Hotel di Dua Negara Maju Ini Tolak Turis Israel yang Ingin Menginap
Sejak genosida Israel di Gaza dimulai, seruan untuk memboikot lembaga-lembaga yang memiliki hubungan dengan Israel telah berkembang di seluruh dunia.
Di tengah meningkatnya kecaman internasional terhadap genosida Israel di Jalur Gaza, Palestina, sejumlah hotel di Norwegia dan Jepang melakukan aksi nyata yang menolak serta memboikot turis Israel yang ingin menginap.
Di Norwegia, sebuah hotel paling populer di Skandinavia yang terletak di desa Geiranger, wilayah barat Norwegia, menolak untuk menerima turis asal Israel. Hal ini terjadi karena boikot nasional negara tersebut terhadap Israel yang diluncurkan pekan lalu oleh serikat pekerja terbesar di Norwegia, yakni Konfederasi Serikat Buruh Norwegia (LO). Penolakan ini merupakan respons atas genosida yang dilakukan Israel di Gaza.
Hotel tersebut menyampaikan, pihaknya perlu berkonsultasi dengan serikat pekerja sebelum memutuskan apakah dapat menerima tamu dari kalangan pemukim Israel sesuai pedoman baru boikot tersebut.
“Organisasi Buruh Norwegia (LO) akan segera menerapkan boikot yang akan berdampak pada turis Israel dan produk-produk asal Israel karena situasi bencana kemanusiaan yang terjadi di Gaza,” demikian balasan hotel terhadap turis Israel yang ingin memesan kamar, seperti dikutip dari Quds News Network, Rabu (14/5).
“Kami perlu memberitahu Anda bahwa staf kami tergabung dalam serikat pekerja LO, dan mereka tidak akan melanggar keputusan boikot ini. Xaya harus berkonsultasi dengan asosiasi pengusaha karena kami menganggap ini sebagai situasi force majeure,” lanjut pernyatan hotel.
Pekan lalu, serikat LO Norwegia secara resmi menyetujui boikot ekonomi total terhadap Israel, dan juga menyerukan pemerintah untuk mengalihkan investasi Dana Pensiun Pemerintah (GPFG) dari perusahaan-perusahaan Israel.
Formulir Pernyataan Tak Terlibat Kejahatan Perang
Sebuah hotel di Kyoto, Jepang, meminta seorang turis pemukim Israel menandatangani pernyataan bahwa ia tidak terlibat dalam kejahatan perang di tengah genosida di Gaza. Pihak hotel menjelaskan kebijakan ini berlaku bagi siapapun yang pernah bergabung dalam institusi militer yang dituduh melakukan kejahatan perang oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC), menekankan bahwa kebijakan tersebut menargetkan ‘akuntabilitas’ bukan ‘kebangsaan’.
Insiden tersebut terjadi bulan lalu saat turis asal Israel, seorang mantan petugas medis tempur di angkatan laut cadangan Israel, menginap di Wind Villa Hotel, Kyoto. Ia mengaku diminta menandatangani formulir setelah menunjukkan paspor Israel. Formulir tersebut berisi pernyataan bahwa ia tidak pernah menyerang warga sipil, membunuh tahanan, menyiksa, melakukan kekerasan seksual, terlibat pengungsian paksa, atau penjarahan.
Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth mengatakan turis Israel tersebut menyebut permintaan hotel sebagai hal yang “konyol dan tidak masuk akal,” namun ia tetap menandatangani formulir agar tidak ditolak menginap.
Pada Sabtu (10/5), Duta Besar Israel untuk Jepang mengecam tindakan hotel itu sebagai tindakan “diskriminatif terang-terangan terhadap warga Israel” dan “menyamakan warga negara dengan penjahat perang.”
“Surat pernyataan tamu kami tentang 'Ketidakterlibatan dalam Kejahatan Perang’ tidak didasarkan pada kebangsaan, tetapi berlaku bagi individu yang pernah tergabung dalam organisasi militer yang dinyatakan sebagai pelaku kejahatan perang oleh ICC. Maka, kebijakan ini bukanlah diskriminasi berdasarkan kebangsaan,” jelas pihak hotel dalam pernyataannya.
Pada dasarnya, diskriminasi sejati adalah ketika seseorang diperlakukan tidak adil karena faktor di luar kendalinya, seperti menjadi korban kekerasan, perampasan tanah, penahanan tanpa pengadilan, hanya karena ia adalah orang Palestina, demikian dilansir Quds News Network.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey