Tergiur Akun 'Solusi Galbay', Akhirnya Terjebak Skema Bayar Utang dengan Utang
Dia mengaku sempat mengikuti tren yang sempat viral beberapa waktu lalu fenomena 'galbay' alias gagal bayar.
Kegelisahan terus membayangi Tia, seorang perempuan muda yang belum juga bisa melunasi pinjaman onlinenya (pinjol) yang terus membengkak. Dia memiliki utang di dua aplikasi pinjaman legal, yakni Spinjam dan Akulaku.
"Karena bengkaknya bunga tersebut, aku pun mencari cara untuk bisa menyelesaikan pinjamannya," ujar Tia kepada merdeka.com, Selasa.(17/6).
Dengan harapan menemukan jalan keluar, Tia mulai menjelajahi internet. "Waktu itu aku searching di Google ‘cara menyelesaikan Spinjam Shopee’," katanya.
Dia mengaku sempat mengikuti tren yang sempat viral beberapa waktu lalu fenomena 'galbay' alias gagal bayar, di mana banyak pengguna pinjol yang mencari cara-cara ekstrem agar bisa lepas dari jeratan utang.
"Dulu itu sempat banget viral fase orang-orang di mana lagi galbay. Akhirnya bermunculan akun-akun solusi galbay," ungkapnya.
"Seingetku aku tahu akun solusi galbay itu gara-gara aku nyoba searching dengan keyword ‘cara untuk menyelesaikan galbay’. Ada yang bermunculan dengan kata-kata ‘bayar pinjol tanpa uang pribadi’, ‘brantas pinjol’, ‘pinjol lunas tanpa uang pribadi’ seperti itu. Akhirnya aku tertarik lah," jelasnya.
Namun hasil pencarian di Google tak membuahkan hasil yang konkret. Tia hanya diarahkan untuk menghubungi customer service Shopee agar bisa membayar pokok utang tanpa bunga. Karena tidak berhasil, dia pun beralih ke TikTok.
"Akhirnya ketemu akun TikTok yang memberikan solusi galbay dan aku DM akun tersebut," tuturnya.
"DM pertama ke akun TikTok itu adalah ‘Hallo.. apakah bisa menyelesaikan tagihan di Spinjam?," ujar Tia.
Percakapan Berlanjut
Percakapan berlanjut. Dari sana, Tia ditanya tentang aplikasi pinjol yang dimilikinya selain Spinjam dan Akulaku. "Awal-awal ditanya, punya aplikasi pinjaman online apa aja? Terus aku jawab cuma punya Shopee," katanya.
Dia kemudian diajak untuk bertemu langsung untuk menyelesaikan galbay di kedua aplikasi tersebut. "Mereka punya tim di berbagai wilayah, jadi bisa ketemuan," kata Tia.
Namun saat pertemuan berlangsung, situasi mulai berubah, di mana dia diminta Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk didaftarkan di beberapa aplikasi pinjol ilegeal.
"Waktu ketemuan dia minta KTP-ku. Awalnya aku nggak tahu, bodohnya aku ini percaya-percaya saja. Karena dia menjelaskan kalau cara mainnya adalah buka utang di aplikasi ilegal untuk bayar legal," ujarnya.
Tia mengaku identitasnya kemudian digunakan untuk mendaftarkan diri ke empat aplikasi pinjol ilegal. "Dan nggak cuma satu aplikasi, tapi waktu itu empat aplikasi yang terdaftar dengan NIK-ku," ujarnya.
Menurut penjelasan dari pihak solusi galbay, keempat aplikasi itu harus dirawat, dengan artian pengajuan pinjaman harus terus dilakukan dan pembayarannya tidak boleh telat. Mereka menjanjikan akan menanggung pembayaran pinjaman tersebut.
"Dia bilang kalau bayarnya pakai uang dia. Dan pinjaman di ilegal nyentuh Rp3 juta, tapi udah nggak ada tagihan," ucapnya.
Namun skema yang ditawarkan, yakni mengambil pinjaman sebesar Rp500.000 untuk tenor satu bulan. Kemudian mengambil pinjaman lagi sebesar Rp800.000 dan seterusnya. Hal itu dilakukan agar limit di pinjol ilegal meningkat.
"Cara mainnya gini, bulan pertama cair Rp500.000, tenor satu bulan. Jatuh tempo bayar Rp500.000 + bunga. Tapi besoknya pengajuan lagi, meningkat jadi Rp800.000. Tenor satu bulan lagi, berulang kayak gitu, sampai limit pinjamannya besar," jelas Tia.
Kembali Terlilit Utang
Uang hasil pinjaman dari aplikasi ilegal itu kemudian digunakan untuk membayar utang di aplikasi legal. Tapi Tia akhirnya merasa lelah dengan permainan tersebut.
"Pas limit gede, semua dicairin dari ilegal buat bayar aplikasi legal. Tapi aku capek, Kak, ngikuti permainannya dia," ungkap Tia.
Puncaknya, ponsel miliknya rusak dan seluruh kontak hilang. Sehingga kesempatan itu dimanfaatkan oleh Tia untuk kabur dari pihak galbay tersebut.
"Kesempatan aku untuk kabur,” katanya sambil tertawa getir.
Meski begitu, Tia mengaku tidak pernah dihubungi lagi oleh pihak yang dulu mengurus utangnya, meskipun uang mereka sudah banyak yang masuk ke akun pinjol atas namanya. Namun, tekanan dari pinjol tetap datang.
“Akulaku disamperin (debt collector), yang Shopee cuma teror-teror doang,” Tia mengakhiri.