Cacar Api atau Herpes Zoster Bisa Dicegah Melalui Vaksin, Kenali Faktanya!
Cacar api atau herpes zoster dapat dicegah dengan vaksin. Kenali fakta penting tentang penyakit ini, penyebab, gejala, penularan, dan pencegahannya.
Cacar api, atau herpes zoster, seringkali dianggap remeh di Indonesia. Padahal, penyakit ini disebabkan oleh reaktivasi virus varicella-zoster (VZV), virus yang sama penyebab cacar air. Virus ini bisa aktif kembali dan menyebabkan nyeri hebat serta komplikasi serius.
Banyak yang mengira cacar api hanya penyakit kulit biasa, menyerang lansia, dan bersifat sementara. Lalu, apa saja fakta penting yang perlu diketahui tentang cacar api? Bagaimana cara mencegah dan mengobatinya? Mari kita bahas lebih lanjut.
Penyebab Cacar Api dan Faktor Risikonya
dr. Frieda Sp.DVE, Mitra Dokter Spesialis Halodoc, menjelaskan bahwa cacar api disebabkan oleh reaktivasi virus varicella zoster. Virus ini menetap di jaringan saraf setelah seseorang sembuh dari cacar air. Virus ini bisa aktif kembali di kemudian hari, menyebabkan cacar api.
“Cacar api adalah penyakit yang disebabkan oleh reaktivasi virus varicella zoster, virus yang sama dengan penyebab penyakit cacar air. Setelah seseorang pulih dari cacar air, virus ini tidak hilang sepenuhnya, melainkan bersembunyi di jaringan saraf dan dapat aktif kembali di kemudian hari, sehingga menyebabkan cacar api. Virus ini ditularkan melalui kontak langsung dengan cairan lepuh dengan pasien yang sedang terinfeksi aktif”, jelas dr. Frieda.
Penyebab pasti reaktivasi virus belum diketahui sepenuhnya. Namun, ada beberapa faktor risiko utama, yaitu usia lanjut (di atas 50 tahun) dan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Stres juga diduga dapat meningkatkan risiko terkena cacar api.
Menurut penelitian, risiko penyakit cacar api meningkat signifikan pada individu yang pernah mengalami cacar air sebelumnya, karena virus sudah ada di dalam tubuh mereka. Selain itu, risiko juga meningkat pada individu yang memiliki komorbid, stres berlebihan, berusia 50 tahun ke atas, atau individu dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah.
Sejalan dengan hal tersebut, Halodoc juga mencatat tren kesehatan terkait penyakit cacar api, dengan rata-rata 1.000 konsultasi per bulan. Menariknya, lebih dari 50% pasien yang berkonsultasi berusia antara 25-40 tahun. Dari sisi gender, komposisi pasien adalah 60% perempuan dan 40% laki-laki. “Data-data ini menegaskan bahwa penyakit cacar api dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia maupun jenis kelamin. Untuk itu, Halodoc berkomitmen penuh dalam mendukung edukasi dan mempermudah upaya pencegahan, salah satunya dengan akses vaksinasi cacar api melalui layanan Halodoc Homecare", tambah Timothy Raditya, Head of Product Marketing Halodoc.
Gejala Cacar Api yang Perlu Diwaspadai
Gejala awal cacar api bisa berupa nyeri, gatal, kesemutan, atau mati rasa di satu sisi tubuh. Setelah beberapa hari, ruam kulit muncul, berkembang menjadi lepuhan berisi cairan yang menyakitkan. Ruam biasanya hanya muncul di satu sisi tubuh atau wajah dan mengikuti jalur saraf.
Gejala cacar api dapat berlangsung selama 2-4 minggu. Pada kasus herpes zoster ophthalmicus, mata dan area sekitarnya juga bisa terinfeksi. Penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala-gejala ini.
“Saya memiliki kondisi autoimun dan saat itu sedang mengalami stres berlebihan akibat tekanan pekerjaan, kemungkinan besar inilah yang menjadi pemicunya. Rasa sakit yang saya alami jauh lebih hebat dibandingkan dengan proses melahirkan dengan operasi caesar maupun operasi gigi bungsu," ujar Ibu Natasha Vanessa, seorang penyintas cacar api.
Penularan dan Pencegahan Cacar Api
Cacar api sendiri tidak menular seperti cacar air. Namun, kontak langsung dengan cairan dari lepuhan cacar api dapat menularkan virus varicella-zoster kepada orang yang belum pernah menderita cacar air. Hal ini dapat menyebabkan mereka terkena cacar air, bukan cacar api.
Vaksinasi adalah cara paling efektif untuk mencegah cacar api. Vaksin cacar air (untuk anak-anak) dan vaksin herpes zoster (untuk orang dewasa, terutama di atas 50 tahun) sangat direkomendasikan. Vaksinasi terbukti 97% efektif untuk melindungi diri dari cacar api dan komplikasinya.
Menerapkan gaya hidup sehat, seperti makan bergizi, olahraga teratur, dan istirahat cukup, juga dapat membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh dan mengurangi risiko terkena cacar api.
Pengobatan dan Komplikasi Cacar Api
Pengobatan antivirus, seperti asiklovir, famsiklovir, dan valasiklovir, dapat membantu mempercepat penyembuhan dan mengurangi keparahan gejala cacar api. Obat pereda nyeri juga dapat diberikan untuk mengelola rasa sakit yang seringkali hebat.
Meskipun umumnya tidak mengancam jiwa, cacar api dapat menyebabkan komplikasi seperti neuralgia pasca-herpetik (PHN). PHN adalah nyeri saraf kronis yang dapat berlangsung lama setelah ruam sembuh. Komplikasi ini dapat sangat mengganggu kualitas hidup.
Pentingnya Vaksinasi untuk Mencegah Cacar Api
Dari edukasi ilmiah, tren kesehatan, dan kisah nyata para penyintas, dapat dipahami bahwa cacar api bukanlah penyakit yang bisa disepelekan. Oleh karena itu, kita perlu lebih peduli terhadap upaya pencegahan sebelum terlambat.
Vaksinasi adalah langkah sederhana namun sangat berarti untuk mencegah penderitaan akibat cacar api. Segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang vaksinasi herpes zoster.
Dengan memahami fakta tentang cacar api dan mengambil langkah pencegahan yang tepat, kita dapat melindungi diri dan orang-orang terdekat dari penyakit ini.