Opini: Akulturasi Budaya Romawi, Taliban, Majapahit
Bangunan megah tersebut terbuat dari batu travertin Tivoli, yaitu batu kapur endapan mata air panas dari wilayah Tivoli dekat Roma.
Colosseum Roma dibangun antara tahun 72–80 M dan disempurnakan hingga 96 M pada masa tiga kaisar Dinasti Flavia. Amfiteater terbesar di dunia ini memiliki nama asli Amphitheatrum Flavium. Bangunan megah tersebut terbuat dari batu travertin Tivoli, yaitu batu kapur endapan mata air panas dari wilayah Tivoli dekat Roma.
Travertin dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap tekanan besar, relatif lebih ringan dibanding marmer, tahan terhadap cuaca Mediterania, mudah dipahat, serta berwarna krem-keemasan yang elegan. Karena kualitasnya, travertin menjadi “batu premium” pada masa Romawi dan digunakan dalam berbagai monumen kekaisaran.
Secara historis, Colosseum dibangun setelah perang saudara Romawi sebagai upaya memulihkan legitimasi kekaisaran dan sekaligus menjadi hiburan bagi rakyat.
Ironi di Era Kebangkitan Eropa
Memasuki era Renaisans dan awal Pencerahan, Eropa mengalami kebangkitan intelektual. Ilmu, seni, serta warisan klasik Yunani-Romawi kembali dihargai. Teks-teks kuno dipelajari ulang, proporsi arsitektur klasik dikagumi, dan estetika lama dijadikan standar baru.
Namun ironi sejarah terjadi: justru pada masa kebangkitan itu, banyak monumen Romawi kuno dirusak secara sistematis. Pelakunya bukan bangsa penakluk dari luar, melainkan otoritas religius dan elite Kristen Katolik di Roma sendiri.
Colosseum dijadikan quarry sacrum tambang batu suci. Setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat, bangunan-bangunan kuno memang terbengkalai. Namun kerusakan terbesar terjadi pada abad ke-15 hingga ke-17, saat Roma membangun kembali dirinya sebagai pusat dunia Kristen Katolik.
Blok-blok travertin raksasa yang menopang Colosseum dicabut, diangkut, dan dipasang ulang untuk membangun gereja, basilika, serta istana kepausan. Izin pengambilan batu bahkan diberikan secara resmi oleh Paus. Batu peradaban kuno berubah menjadi bahan peradaban gerejawi.
Secara filsafati, keadaan ini mencerminkan supremasi teologi atas masa lalu. Roma kuno dipandang sebagai dunia pagan sebelum “keselamatan Kristen”, sehingga reruntuhannya tidak dilihat sebagai warisan universal umat manusia, melainkan sisa dunia lama yang harus digantikan oleh dunia iman.
Dalam kerangka berpikir itu, mengambil batu Colosseum untuk gereja bukan dianggap perusakan, melainkan transformasi sakral. Di sinilah paradoksnya: agama yang mewartakan keselamatan universal justru menghapus jejak universalitas masa lampau.
Sindiran terkenal pada masa itu berbunyi: Quod non fecerunt barbari, fecerunt Barberini apa yang tidak dilakukan bangsa barbar, justru dilakukan keluarga Barberini (keluarga Paus Urbanus VIII) yang banyak mengambil batu Colosseum untuk proyek gereja dan istana.
Dari sinilah lahir kesadaran baru tentang etika pelestarian warisan budaya. Monumen kuno tidak lagi dipandang sebagai simbol kafir, melainkan sebagai sejarah manusia yang mengandung makna filosofis bagi peradaban.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa agama dapat menjadi penjaga peradaban, tetapi juga bisa menjadi perusak ketika kehilangan perspektif historis universal. Kedewasaan lahir ketika iman mampu menghormati masa lalu manusia, meskipun berbeda keyakinan.
Taliban dan Pemurnian Melalui Pemusnahan
Pertentangan antara humanisme dan praktik keagamaan juga tampak dalam kasus Taliban di Afghanistan. Pada tahun 2001, rezim Taliban menghancurkan patung Buddha raksasa Bamiyan yang telah berdiri sekitar 1.500 tahun. Alasannya, patung tersebut dianggap berhala yang bertentangan dengan tauhid.
Logika yang digunakan serupa dengan Roma abad pertengahan akhir: masa lalu non-iman dianggap tidak sah. Perbedaannya, Roma masih menggunakan batu Colosseum untuk membangun peradaban baru, sedangkan Taliban memusnahkannya sepenuhnya.
Jika Roma mencerminkan asimilasi dominatif, maka Taliban mencerminkan penghapusan total.
Majapahit dan Akulturasi Integratif
Berbeda dari dua kasus di atas, Nusantara pada era Majapahit (abad ke-14–15) menunjukkan pola lain. Majapahit hidup setelah era Airlangga (abad ke-11) dan Singhasari (abad ke-13). Namun wilayah, tradisi, dan situs lama tetap dihormati.
Bahkan ketika Islam masuk ke Jawa dan memasuki masa Kesultanan Demak, tidak terjadi penghancuran candi karena perubahan dinasti atau agama. Justru muncul sintesis Siwa-Buddha yang harmonis. Raja dipuja dalam dua tradisi, dan situs lama tetap sakral.
Pandangan ini melihat masa lalu sebagai leluhur bukan kafir melainkan generasi terdahulu yang menerangi jalan kehidupan masa kini.
Di wilayah Kudus, yang berada dalam jaringan Kesultanan Demak, strategi dakwah dilakukan tanpa memutus warisan budaya Jawa. Tradisi tidak menyembelih sapi, sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan Hindu, masih dipertahankan; sebagai gantinya digunakan kerbau. Ajaran agama berjalan tanpa melukai ingatan budaya.
Akulturasi menjadi jalan peradaban damai, di mana iman baru hadir tanpa memutus akar sejarah.
Tiga Model Peradaban
Dari tiga kasus tersebut, tampak tiga model peradaban:
Roma era Pencerahan awal: transformasi dominatif masa lalu diambil bahannya, tetapi maknanya diubah.
Taliban Afghanistan: pemusnahan purifikatif masa lalu dihapus karena dianggap sesat.
Majapahit Nusantara: akulturasi integratif masa lalu dihormati sebagai kesinambungan sejarah.
Majapahit memandang sejarah sebagai garis leluhur yang tidak terputus. Hindu-Buddha dan Islam dipahami sebagai spektrum spiritual. Perubahan tidak melahirkan ikonoklasme, melainkan penambahan.
Batu Colosseum yang dipindahkan di Roma, patung Buddha Bamiyan yang diledakkan, dan candi-candi Jawa yang tetap dihormati, semuanya berbicara tentang bagaimana peradaban memandang masa lalunya.
Peradaban yang belum matang melihat masa lalu sebagai ancaman. Peradaban yang matang melihatnya sebagai akar.
Majapahit menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar hidup berdampingan, melainkan menghormati warisan spiritual generasi sebelumnya sebagai bagian dari dirinya sendiri. Agama yang sejati adalah benteng keluhuran peradaban dan setiap perubahan ideologi seharusnya melalui proses akulturasi budaya, bukan penghapusan sejarah.
Roma–Italy
Kamis, 26 Februari 2026
oleh: AM Hendropriyono