SGN Siap Pasok Molases, Dukung Pembangunan Pabrik Bioetanol Banyuwangi
PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menegaskan kesiapan pasokan molases untuk kebutuhan pabrik bioetanol Banyuwangi, sebuah proyek strategis yang akan memperkuat energi baru terbarukan dan ekonomi lokal. Proyek ini merupakan bagian dari enam proyek hilirisasi
PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menyatakan kesiapannya untuk memasok molases, bahan baku utama produksi bioetanol, guna mendukung operasional pabrik bioetanol di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Peletakan batu pertama pembangunan pabrik ini telah dilakukan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), menandai langkah maju dalam penguatan industri energi baru dan terbarukan (EBT) berbasis komoditas tebu dalam negeri.
Direktur Utama PT SGN, Mahmudi, menegaskan bahwa pabrik bioetanol ini merupakan bagian integral dari upaya penguatan industri EBT, khususnya yang memanfaatkan potensi tebu domestik. Proyek ini dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektare, hasil kolaborasi strategis antara PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dan PT Perkebunan Nusantara PTPN III melalui sub holding PT SGN.
Pembangunan pabrik bioetanol di Banyuwangi ini merupakan salah satu dari enam proyek hilirisasi nasional yang dijalankan oleh BPI Danantara, mencakup sektor energi, pertanian, pangan, dan mineral. Tujuannya adalah untuk meningkatkan nilai tambah komoditas strategis serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara signifikan.
Kolaborasi Strategis Penguatan Energi Nasional
Pabrik bioetanol di Banyuwangi merupakan wujud nyata kolaborasi antara PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dan PT Perkebunan Nusantara PTPN III, dengan PT SGN sebagai pemasok bahan baku utama. Sinergi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem energi bersih yang lebih kuat di Indonesia.
Proyek hilirisasi ini tidak hanya berfokus pada investasi, tetapi juga bertujuan untuk menciptakan efek berganda, seperti terbukanya lapangan pekerjaan dan pertumbuhan daerah yang berujung pada pertumbuhan ekonomi nasional. Proyek ini menjadi bagian dari agenda transformasi ekonomi nasional untuk memperkuat sektor riil dan meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri.
“Pabrik bioetanol ini menjadi bagian dari penguatan industri energi baru dan terbarukan berbasis komoditas dalam negeri khususnya tebu,” ujar Direktur Utama PT SGN Mahmudi di Surabaya. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen SGN dalam mendukung kemandirian energi Indonesia.
Ketersediaan Bahan Baku dan Dukungan Lokal
Untuk kapasitas produksi sekitar 100 kiloliter bioetanol per hari, dibutuhkan molases mencapai 120 ribu ton per tahun. PT SGN memastikan pihaknya mampu memenuhi kebutuhan tersebut, mengingat produksi molases SGN saat ini mendekati 700 ribu ton per tahun.
Pasokan molases ini disuplai oleh lima pabrik gula SGN yang berlokasi di wilayah Banyuwangi dan sekitarnya. Dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah, pasokan dinilai mencukupi untuk mendukung operasional pabrik bioetanol secara berkelanjutan dan stabil.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani Azwar Anas, menyambut baik pembangunan pabrik bioetanol ini, menekankan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap proyek tersebut. “Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyambut baik pembangunan pabrik bioetanol ini. Kami berharap pengelolaannya dilakukan secara bertanggung jawab dan melibatkan masyarakat lokal,” ujar Ipuk, menyoroti potensi dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar.
Peran Bioetanol dalam Transisi Energi
Agung Wicaksono, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), menjelaskan bahwa Banyuwangi dipilih sebagai lokasi awal pengembangan bioetanol karena memiliki dukungan sumber daya yang memadai. Pemilihan lokasi ini strategis untuk memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku.
Pengembangan bioetanol ini diharapkan dapat memperkuat bauran energi nasional sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya domestik, mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Proyek ini merupakan kolaborasi penting antara Pertamina, PTPN, dan SGN untuk memperkuat ekosistem energi bersih nasional.
Ke depan, hasil produksi bioetanol dari pabrik ini akan disalurkan melalui jaringan Pertamina Patra Niaga. “Kami melihat bioetanol sebagai bagian penting dari transisi energi,” kata Agung, menegaskan visi jangka panjang Pertamina dalam mendukung energi terbarukan.
Sumber: AntaraNews