Dinas Perinkop UKM Mataram Gelar Pelatihan Sepatu Batik, Dorong Kemandirian Perajin Lokal
Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Perinkop UKM) Kota Mataram menyelenggarakan Pelatihan Sepatu Batik Mataram bagi 50 perajin lokal, lengkap dengan bantuan peralatan untuk meningkatkan kemandirian dan daya saing produk UMKM.
Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Perinkop UKM) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengambil langkah proaktif dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal. Sebanyak 50 perajin sepatu di Kota Mataram mendapatkan pelatihan khusus untuk memproduksi sepatu dengan motif batik khas Mataram. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan daya saing produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah tersebut, khususnya dalam sektor kerajinan sepatu.
Pelatihan ini diselenggarakan oleh Perinkop UKM Kota Mataram pada awal Mei 2026, dengan fokus pada penggabungan keahlian membuat sepatu dengan kekayaan motif batik lokal. Peserta pelatihan, yang sebagian besar berasal dari Kelurahan Turide, sebuah sentra perajin sepatu di Mataram, tidak hanya dibekali ilmu tetapi juga menerima bantuan peralatan. Bantuan ini mencakup mesin jahit sepatu dan kain batik khas Mataram, yang diharapkan dapat menjadi modal awal bagi para perajin untuk memulai atau mengembangkan usaha mereka secara mandiri.
Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Perinkop UKM) Kota Mataram, Jemmy Nelwan, menegaskan pentingnya pendekatan komprehensif dalam pelatihan ini. Menurut Jemmy, pemberian bantuan peralatan secara langsung kepada peserta sesuai dengan jenis pelatihan yang diikuti merupakan kunci untuk memastikan keberlanjutan usaha mereka. Pendekatan ini diharapkan dapat memicu semangat kewirausahaan dan menciptakan produk unggulan khas Kota Mataram yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Fokus Pelatihan dan Dukungan Peralatan untuk Perajin Sepatu Batik
Pelatihan yang diselenggarakan oleh Perinkop UKM Kota Mataram ini dirancang untuk memberikan keterampilan praktis kepada para perajin. Materi utama pelatihan adalah bagaimana mengombinasikan bahan sepatu dengan kain lokal berupa batik Mataram, menciptakan produk yang unik dan memiliki nilai tambah. Selain sepatu, pelatihan ini juga mencakup pembuatan tas dan kerajinan rajutan untuk perlengkapan rumah tangga, seperti tutup kulkas dan tudung saji, memperluas diversifikasi produk yang bisa dihasilkan perajin.
Jemmy Nelwan menekankan bahwa pelatihan ini berbeda dari program biasa karena adanya dukungan konkret berupa peralatan. Setiap peserta tidak hanya menerima transfer ilmu, tetapi juga langsung diberikan mesin jahit sepatu dan kain batik khas Mataram. Bantuan ini krusial sebagai modal awal bagi perajin untuk menunjang usaha mereka secara mandiri, menghilangkan hambatan awal dalam memulai produksi.
Pembagian peserta ke dalam beberapa angkatan juga menjadi strategi agar kegiatan pelatihan bisa lebih fokus dan maksimal. Dengan demikian, instruktur dapat memberikan perhatian lebih kepada setiap peserta, memastikan pemahaman dan penguasaan materi serta keterampilan yang diajarkan. Pendekatan ini diharapkan menghasilkan perajin yang benar-benar kompeten dalam memproduksi sepatu batik dan produk kerajinan lainnya.
Pembinaan Berkelanjutan dan Akses Permodalan
Program pelatihan ini tidak berhenti setelah sesi berakhir; Perinkop UKM Kota Mataram berkomitmen untuk melakukan kontrol dan pembinaan berkelanjutan. Jemmy Nelwan menyatakan bahwa dinas akan terus mendampingi peserta yang menunjukkan keseriusan untuk maju dan berkembang. Pendampingan ini penting untuk memastikan bahwa ilmu dan keterampilan yang didapat dapat diaplikasikan secara efektif dalam pengembangan usaha.
Untuk urusan permodalan, dinas juga mengarahkan para pelaku usaha baru ini untuk bergabung dengan Koperasi Merah Putih. Melalui koperasi tersebut, para wirausaha diharapkan bisa mendapatkan bantuan modal yang diperlukan untuk mengembangkan inovasi produk mereka. Akses permodalan ini vital agar produk yang dihasilkan tidak monoton dan mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Dukungan pasca-pelatihan ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam menciptakan ekosistem usaha yang kondusif bagi UMKM. Dengan pendampingan dan akses modal, perajin diharapkan dapat tumbuh menjadi pelaku usaha mandiri yang mampu menghasilkan karya unggulan khas Kota Mataram. Ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan melalui pengembangan produk lokal.
Sumber Anggaran dan Harapan Pengembangan UMKM
Anggaran untuk program pelatihan dan bantuan peralatan ini bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Jemmy Nelwan menjelaskan bahwa anggaran tersebut dioptimalkan untuk menyediakan instruktur berkualitas dan peralatan yang dibutuhkan masyarakat. Meskipun detail rinci anggaran belum dapat disampaikan karena alasan teknis, Jemmy memastikan bahwa alokasi dana tersebut digunakan secara efektif untuk mendukung tujuan program.
Pemanfaatan DBHCHT untuk program pengembangan UMKM seperti pelatihan sepatu batik ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mengalokasikan dana untuk kesejahteraan masyarakat. Dengan adanya program ini, diharapkan akan lahir lebih banyak inovator dan pelaku usaha yang mampu mengangkat produk lokal Mataram ke kancah yang lebih luas. Hal ini juga mendukung upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penciptaan lapangan kerja di sektor industri kreatif.
Melalui sinergi antara pemerintah, perajin, dan koperasi, diharapkan Kota Mataram dapat terus mengembangkan potensi kerajinan lokalnya. Pelatihan ini bukan hanya tentang membuat sepatu, tetapi juga tentang membangun kemandirian ekonomi dan melestarikan budaya batik khas Mataram. Inisiatif ini menjadi contoh nyata bagaimana dukungan pemerintah dapat mendorong pertumbuhan UMKM dan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews