SKK Migas Bocorkan Proyek Baru Bakal Beroperasi Pekan Depan
Meski begitu, SKK Migas masih merahasiakan lokasi dan operator proyek hulu itu.
Satu proyek hulu minyak dan gas (Migas) dipastikan segera beroperasi secara komersial pada pekan depan.
Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Hudi Suryodipuro, menyatakan bahwa proyek ini merupakan kelanjutan dari proyek yang telah lebih dulu onstream tahun ini. Jadwal resmi beroperasinya direncanakan pada Selasa (29/7) mendatang.
“Ini lanjutan dari proyek yang sudah on-stream sebelumnya, ada penambahan dari situ,” ujar Hudi dalam diskusi media di Jakarta Selatan, Jumat (25/7).
Meski belum merinci lokasi atau operator proyek tersebut, Hudi menegaskan bahwa pengumuman detailnya akan menunggu pernyataan resmi dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
“Bukan saya tidak mau bocorkan, tapi harus tunggu Pak Menteri,” katanya.
4 Proyek Migas Beroperasi di 2025
Hingga pertengahan tahun ini, empat proyek hulu migas non-Proyek Strategis Nasional (non-PSN) resmi beroperasi. Keempatnya menjadi penanda positif di tengah tantangan geopolitik dan transisi energi global.
Proyek pertama adalah Letang Tengah Rawa Expansion milik Medco EP Grissik Ltd yang onstream pada 14 Maret dengan kapasitas 70 juta standar kaki kubik gas per hari (MMscfd).
Selanjutnya, proyek Terubuk dari Medco EP Natuna mulai produksi pada 24 April dengan kapasitas 6.650 barel minyak per hari (bopd) dan 60 MMscfd gas.
Proyek ketiga, Balam GS Upgrade milik Pertamina Hulu Rokan (PHR), mulai beroperasi pada 16 Mei dengan target produksi 31.921 bopd dari kapasitas maksimal 35.000 bopd. Terakhir, proyek BUIC C14 milik ExxonMobil Cepu Ltd resmi berjalan sejak 23 Juni, dengan produksi mencapai 9.700 bopd.
Target 15 Proyek Tahun Ini
SKK Migas menargetkan total 15 proyek hulu migas dapat beroperasi hingga akhir 2025. Dengan empat proyek yang sudah aktif, masih ada 11 proyek yang diharapkan menyusul dalam lima bulan ke depan.
“Kalau tidak ada tambahan proyek, bukan hanya target APBN yang terancam, target internal pun bisa meleset. Karena produksi sumur pasti menurun dari waktu ke waktu,” ujar Hudi.
Ia menekankan pentingnya kesinambungan proyek baru untuk mengimbangi penurunan alami produksi dari lapangan migas yang sudah beroperasi lama.