Mengenal Incel: Fenomena Mengerikan yang Diangkat Film Adolescence
Film Adolescence mengangkat fenomena Incel, komunitas online yang dipenuhi kebencian dan misogini, serta kaitannya dengan kekerasan.
Serial Netflix "Adolescence" baru-baru ini menyoroti fenomena Incel, singkatan dari "involuntary celibate", yang menggambarkan individu, terutama laki-laki muda, yang mengalami kesulitan menjalin hubungan romantis dan seksual meskipun menginginkannya. Film ini, terinspirasi dari kasus nyata kekerasan remaja, mengeksplorasi dampak ideologi Incel terhadap kehidupan remaja dan menimbulkan pertanyaan kritis tentang kekerasan laki-laki serta tekanan media sosial.
Istilah "Incel" muncul pada tahun 1990-an, awalnya sebagai forum dukungan daring. Namun, seiring waktu, komunitas ini berkembang menjadi ruang yang penuh dengan kebencian, dehumanisasi perempuan, dan teori konspirasi. Para peneliti berusaha memahami faktor-faktor yang berkontribusi pada kekerasan yang dilakukan oleh sebagian anggota komunitas ini, termasuk faktor sosial dan psikologis seperti rasa terasing, rendah diri, dan ketidakmampuan menjalin relasi sosial yang sehat.
Memahami Akar Masalah Incel
Menurut penelitian Ging (2019) dalam jurnal 'Alphas, Betas, and Incels: Theorizing the Masculinities of the Manosphere', istilah Incel awalnya muncul sebagai bentuk dukungan emosional. Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian komunitas ini berubah menjadi ruang-ruang yang menyebarkan kebencian, misogini, dan ekstremisme daring. Studi Jaki et al. (2020) dalam The Sociological Review menemukan pola retorika yang berulang dalam forum Incel, yaitu glorifikasi kekerasan, dehumanisasi perempuan, dan teori konspirasi yang menyalahkan pihak lain atas kegagalan mereka dalam asmara.
FBI dan lembaga keamanan Kanada telah mengaitkan beberapa serangan kekerasan dengan pelaku yang mengidentifikasi diri sebagai Incel. Studi Hoffman et al. (2020) dalam Journal of Strategic Security menyebutkan penembakan di Toronto (2018) dan California (2014) sebagai contoh ekstrem transformasi ideologi Incel menjadi aksi teror domestik. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya masalah ini dan perlunya pemahaman yang lebih mendalam tentang akar permasalahan tersebut.
Penelitian Baele, Brace, & Coan (2021) dalam jurnal Terrorism and Political Violence menunjukkan bahwa Incel umumnya menunjukkan perasaan terasing dari masyarakat, rasa rendah diri kronis, dan ketidakmampuan membentuk relasi sosial yang sehat. Mereka merasa menjadi korban sistem sosial yang memprioritaskan penampilan fisik, status, dan dominasi laki-laki tertentu.
Dampak Incel dan Perlunya Pencegahan
Ideologi Incel yang ekstrem dan misogini memiliki dampak yang luas dan berbahaya. Selain potensi kekerasan fisik, ideologi ini juga menyebarkan kebencian dan diskriminasi terhadap perempuan. Hal ini menciptakan lingkungan online yang toksik dan dapat mempengaruhi persepsi dan perilaku individu di dunia nyata.
Penting untuk diingat bahwa tidak semua laki-laki yang mengalami aseksualitas atau kesulitan menjalin hubungan mengidentifikasi diri sebagai Incel, dan sebagian besar Incel tidak terlibat dalam kekerasan. Namun, ideologi ekstrem yang dianut sebagian komunitas ini memerlukan perhatian serius. Pencegahan dan intervensi dini sangat penting untuk mencegah eskalasi kekerasan dan mempromosikan pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan mental dan relasi sosial.
Peran keluarga, pendidikan, dan komunitas dalam membentuk pola pikir yang sehat dan mendukung sangat krusial. Selain itu, perlu adanya upaya untuk melawan penyebaran konten kebencian daring dan mempromosikan dialog yang konstruktif untuk mengatasi masalah kesepian dan isolasi sosial.
"Adolescence" sebagai sebuah karya fiksi, berhasil menyoroti kompleksitas masalah Incel dan dampaknya terhadap individu dan masyarakat. Film ini menjadi pengingat penting akan perlunya kesadaran, empati, dan tindakan nyata untuk mengatasi masalah ini.