Di Ambang Perang, Pakistan Tembak Jatuh Drone India
Ketegangan India-Pakistan meningkat tajam setelah Pakistan menembak jatuh drone India dan memperingatkan potensi serangan militer India yang semakin dekat.
Angkatan Darat Pakistan berhasil menembak jatuh sebuah drone quadcopter India di dekat Garis Kontrol (LoC) di wilayah Manawar, distrik Bhimber, Kashmir yang dikuasai Pakistan pada Selasa (29/4). Insiden ini dikonfirmasi oleh berbagai media Pakistan, termasuk Radio Pakistan dan PTV News, yang mengutip pernyataan resmi dari pihak keamanan. Drone tersebut diduga tengah menjalankan misi pengintaian di wilayah udara Pakistan.
LOC memisahkan wilayah Jammu-Kashmir yang dikuasai India dan Pakistan, yang telah menjadi sengketa antara kedua negara sejak tahun 1940-an. Garis tersebut berfungsi sebagai perbatasan de facto antara India dan Pakistan, tetapi tidak diakui secara hukum sebagai batas internasional.
Laporan tersebut tidak menyebutkan kapan tepatnya insiden itu terjadi, dan New Delhi belum mengonfirmasi masalah tersebut. Namun, militer India mengatakan mereka saling tembak dengan pasukan Pakistan di sepanjang LOC pada malam hari untuk malam kelima berturut-turut.
“Tentara Pakistan menggunakan senjata ringan tanpa alasan yang jelas untuk melintasi Garis Kontrol,” kata militer India, seraya menambahkan bahwa pasukannya “menanggapi provokasi tersebut dengan cara yang terukur dan efektif,” seperti dikutip dari The Cradle, Kamis (1/5).
Tidak ada korban yang dilaporkan dalam insiden ini.
Penembakan drone India ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara India dan Pakistan. Ketegangan tersebut dipicu oleh serangan teroris di Pahalgam, Kashmir yang dikuasai India, pada 22 April 2025, yang mengakibatkan 26 korban jiwa, sebagian besar merupakan turis.
India langsung menuduh Pakistan terlibat dalam serangan tersebut, tuduhan yang dibantah keras Islamabad. Pakistan pun meminta dilakukannya investigasi netral untuk mengungkap dalang di balik serangan tersebut.
Potensi Serangan
Menanggapi situasi yang semakin genting, Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi serangan militer India yang dianggap akan segera terjadi. Asif menyampaikan Pakistan telah meningkatkan kesiapsiagaan militernya sebagai antisipasi terhadap ancaman tersebut yang dinilai bersifat "semakin dekat".
"Kami telah memperkuat pasukan kami karena ini adalah sesuatu yang mendesak sekarang. Jadi dalam situasi itu beberapa keputusan strategis harus diambil, jadi keputusan itu telah diambil," kata Asif kepada Reuters.
Pada 24 April, Pakistan memerintahkan penutupan wilayah udaranya untuk semua maskapai penerbangan milik atau yang dioperasikan oleh India dan penangguhan perdagangan segera setelah New Delhi menurunkan hubungan diplomatik dengan Islamabad dan penangguhan perjanjian mengenai penggunaan perairan sistem Sungai Indus.
Islamabad juga menangguhkan perjanjian bilateral utama dan hubungan lintas batas. Pihak berwenang menambahkan, semua visa yang dikeluarkan untuk warga negara India berdasarkan Skema Pengecualian Visa SAARC (SVES) telah ditangguhkan dan memerintahkan semua warga negara India yang saat ini berada di Pakistan berdasarkan SVES, kecuali peziarah Sikh, untuk meninggalkan negara tersebut dalam waktu 48 jam.
Langkah-langkah tersebut dilaksanakan sebagai tanggapan atas perintah New Delhi pekan lalu yang mengharuskan semua warga negara Pakistan yang berada di negara tersebut segera angkat kaki paling lambat tanggal 29 April.