Dokter Asing di Gaza Ungkap Kengerian Setelah Israel Tembaki Warga Saat Antre Bantuan: Korban Datang dengan Luka Tembak di Dada & Kepala
Warga Palestina menyebut tindakan Israel ini sebagai 'Pembantaian Witkoff', mengacu pada nama utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witfkoff.
Laporan dari dokter asing mengungkap kondisi mengerikan di rumah sakit Gaza pasca insiden yang disebut sebagai 'Pembantaian Witkoff'. Peristiwa tragis ini terjadi di pusat distribusi bantuan Gaza Humanitarian Foundation (GHF) dekat Rafah. Pasukan Israel menembaki warga sipil yang tengah mengantre bantuan, menyebabkan ratusan orang terluka dan puluhan lainnya terbunuh pada Minggu (1/6).
Para dokter menggambarkan kejadian ini sebagai salah satu peristiwa dengan korban massal paling mengerikan yang pernah mereka saksikan. Rumah sakit di Gaza kewalahan menangani lonjakan pasien yang sangat besar. Insiden ini memicu kemarahan internasional, terutama karena sistem distribusi bantuan yang didukung AS diduga digunakan untuk memancing warga sipil.
Banyak warga Gaza menyebut peristiwa ini sebagai 'Pembantaian Witkoff', merujuk pada Utusan Khusus AS Steven Witkoff yang secara terbuka mendukung sistem bantuan tersebut. Laporan menyebutkan bahwa sebagian besar korban adalah warga sipil yang salah mengira adanya distribusi bantuan.
Dokter gawat daruta Australia, Dr. Ahmed Abu Sweid, yang baru saja tiba di Gaza beberapa hari lalu, mengatakan trauma yang dialaminya tidak seperti yang pernah ia saksikan sebelumnya.
"Hari ini kami mengalami kejadian korban massal," ujarnya, dikutip dari Quds News Network, Selasa (6/3).
"Ratusan orang terluka, puluhan orang dipastikan meninggal. Rumah sakit kewalahan. Kami kehabisan ketamin, perban, dan selang dada," lanjutnya.
"Semuanya adalah korban sipil—luka tembak, pecahan peluru. Beberapa korban datang dalam keadaan meninggal, dengan luka tembak di kepala dan dada."
Situasi Terburuk
Dokter bedah Inggris Dr. Victoria Rose, yang berbicara dari Nasser Medical Complex, mengatakan kondisinya sangat buruk.
"Terjadi penembakan di pusat distribusi bantuan GHF dekat Rafah. Benar-benar pembantaian. Semua tempat tidur penuh dengan orang dengan luka tembak. Ratusan orang datang melalui pintu. Ini sudah melebihi kapasitas."
Dr. Thomas Potokar, seorang dokter bedah Inggris dan veteran dari 16 misi medis di Gaza, mengatakan ini adalah situasi terburuk yang pernah ia lihat di Gaza.
“Selain pengebomam terus-menerus dan banyaknya korban luka, terjadi malnutrisi yang meluas. Luka pasien tidak kunjung sembuh. Semuanya terinfeksi. Sebagian besar rumah sakit di wilayah utara tidak lagi berfungsi. 80 persen pasien kami adalah perempuan dan anak-anak.”
Potokar menekankan kelelahan psikologis dan fisik tim medis Gaza.
“Stafnya benar-benar kelelahan. Infrastrukturnya dihancurkan secara sistematis,” jelasnya.
Dokter mengatakan korban “pembantaian Witkoff” sebagian besar adalah warga sipil yang disesatkan dengan keyakinan bahwa bantuan sedang didistribusikan. Sebaliknya, mereka ditembak mati. Sebagian besar tiba dengan luka tembak tunggal di kepala atau dada—tanda-tanda eksekusi yang disengaja.