Punya Harta Rp226 Triliun, Pendiri Telegram Bakal Wariskan ke 100 Anak Kandungnya
15 tahun lalu Pavel Durov mulai mendonorkan spermanya di sebuah klinik.
Pendiri Telegram, Pavel Durov, mengumumkan akan mewariskan seluruh kekayaannya yang diperkirakan mencapai USD13,9 miliar atau setara Rp226 triliun kepada lebih dari 100 anak yang diklaim sebagai keturunannya. Hal ini disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan majalah Prancis Le Point, seperti dikutip BBC.
“Mereka semua adalah anak-anakku dan akan memiliki hak yang sama! Aku tidak ingin mereka saling menghancurkan setelah kematianku,” ujar Durov.
Meskipun secara resmi hanya diakui sebagai ayah dari enam anak hasil hubungan dengan tiga pasangan berbeda, Durov mengungkapkan bahwa jumlah anak biologisnya jauh lebih banyak. Ia menyebut bahwa 15 tahun lalu ia mulai mendonorkan spermanya di sebuah klinik untuk membantu seorang teman. Sejak saat itu, klinik tersebut melaporkan telah lahir lebih dari 100 bayi dari donasinya, tersebar di 12 negara.
Durov menambahkan bahwa meskipun anak-anak tersebut akan menjadi ahli waris, mereka tidak akan mendapat akses ke kekayaan sebelum berusia 30 tahun. Ia ingin mereka tumbuh seperti manusia biasa yang belajar membangun diri, tidak bergantung pada kekayaan warisan.
Pernyataan ini muncul di tengah sorotan hukum yang menimpa Durov di Prancis, terkait tuduhan gagal memoderasi konten ilegal di platform Telegram. Tuduhan tersebut termasuk distribusi narkoba, pelecehan seksual anak, dan penipuan.
Menanggapi hal itu, Durov membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya tidak masuk akal.
“Hanya karena penjahat menggunakan layanan kami, bukan berarti penyedia layanan adalah penjahat,” tegasnya.
Kasus Hukum Pavel Durov
Telegram, yang didirikan pada 2013 usai Durov hengkang dari VKontakte karena menolak permintaan sensor dari pemerintah Rusia, kini memiliki lebih dari 1 miliar pengguna aktif bulanan. Aplikasi ini dikenal karena fitur enkripsi dan komitmen terhadap kebebasan berekspresi, namun juga dikritik karena dianggap menjadi wadah bagi konten ekstremis dan ilegal.
Telegram memungkinkan pembentukan grup hingga 200.000 anggota, yang menurut para pakar keamanan siber, menyulitkan proses moderasi.
Awal tahun ini, Durov membela Telegram melalui unggahan di platform X. Ia menyebut perusahaannya telah menggunakan teknologi pemindai sidik jari digital, membentuk tim khusus moderasi, bekerja sama dengan LSM, serta merilis laporan transparansi setiap hari.
“Menuding bahwa Telegram tidak melakukan apa-apa hanyalah manipulasi informasi,” tulis Durov.
Pihak Telegram juga menegaskan bahwa platform mereka tidak menggunakan algoritma sensasional seperti media sosial lain, sehingga kurang efektif untuk menyebarkan konten berbahaya. Juru bicara Telegram menyebut pihaknya setiap hari memblokir puluhan ribu grup dan saluran, serta menghapus jutaan konten ilegal.
Meski begitu, Telegram masih menjadi objek pengawasan di berbagai negara, termasuk Inggris, setelah ditemukan saluran ekstrem kanan yang berperan dalam kerusuhan pada musim panas lalu. Beberapa pihak menilai sistem moderasi Telegram masih tertinggal dibandingkan platform besar lainnya, meski perusahaan membantah klaim tersebut.
“Moderasi kami sudah sesuai atau bahkan melebihi standar industri,” tegas juru bicara Telegram.
Saat ini, Pavel Durov tinggal di Dubai dan memiliki kewarganegaraan ganda Prancis dan Uni Emirat Arab. Di usia 40 tahun, ia mengaku telah menyiapkan surat wasiat karena menyadari risiko dari perjuangannya melawan kekuasaan.
“Membela kebebasan membuat Anda memiliki banyak musuh, termasuk dari negara-negara kuat,” katanya.