PTPN I Perkuat Produksi Tembakau Premium untuk Penuhi Pasar Cerutu Global
PTPN I gencar tingkatkan produksi tembakau premium, jenis Besuki Bawah Naungan dan Deli, demi penuhi permintaan pasar cerutu dunia yang terus melonjak. Simak strategi lengkapnya!
PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I sedang memperkuat produksi tembakau premiumnya untuk memenuhi permintaan industri cerutu dunia. Langkah ini dilakukan melalui peningkatan kualitas, produktivitas, serta perluasan areal tanam.
Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, menjelaskan bahwa dua jenis tembakau unggulan produksi BUMN perkebunan itu, yakni Tembakau Besuki Bawah Naungan (TBBN) dan Tembakau Deli, menjadi buruan produsen cerutu dunia. Keduanya telah lama diakui secara global sebagai bahan baku pembungkus atau wrapper cerutu premium terbaik di dunia.
Peningkatan produksi ini dilakukan saat ini dan akan terus berlanjut, seiring dengan tren positif permintaan ekspor. PTPN I optimistis mampu mengembalikan kejayaan tembakau premium Indonesia di pasar internasional.
Keunggulan Tembakau Premium PTPN I di Pasar Global
PTPN I menyatakan tembakau premium Besuki Bawah Naungan dan Deli memiliki karakter daun elastis, halus, stabilitas bakar baik, warna premium, rasa eksotis, serta aroma khas. Karakteristik ini sangat diminati pasar global.
Kualitas unggulan tersebut menarik minat pembeli dari Eropa, Amerika Latin, dan berbagai kawasan lain. Hal ini memperkuat posisi tembakau premium Indonesia di pasar internasional. Teddy Yunirman Danas menegaskan, "Konsistensi kualitas spesifik inilah yang membuat produk PTPN I menjadi pilihan utama industri cerutu mewah dunia."
Tembakau premium Indonesia merupakan produk eksklusif yang memiliki ketahanan tinggi terhadap gejolak ekonomi. Hal ini membuat permintaan pasar tetap terjaga meski menghadapi berbagai tantangan global.
Strategi Peningkatan Produksi dan Produktivitas Tembakau Premium
Perseroan berkomitmen meningkatkan produksi melalui perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas guna memenuhi permintaan pasar ekspor. PTPN I siap mengembalikan kejayaan tembakau premium Indonesia seiring meningkatnya permintaan ekspor, terutama dari pasar Eropa dan sejumlah negara dengan tingkat konsumsi tinggi.
Data internal perusahaan menunjukkan tren positif volume produksi tembakau premium PTPN I. Pada tahun 2021, volume produksi tercatat 748.638 kilogram (kg). Angka itu sempat turun menjadi 729.544 kg pada 2022, namun kembali naik menjadi 932.837 kg pada 2023. Tren positif ini terus berlanjut di tahun 2024 dengan capaian 974.489 kg, dan tetap terjaga stabil di posisi 972.243 kg pada tahun 2025.
Pertumbuhan volume itu berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas lahan secara konsisten. Produktivitas per hektar melonjak dari 1.238 kg/ha pada 2021, dan sempat 1.090 kg/ha pada 2022, merangkak naik menjadi 1.372 kg/ha pada 2023, serta 1.382 kg/ha pada 2024. Puncaknya, produktivitas lahan berhasil menyentuh angka tertinggi di posisi 1.397 kg/ha pada tahun 2025.
Merespons tingginya permintaan pasar global, PTPN I melalui Divisi Komoditi Kopi dan Aneka Tanaman langsung mengambil langkah ekspansi strategis. Pada musim tanam 2026, perusahaan menanam tembakau hingga 500 hektare (ha). "Langkah konkret ini diambil demi menjamin kontinuitas pasokan dalam memenuhi kontrak-kontrak internasional," kata Teddy. Segmen cerutu premium dinilai memiliki pasar tersendiri yang tetap menjanjikan dan kebal krisis.
Adaptasi dan Mitigasi Tantangan Iklim untuk Kualitas Tembakau Premium
PTPN I tidak menutup mata terhadap tantangan perubahan iklim yang membayangi sektor agribisnis, terutama komoditas tembakau yang merupakan tanaman semusim. Untuk menjaga stabilitas mutu, manajemen menerapkan strategi mitigasi komprehensif dari hulu ke hilir.
Langkah mitigasi itu meliputi adaptasi agroklimat melalui penyesuaian kalender tanam dan penguatan monitoring cuaca secara real-time. Di sisi agronomi, perseroan mengandalkan penggunaan varietas yang adaptif serta peningkatan praktik budidaya berkelanjutan (sustainable farming).
Terakhir, dari aspek jaminan mutu, manajemen memperketat quality control dan menerapkan sistem ketertelusuran (traceability) ketat dari fase pembibitan hingga pascapanen. Melalui komitmen hulu-hilir yang terintegrasi ini, Teddy optimistis tembakau premium Indonesia akan terus mempertahankan posisinya sebagai standar mutu utama dalam industri cerutu global.
Sumber: AntaraNews