Tahun 2100 Penduduk Indonesia Diprediksi Tembus 323 Juta
Indonesia diperkirakan akan mencapai puncak populasi mereka dalam dua hingga empat dekade mendatang.
Proyeksi terbaru dari Prospek Populasi Dunia PBB yang diterbitkan pada tahun 2024 melacak prediksi jumlah populasi di tujuh negara terpadat di dunia dari tahun 1975 hingga 2100. Data ini memberikan gambaran tentang puncak populasi masing-masing negara serta waktu terjadinya, dengan estimasi yang digunakan untuk angka-angka setelah 2025.
Meskipun proyeksi ini berdasarkan pola fertilitas, mortalitas, dan migrasi saat ini, penting untuk dicatat bahwa faktor-faktor seperti perang, penyakit, kelaparan, atau perubahan sosial-ekonomi yang signifikan tidak diperhitungkan dalam proyeksi ini.
Dari lima negara terpadat di dunia, China telah mencapai puncak populasi pada tahun 2021. Sementara itu, negara-negara lain seperti Brasil, Indonesia, dan India diperkirakan akan mencapai puncak populasi mereka dalam dua hingga empat dekade mendatang.
Data proyeksi populasi dari negara terpadat
India
Populasi 2025: 1,5 miliar
Tahun Puncak Populasi: 2061
Populasi 2100: 1,7 miliar
China
Populasi 2025: 1,4 miliar
Tahun Puncak Populasi: 2021
Populasi 2100: 1,4 miliar
Amerika Serikat
Populasi 2025: 347 juta
Tahun Puncak Populasi: Tidak tersedia
Populasi 2100: 421 juta
Indonesia
Populasi 2025: 286 juta
Tahun Puncak Populasi: 2058
Populasi 2100: 323 juta
Jumlah populasi Amerika tertolong imigran
Sementara itu, negara-negara seperti Amerika Serikat, Pakistan, dan Nigeria diperkirakan akan terus mengalami pertumbuhan populasi, meskipun lebih lambat, setelah tahun 2100. Proyeksi menunjukkan bahwa tingkat kesuburan di Nigeria dan Pakistan akan tetap berada di atas tingkat penggantian populasi hingga 2080-an.
Angka kesuburan mengacu pada rata-rata jumlah anak yang dimiliki seorang wanita sepanjang hidupnya, dengan angka penggantian populasi sebesar 2,1 anak per wanita, yang diperlukan untuk menjaga populasi tetap stabil. Dengan tingkat kesuburan yang lebih tinggi dari angka penggantian, populasi kedua negara ini diperkirakan akan terus tumbuh, meskipun tanpa mempertimbangkan faktor migrasi.
Sebaliknya, tingkat kesuburan di Amerika Serikat sudah berada di bawah angka penggantian, yang umumnya menunjukkan penurunan populasi. Namun, imigrasi yang terus meningkat di AS diperkirakan akan membantu mengimbangi penurunan populasi alami tersebut.