Buku Kuno Ini Jadi Bestseller 2.000 Tahun Setelah Pertama Kali Diterbitkan, Ditulis Sejarawan Romawi Awal Abad Kedua Masehi
Popularitas buku ini menjadi tren di media sosial sejak 18 bulan lalu.
Sebuah buku kuno berjudul "The Lives of the Caesars" atau "Kehidupan Para Kaisar" menjadi best-seller setelah 2.000 tahun dari sejak pertama kali diterbitkan. Buku ini mengisahkan kehidupan para kaisar Romawi kuno.
Buku ini masuk dalam Daftar Buku Terlaris Non-Fiksi Hardback Sunday Times, capaian langka bagi buku sejarah. Ini merupakan buku klasik nonfiksi bersampul tebal pertama dari Penguin Classics yang masuk dalam daftar tersebut.
Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Latin oleh sejarawan Romawi kuno bernama Suetonius pada awal abad kedua Masehi, yang kemudian diterjemahkan oleh sejarawan Tom Holland. Suetonius menulis buku ini pada masa kekuasaan Kaisar Hadrian. Isi buku ini menceritakan secara rinci tentang kekuasaan Julius Caesar dan 11 kaisar Romawi lainnya, menyuguhkan beragam wawasan politik, skandal pribadi, gaya kepemimpinan, dan analisis psikologi.
Holland menggambarkan penerjemahan karya Suetonius mirip dengan pernikahan—sebuah proses intim yang membutuhkan waktu dan kesabaran.
"Anda menghabiskan waktu yang lama, periode yang panjang dengan seseorang yang Anda pikir akan membuat Anda senang, jadi selalu menyenangkan untuk mengetahui bahwa Anda benar-benar menikmatinya," ujarnya, dikutip dari Greek Reporter, Kamis (13/3).
Popularitas buku ini menjadi tren di media sosial sejak 18 bulan lalu ketika para wanita mulai bertanya kepada para pria seberapa sering mereka memikirkan Kekaisaran Romawi, yang berujung pada diskusi viral tentang pengaruhnya yang bertahan lama. Holland mengaitkan daya tarik Romawi yang bertahan lama dengan ikatan budayanya yang kuat dengan dunia modern.
Sistem Republik
Holland mengatakan Romawi "selalu" menjadi peradaban kuno yang paling menarik bagi orang-orang di Inggris dan Barat. Inggris adalah bagian dari Kekaisaran Romawi, dan alfabet Inggris berasal dari bahasa Latin.
"Kami mungkin merasa lebih dekat dengan orang Romawi daripada dengan orang Mesir atau Asyur," kata Holland.
Holland menambahkan, Romawi membentuk pemahaman modern tentang kekuasaan. Pemerintah Amerika Serikat dibentuk berdasarkan Republik Romawi, tetapi sistem Romawi akhirnya runtuh menjadi pemerintahan satu orang. Pergeseran historis ini memicu perdebatan berkelanjutan tentang demokrasi dan risiko otoritarianisme.
“Sistem Republik dibentuk berdasarkan sistem Romawi kuno, tetapi Republik (Romawi) akhirnya menjadi sistem otokratis. Oleh karena itu, di Amerika, selalu ada kekhawatiran bahwa sistem pemerintahan Republik dapat berakhir menjadi sistem otokratis. Saya kira saat ini, kekhawatiran itu sangat penting,” papar Holland.