Analisis Kerugian Finansial MU Usai Gagal Menjuarai Liga Europa
Manchester United diperkirakan akan mengalami kerugian finansial yang signifikan setelah gagal meraih gelar Liga Europa 2024/2025.
Manchester United (MU) mengalami kerugian yang signifikan. Klub yang dikenal dengan julukan Setan Merah ini akan kehilangan banyak uang akibat kegagalan mereka untuk meraih gelar Liga Europa 2024/2025 pada Kamis (22/5/2025) dini hari WIB. Ambisi MU untuk menyelamatkan musim ini dengan menjuarai Liga Europa berakhir dengan hasil yang mengecewakan.
Tim yang dilatih oleh Ruben Amorim harus menerima kenyataan pahit setelah kalah 0-1 dari Tottenham Hotspur, di mana gol tunggal dicetak oleh Brennan Johnson. Dengan kemenangan ini, Tottenham berhasil meraih trofi pertama mereka sejak tahun 2008 dan memastikan tempat di Liga Champions musim depan. Sementara itu, MU hanya bisa menyesali hasil tersebut.
Dampak dari kekalahan ini bagi Manchester United jauh lebih besar daripada sekadar hasil di atas lapangan. Dengan posisi mereka yang berada di peringkat 16 Liga Inggris, ditambah dengan kekalahan tersebut, MU diprediksi akan kehilangan sejumlah uang yang cukup besar.
Menurut laporan The Athletic pada April 2025, Red Devils diperkirakan akan kehilangan potensi pendapatan sebesar 85 juta (Rp1,86 triliun) jika mereka tidak berhasil lolos ke Liga Champions, karena setiap klub yang berpartisipasi mendapatkan hadiah awal sebesar 15,7 juta (Rp314 miliar).
Rincian kerugian yang dialami oleh MU
Artikel tersebut mengungkapkan bahwa Manchester United (MU) bakal kehilangan tambahan sebesar 17,2 juta (Rp319,6 miliar) jika berhasil menjuarai Liga Europa. Kegagalan mereka untuk lolos ke kompetisi Eropa berarti MU akan kehilangan setidaknya empat pertandingan kandang, yang diperkirakan akan mengurangi pendapatan hari pertandingan lebih dari 20 juta (Rp437,6 miliar). Namun, dampak negatif tidak berhenti di situ. Ketidakhadiran dalam kompetisi sepak bola Eropa berpotensi merugikan Manchester United dari sisi komersial.
Pada musim panas 2023, MU telah memperbarui kemitraan dengan Adidas, produsen perlengkapan olahraga, hingga tahun 2035. Kesepakatan ini bernilai 90 juta (Rp1,96 triliun) per tahun. Namun, seperti yang dilaporkan oleh The Athletic, jumlah tersebut dapat mengalami pengurangan hingga 10 juta (Rp218,8 miliar) setiap musim jika MU tidak berhasil lolos ke kompetisi klub utama Eropa.
Selain itu, Setan Merah juga seharusnya mendapatkan sekitar 8 juta (Rp175 miliar) dari tur pascamusim di Kuala Lumpur dan Hong Kong, tetapi potensi pendapatan ini akan tergerus oleh penalti dari Adidas.
Metode dalam mengurangi kerugian
Bagaimana Manchester United dapat mengurangi kerugian yang dialaminya? Salah satu langkah yang bisa diambil adalah dengan memangkas gaji pemain hingga 25 persen. Pemotongan gaji ini telah diterapkan pada musim ini, mengingat MU tidak berhasil lolos ke Liga Champions 2024/2025.
Selain itu, klub juga dapat mempertimbangkan untuk menjual atau melepas pemain dengan gaji tertinggi. Saat ini, Marcus Rashford yang sedang dipinjamkan ke Aston Villa, masih belum memiliki kepastian mengenai masa depannya.
Di sisi lain, Christian Eriksen, yang dilaporkan menerima gaji sebesar 150.000 per minggu, tampaknya akan meninggalkan klub setelah kontraknya berakhir. Masa depan Jadon Sancho, Antony, dan Victor Lindelof juga menjadi tanda tanya, karena ketiganya dikaitkan dengan kemungkinan pindah dari United. Dengan langkah-langkah tersebut, Manchester United berharap dapat mengatasi masalah keuangan yang dihadapi saat ini.
Sumber: Sportbible, The Athletic