Fakta atau Mitos, Benarkah Cacar Air Hanya Terjadi Sekali Seumur Hidup
Temukan faktanya dan pelajari tentang peran sistem kekebalan tubuh serta vaksinasi dalam mencegah penyakit ini, termasuk komplikasi seperti cacar ular.
Banyak orang beranggapan bahwa cacar air hanya dialami sekali seumur hidup. Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya akurat. Meskipun umumnya orang hanya mengalami cacar air satu kali, virus varicella-zoster (VZV) yang menyebabkan penyakit ini dapat tetap berada dalam tubuh setelah seseorang sembuh.
Hal ini dapat mengakibatkan munculnya kondisi lain di masa depan, terutama jika sistem kekebalan tubuh seseorang menurun. Dalam sebuah podcast yang dipersembahkan oleh Kementerian Kesehatan RI, dr. He Yeon Asva Nafaisa, M.Sc, Sp.DVE, menjelaskan mitos seputar cacar air dan bagaimana penyakit ini beroperasi dalam tubuh kita.
Cacar air disebabkan oleh virus varicella zoster dan ditandai dengan kemunculan lenting berisi cairan pada kulit. Meskipun terlihat ringan, cacar air sebenarnya sangat mudah menular. "Manifestasinya utamanya itu pada kulit, berupa adanya plenting, plenting isi air pada tubuh dan dia sifatnya sangat menular," ungkap dr. Asva.
Penularan cacar air dapat terjadi melalui udara (airborne), terutama melalui droplet dari saluran pernapasan, atau melalui kontak langsung dengan cairan dari lenting cacar yang pecah. "Dia memang sifatnya airborne. Jadi, dia dapat mudah sekali ditularkan melalui droplet dari saluran pernafasan, maupun bisa juga dari kontak langsung dari pecahan plenting isi air yang ada di tubuh kita," tambah dr. Asva, dilansir Merdeka.com dari berbagai sumber pada, Jum'at(11/4/2025).
Ciri-ciri dan Cara Penyebaran Ruam
Cacar air tidak langsung muncul dengan adanya ruam. Terdapat fase awal yang sering kali tidak disadari. "Biasanya di awal akan muncul yang namanya gejala prodromal. Umumnya kurang lebih dua sampai tiga hari. Umumnya pasien ini akan merasakan adanya demam, kemudian tubuh terasa tidak enak, adanya nyeri kepala, nafsu makan menurun, sakit tenggorokan dan lain sebagainya," jelas dr. Asva. Setelah fase ini, ruam khas cacar air mulai muncul.
Ruam tersebut ditandai dengan kemerahan yang diikuti oleh plenting berisi air. "Ruamnya ini khasnya biasanya dia muncul di area seputaran wajah dan kepala terlebih dahulu, berupa adanya kemerahan, kemudian muncul plenting isi air tadi, yang semakin lama dia bisa menyebar ke hampir seluruh tubuh, ke batang tubuh maupun ke tungkai maupun lengan," katanya. Ini menunjukkan bahwa ruam cacar air dapat menyebar dengan cepat setelah fase awal gejala prodromal berlalu.
Hanya sekali dalam hidup, Tidak selalu demikian
Salah satu pertanyaan penting mengenai cacar air adalah apakah penyakit ini hanya dapat terjadi satu kali dalam hidup. Menurut dr. Asva, umumnya seseorang hanya mengalami cacar air sekali, tetapi hal ini tidak berarti virusnya sepenuhnya hilang dari tubuh. "Kalau di episode pertama, kita akan kena cacar air, terkena si varisela ini. Kemudian biasanya virusnya ini nanti sebagian akan dorman atau tidur, masuk ke dalam salah satu ganglion saraf. Tapi suatu saat dia bisa terjadi yang namanya reaktivasi," jelasnya.
Apabila sistem kekebalan tubuh melemah, virus varicella zoster dapat aktif kembali dan muncul dalam bentuk yang berbeda, yaitu herpes zoster atau cacar api. "Kalau misalnya kondisi tubuh kita, imunnya sedang tidak baik, itu dia suatu saat bisa muncul kembali sesuai dengan area kulit tertentu, atau kita sebutnya dermatom. Nah, itulah yang disebut sebagai herpes zoster," tambah dr. Asva. Ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang hanya mengalami cacar air sekali, virus tersebut dapat kembali muncul di kemudian hari sebagai penyakit yang berbeda, tetapi berasal dari penyebab yang sama.
Anak-anak lebih Berisiko, namun orang Dewasa juga dapat terpengaruh
Cacar air umumnya lebih sering ditemukan pada anak-anak, tetapi bukan berarti orang dewasa tidak berisiko. "Ternyata orang dewasa juga ada beberapa kasus yang kena si cacar air ini," ujar dr. Asva. Risiko yang lebih tinggi biasanya dialami oleh individu yang belum pernah terinfeksi cacar air saat kecil dan belum mendapatkan vaksinasi.
Dengan pemahaman ini, sangat penting bagi masyarakat untuk menyadari bahwa cacar air bukan hanya penyakit yang biasa terjadi pada anak-anak dan bisa diabaikan. Selain memiliki tingkat penularan yang tinggi, komplikasi dari cacar air juga dapat lebih serius pada kelompok usia tertentu atau bagi mereka yang memiliki sistem imun yang lemah.
Pencegahan dan Kesadaran Diri
Vaksinasi dan menjaga daya tahan tubuh adalah langkah pencegahan yang paling efektif terhadap cacar air. "Tekanan imun yang menurun bisa jadi pemicu reaktivasi virus. Karena itu, gaya hidup sehat dan perhatian terhadap kekebalan tubuh menjadi kunci," tegas dr. Asva. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih proaktif dalam menjaga kesehatan dan melakukan vaksinasi untuk melindungi diri dari risiko cacar air.