Samuel Wattimena: Literasi Bukan Sekadar 'Renyah dan Gurih', Kunci Kembangkan Ekonomi Kreatif Daerah
Anggota DPR Samuel Wattimena menekankan pentingnya Literasi Ekonomi Kreatif untuk mengangkat UMKM dan pariwisata daerah, menyoroti lemahnya narasi produk lokal.
Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Samuel Wattimena, menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi utama dalam upaya mengembangkan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata di berbagai daerah. Pernyataan ini disampaikan dalam acara "Bincang Literasi: Ajining Pikir Saka Wacana" yang berlangsung di Semarang pada Sabtu, 19 Oktober.
Menurut Samuel, kelemahan narasi dan literasi menjadi penghambat signifikan bagi kemajuan UMKM dan pariwisata lokal. Ia menyoroti bagaimana deskripsi produk yang monoton dan kurang inovatif gagal menarik perhatian konsumen, sehingga potensi unik daerah tidak terekspos dengan baik.
Oleh karena itu, kegiatan bincang literasi ini diharapkan dapat membangkitkan kesadaran para penulis dan pegiat literasi. Tujuannya adalah untuk menciptakan narasi yang lebih kuat dan beragam guna mendukung pengembangan potensi daerah, serta mempromosikan UMKM dan destinasi pariwisata secara lebih efektif.
Literasi Sebagai Fondasi Daya Saing Produk Lokal
Samuel Wattimena mengkritik cara produk UMKM seringkali dideskripsikan, yang cenderung menggunakan frasa yang sama dan kurang menarik. Ia mencontohkan, "Kayak tadi saya sampaikan, kita melihat berbagai produk UMKM, 'keripik ini renyah dan gurih', 'kacang ini renyah dan gurih', 'Ini renyah dan gurih'. Lho kok enggak ada kata lain sih selain renyah dan gurih?"
Keterbatasan kosakata dan narasi ini membuat produk lokal kehilangan daya tarik dan keunikan di mata konsumen. Padahal, setiap produk memiliki cerita dan keistimewaan tersendiri yang bisa diangkat melalui literasi yang kuat.
Ia membandingkan kondisi ini dengan produk asing seperti boneka Labubu yang sukses besar karena narasi yang dibangun di sekitarnya. "Kita ambil contoh produk asing, Labubu. Produk boneka seperti itu ngantrinya orang beli itu sampai belasan meter. Kenapa? Karena narasi. Dinarasikan dengan benar, bahwa memiliki boneka ini 'you are part of the popularity in the world'," jelasnya.
Contoh ini menunjukkan bahwa kekuatan narasi dapat mengubah persepsi dan nilai suatu produk secara drastis. Literasi ekonomi kreatif yang baik mampu menciptakan daya tarik emosional dan identitas bagi produk.
Membangun Narasi Kuat untuk Pariwisata dan Identitas Daerah
Selain produk UMKM, Samuel juga menyoroti potensi kampung dan desa wisata yang belum tergarap maksimal karena minimnya narasi pendukung. Banyak daerah memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa, namun tidak banyak menarik pengunjung karena kurangnya cerita yang memikat.
Co-Founder Sangkar Wiku Book Club, Maya Dewi, menambahkan bahwa kegiatan "Bincang Literasi" ini mengusung tema "Kembali Mencari Identitas Kota Semarang Melalui Goresan Pena atau Literasi". Tema ini mencerminkan semangat untuk menggali kembali dan menghidupkan identitas khas Kota Semarang yang mungkin terlupakan.
Maya Dewi berharap para pegiat literasi dapat membantu menghidupkan potensi, kekayaan, dan identitas khas Kota Semarang melalui tulisan. "Kan banyak banget yang harus dihidupi, 'diuri-uri'. Ke depan, kita ingin Semarang dinarasikan seperti apa sih? Apakah kota yang banjir atau kota yang menyenangkan untuk ditinggali," ujarnya.
Pentingnya narasi kekinian juga ditekankan oleh Samuel untuk literasi daerah, termasuk Kota Semarang. Ia khawatir jika tidak ada literasi kontemporer, identitas dan karakter era sekarang tidak akan terdokumentasi dengan baik untuk generasi mendatang.
Mendorong Kebangkitan Literasi Kekinian di Daerah
Sebagai legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah I, Samuel Wattimena berharap kegiatan bincang literasi ini dapat diduplikasi di kota-kota lain. "Saya berharap kegiatan hari ini bisa saya duplikasi di beberapa kota lainnya. Jadi, di Salatiga, Kendal dan Kabupaten Semarang," katanya.
Inisiatif ini bertujuan untuk menyadarkan kembali pentingnya literasi dalam mendukung pengembangan daerah secara menyeluruh. Dengan semakin banyaknya pegiat literasi yang terlibat, diharapkan akan muncul narasi-narasi baru yang lebih segar dan relevan.
Maya Dewi juga ingin membangkitkan kesadaran para pegiat literasi untuk aktif membantu menghidupkan potensi dan kekayaan daerah melalui tulisan. Kolaborasi antara penulis, penyair, dan klub buku diharapkan mampu menciptakan gelombang baru literasi yang berdampak positif pada ekonomi kreatif dan pariwisata.
Sumber: AntaraNews