Tahukah Anda? Geopark Kaldera Toba Raih Kartu Hijau UNESCO Global Geopark, Ini Artinya!
Geopark Kaldera Toba akhirnya meraih status kartu hijau UNESCO Global Geopark. Simak bagaimana pencapaian ini diraih dan apa dampaknya bagi kawasan Danau Toba.
Geopark Kaldera Toba di Sumatera Utara baru saja menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Kawasan ini resmi menerima status kartu hijau keanggotaan UNESCO Global Geopark. Pengumuman penting ini disampaikan pada sidang komite eksekutif ke-11 Global Geopark Network.
Keputusan bersejarah tersebut ditetapkan di Kutralkura, La Araucania, Chile, pada Sabtu, 6 September. General Manager Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark, Azizul Kholis, mengonfirmasi kabar baik ini pada Minggu, 7 September. "Status ini ditetapkan pada sidang komite eksekutif ke-11 Konferensi Global Geopark Network di Kutralkura, La Araucania, Chile, Sabtu (6/9)," ucap Azizul Kholis di Medan, Ahad.
Status kartu hijau ini merupakan pengakuan tertinggi dari UNESCO terhadap pengelolaan Geopark Kaldera Toba. Hal ini juga menunjukkan bahwa standar pengelolaan kawasan telah terpenuhi sesuai protokol UNESCO Global Geopark. Ini adalah langkah maju yang signifikan bagi pariwisata dan konservasi di Danau Toba.
Perjalanan Menuju Kartu Hijau: Dari Kartu Kuning Menuju Pengakuan Dunia
Pencapaian status kartu hijau oleh Geopark Kaldera Toba bukanlah tanpa tantangan. Sebelumnya, dalam rapat UNESCO Global Geopark di Maroko pada 4-5 September 2023, kawasan ini sempat mendapatkan kartu kuning dari UNESCO. Kartu kuning tersebut merupakan peringatan bagi badan pengelola karena beberapa kriteria yang ditetapkan belum terpenuhi sepenuhnya.
UNESCO meminta Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark untuk melakukan perbaikan signifikan sebelum revalidasi dua tahun kemudian. Pihak pengelola segera menindaklanjuti rekomendasi tersebut dengan kerja keras dan kolaborasi dari berbagai pihak.
Azizul Kholis menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas pencapaian ini, yang merupakan hasil kerja keras semua pihak. Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, juga berperan penting dalam mendorong kolaborasi antara tujuh kabupaten di sekitar Danau Toba, yaitu Simalungun, Samosir, Toba, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Karo, dan Dairi.
Selain itu, dukungan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Sumut, pemerintah kabupaten hingga pemerintah pusat turut mendukung upaya menjalankan rekomendasi UNESCO. Keterlibatan aktif ini menjadi kunci sukses dalam memenuhi standar pengelolaan yang diharapkan.
Makna Status Kartu Hijau dan Dampaknya bagi Geopark Kaldera Toba
Status kartu hijau merupakan penilaian tertinggi dalam keanggotaan Global Geopark Network. Dengan status ini, Geopark Kaldera Toba berhak menyandang status UNESCO Global Geopark hingga empat tahun ke depan. Ini adalah indikator bahwa standar pengelolaan kawasan telah terpenuhi secara menyeluruh.
Setiap anggota UNESCO Global Geopark akan ditinjau kembali statusnya setiap empat tahun. Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi pengelolaan dan memastikan keberlanjutan standar yang telah ditetapkan. Geopark Kaldera Toba kini memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan kualitas pengelolaan tersebut.
Azizul berharap capaian ini menjadi batu loncatan untuk kolaborasi pengelolaan yang lebih baik. "Kami berharap capaian ini menjadi batu loncatan untuk melakukan kolaborasi pengelolaan Kaldera Toba ke arah yang lebih baik lagi, dan bisa lebih nyata memberikan manfaat bagi masyarakat lokal," jelas Azizul.
Manfaat nyata bagi masyarakat lokal menjadi fokus utama dari pengelolaan Geopark Kaldera Toba. Peningkatan pariwisata berkelanjutan dan pelestarian alam diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi positif serta menjaga warisan geologi dan budaya kawasan.
Indonesia di Mata UNESCO: Geopark Lain yang Bertahan
Dalam Konferensi Internasional Global Geopark Network, Indonesia tidak hanya berhasil mempertahankan status Geopark Kaldera Toba. Dua taman bumi lainnya di Indonesia juga berhasil mempertahankan keanggotaannya dalam jaringan UNESCO Global Geopark.
Kedua geopark tersebut adalah Geopark Ciletuh - Pelabuhan Ratu di Jawa Barat dan Geopark Rinjani Lombok di Nusa Tenggara Barat. Keberhasilan ketiga geopark ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam pelestarian warisan geologi dan promosi pariwisata berkelanjutan.
Keputusan mengenai status ketiga geopark di Indonesia tersebut dibacakan oleh Setsuya Nakada. Azizul Kholis mengungkapkan, "Keputusan tiga geopark di Indonesia itu dibacakan oleh Setsuya Nakada ditunjuk sebagai pimpinan sidang." Ini menegaskan posisi Indonesia dalam peta geopark global.
Kehadiran delegasi resmi dari berbagai negara dalam konferensi internasional Global Geopark Network menunjukkan pentingnya ajang ini. Indonesia, melalui geopark-geoparknya, terus berkontribusi dalam upaya global untuk melestarikan keanekaragaman geologi dan mempromosikan pendidikan lingkungan.
Sumber: AntaraNews