Terdesak Bayar SPP Anak, Ningsih Terpaksa Pinjam Uang Lewat Pinjol: Saya Pinjam Rp2,5 Juta
Komunitas galbay justru banyak berasal dari kalangan muda, yang bisa berdampak buruk terhadap kelangsungan industri.
"Bu, ibu." Suara anak Ningsih terdengar dari balik pintu rumah saat baru pulang sekolah. Dengan langkah cepat, Ningsih segera menghampiri dan menjawab, "Iya, ada apa." Anak semata wayangnya itu langsung memberi kabar bahwa tunggakan SPP selama empat bulan harus segera dilunasi agar bisa mengikuti ujian akhir semester.
Ningsih, seorang ibu rumah tangga berusia 30 tahun, merasa cemas mendengar kabar itu. Sang suami yang bekerja serabutan sebagai kuli bangunan tak memiliki penghasilan tetap.
Tak ingin anaknya gagal ikut ujian, Ningsih pun nekat mengajukan pinjaman melalui aplikasi pinjol sebesar Rp2,5 juta. Dari jumlah itu, Rp2 juta digunakan untuk membayar SPP dan sisanya Rp500 ribu untuk kebutuhan dapur.
"Ya waktu itu langsung minjem Rp2,5 juta. Karena memang lagi nggak ada duit," kata Ningsih kepada merdeka.com, Selasa (17/6).
Ini bukan kali pertama Ningsih meminjam uang lewat pinjol. Namun dia menegaskan dirinya bukan peminjam yang lalai. Dia selalu berusaha keras untuk melunasi pinjaman tepat waktu agar tak terjebak dalam lilitan bunga.
"Mau nggak mau dilunasin kan, itu utang. Pernah telat sebulan, saya langsung kelabakan," jelasnya.
Meski suaminya hanya bekerja sebagai tukang bangunan lepas, Ningsih menyebut bahwa suaminya juga sering membantu tetangga memperbaiki atap bocor, pintu rusak, dan pekerjaan ringan lainnya demi mendapat tambahan uang.
"Ya dari bantu-bantu itu bisa kumpul-kumpul duit dah," imbuhnya.
Tak tinggal diam, Ningsih pun turut membantu keuangan rumah tangga dengan bekerja sebagai kuli gosok di rumah tetangga. "Ada yang sebulan gitu gosok banyak. Ada juga cuma panggil harian. Pokoknya dilakoni aja," tambah dia.
Meski kerap mengajukan pinjaman, Ningsih menegaskan bahwa semua itu bukan untuk gaya hidup atau belanja konsumtif. Dia paham betul kondisi keuangannya dan berusaha bijak dalam menggunakan dana pinjaman.
"Kalau bisa mah nggak mau ambil (pinjol). Tapi tau diri juga ambil pun bukan untuk beli yang macem-macem kaya hp baru atau apa lah," terang dia.
Ningsih mengaku heran dengan maraknya komunitas gagal bayar atau "Galbay" yang belakangan menjadi sorotan. Komunitas ini bahkan membagikan berbagai trik agar anggotanya bisa lolos dari kewajiban membayar utang ke perusahaan pendanaan digital.
"Banyak ya kaya gitu, padahal itu utang," ujar ibu satu anak tersebut.
Fenomena Galbay
Fenomena "Galbay" ini memicu perhatian publik karena dinilai mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak bertanggung jawab dalam membayar cicilan pinjaman online.
Padahal, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pinjaman hingga Desember 2024 mencapai Rp37,524 triliun dari kalangan generasi Z dan milenial.
Rinciannya, peminjam berusia di bawah 19 tahun mencatat angka Rp324 miliar, usia 19-34 tahun mencapai Rp37,20 triliun, usia 35-54 tahun sebesar Rp31,89 triliun, dan usia di atas 54 tahun sebesar Rp3,2 triliun.
Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Entjik Djafar, menyebut bahwa penyaluran pinjol memang masih didominasi oleh generasi Z.
"Iya, sampai sekarang juga masih didominasi oleh Gen Z," kata Entjik kepada merdeka.com, Selasa (17/6).
Namun, dia juga menambahkan komunitas galbay justru banyak berasal dari kalangan muda, yang bisa berdampak buruk terhadap kelangsungan industri.
"Hal ini tentunya sangat merugikan industri kami," pungkasnya.