3.000 Bom Israel yang Gagal Meledak Dimanfaatkan Hamas Jadi Senjata Rakitan
Ribuan bom Israel yang gagal meledak di Jalur Gaza justru dimanfaatkan Hamas untuk membuat alat peledak rakitan (IED).
Ribuan bom dan amunisi Israel yang gagal meledak selama agresi brutal negara Zionis tersebut kini justru dimanfaatkan oleh Hamas untuk melawan balik. Senjata yang dirancang untuk menghancurkan Hamas, secara tak terduga, menjadi alat tempur yang efektif di tangan musuhnya.
Menurut laporan media berbahasa Ibrani, The Marker, hampir 3.000 peluru yang belum meledak yang ditinggalkan tentara penjajah Israel di Gaza telah menjadi sumber daya penting yang digunakan oleh Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, untuk memproduksi ribuan alat peledak rakitan (IED) yang digunakan untuk menargetkan tank dan kendaraan militer Israel.
Dikutip dari Middle East Monitor, Kamis (8/5), diperkirakan sekitar 20 persen bom yang digunakan Israel di Jalur Gaza gagal meledak. Jumlah ini disebut meningkat secara signifikan. Organisasi lokal dan internasional telah berulang kali memperingatkan tentang bahaya yang ditimbulkan oleh peluru atau bom yang tidak meledak di seluruh Jalur Gaza.
Dampak dari strategi Hamas ini cukup signifikan. Meningkatnya jumlah korban jiwa di pihak pasukan Israel Defense Forces (IDF) menjadi bukti nyata efektivitas IED rakitan tersebut. Selain kerugian nyawa, Israel juga harus menanggung kerugian finansial yang sangat besar. Setiap bom yang gagal meledak dan kemudian digunakan kembali oleh Hamas mewakili kerugian puluhan ribu dolar AS, mengingat harga satu unit bom diperkirakan mencapai angka tersebut. Ironisnya, senjata canggih yang dirancang untuk menghancurkan, justru memperkuat pihak lawan.
Menurut laporan tersebut, penyelidikan yang dilakukan oleh tentara Israel mengungkapkan bahwa banyak ledakan besar yang menargetkan kendaraannya di Gaza, termasuk ledakan tank Januari lalu, berasal dari peluru Angkatan Udara yang tidak meledak yang didaur ulang oleh pejuang Al-Qassam.
Pada akhir tahun 2024, militer Israel telah melancarkan lebih dari 40.000 serangan udara di Jalur Gaza, menurut sumber yang sama.
Badan Penanggulangan Ranjau Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNMAS) memperkirakan, antara lima dan sepuluh persen dari amunisi ini tidak meledak saat terkena benturan.