah es. Ini seperti melihat bagian belakang bulan untuk pertama kalinya,” jelas penulis utama dan ahli kelautan di Universitas Gothenburg, Profesor Anna Wåhlin, dikutip dari Daily Galaxy, Sabtu (29/3).
Alih-alih es yang seragam, bagian bawah es memperlihatkan serangkaian punggung bukit, dataran tinggi, lembah, dan struktur mirip bukit pasir yang menakjubkan. Para ilmuwan juga melihat pusaran dan cekungan aneh di es, yang menelusuri aliran air lelehan di bawah lapisan es.
Robot Hilang
Fitur-fitur ini diyakini merupakan hasil interaksi antara arus bawah laut dan es, yang mungkin dipengaruhi oleh efek Coriolis – pembelokan air yang bergerak yang disebabkan oleh rotasi Bumi. Temuan ini mempertanyakan model pencairan gletser sebelumnya.
“Bagi kami, ini bukan sekadar penemuan baru, tetapi juga peringatan bahwa banyak asumsi sebelumnya tentang pencairan bagian bawah gletser tidak tepat,” tegas Wåhlin.
Ekspedisi tersebut merupakan bagian dari proyek TARSAN, yang berfokus pada proses atmosfer dan samudra yang memengaruhi gletser Thwaites dan Dotson. Tim awalnya berencana melanjutkan misi lanjutan pada Januari tahun lalu. Sayangnya, Ran menghilang di bawah es setelah hanya satu kali penyelaman tambahan, sehingga misi tersebut terpaksa diakhiri.
"Meskipun kami memperoleh data yang berharga, kami tidak memperoleh semua yang kami harapkan," kata Wåhlin.
Namun, data awal memberi wawasan yang sangat penting dan menimbulkan pertanyaan mendesak di kalangan ahli glasiologi dan ilmuwan iklim.