Program Makan Bergizi Gratis Kunci Daya Saing Hilirisasi Ayam Domestik Hadapi Impor AS
Ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad, mengungkapkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menjadi solusi strategis untuk memperkuat daya saing hilirisasi ayam domestik di tengah rencana impor ayam dari Amerika Serikat.
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menjadi kunci utama. Program ini berpotensi besar dalam memperkuat daya saing hilirisasi ayam domestik. Tujuannya adalah menghadapi rencana impor ayam dari Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari The Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Menurut Tauhid Ahmad, adanya pasokan besar dari dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan MBG akan menciptakan pasar khusus. Pasar ini secara spesifik dapat diisi oleh produk-produk hilirisasi ayam lokal. Hal ini akan memberikan keuntungan signifikan bagi peternak ayam di Indonesia.
Pemerintah diharapkan dapat memanfaatkan program MBG ini untuk mendukung peternak lokal. Dengan demikian, produk ayam domestik bisa menjadi lebih kompetitif di pasar. Ini juga sejalan dengan upaya menjaga keseimbangan pasokan dan harga ayam nasional tanpa mengorbankan industri dalam negeri.
MBG dan Penguatan Pasar Ayam Domestik
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki potensi besar untuk menciptakan permintaan pasar yang stabil bagi produk ayam domestik. Kebutuhan pasokan yang besar untuk program ini dapat menjadi stimulus bagi peternak lokal. Mereka bisa meningkatkan produksi serta kualitas produk ayam yang dihasilkan.
Peluang ini juga mendorong fokus pada hilirisasi produk ayam, tidak hanya menjual ayam mentah. Dengan demikian, nilai tambah produk ayam domestik dapat meningkat. Pemasaran produk olahan ayam juga bisa lebih terarah dan efisien.
Dukungan pemerintah sangat krusial dalam memastikan rantai pasok yang efisien dan terintegrasi. Hal ini meliputi mulai dari hulu hingga hilir dalam industri perunggasan. Sinergi antara program pemerintah dan industri lokal akan memperkuat posisi ayam domestik di pasar.
Strategi Meningkatkan Daya Saing Peternak Lokal
Untuk menghadapi persaingan dengan produk impor, peternak ayam domestik perlu didukung agar lebih kompetitif. Salah satu aspek penting adalah memastikan ketersediaan bahan pakan ternak dengan harga yang lebih terjangkau. Ini akan secara langsung menekan biaya produksi bagi peternak.
Selain itu, dukungan kebijakan pemerintah untuk obat-obatan dan kesehatan ternak juga sangat dibutuhkan. Kesehatan ternak yang terjaga akan mengurangi risiko kerugian. Ini juga akan meningkatkan kualitas produk ayam yang dihasilkan oleh peternak lokal.
Pembangunan infrastruktur peternakan yang memadai juga menjadi kunci. Infrastruktur yang baik dapat meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas. Pada akhirnya, tujuan utama adalah agar harga jual produk ayam domestik bisa lebih murah dibandingkan produk impor, tanpa mengorbankan kualitas.
Dinamika Impor Ayam dalam Perjanjian ART Indonesia-AS
Dalam kerangka Perjanjian Perdagangan Resiprokal (ART) Indonesia – Amerika Serikat, Indonesia mengimpor produk ayam tertentu dari AS. Salah satunya adalah live poultry dalam bentuk Grand Parent Stock (GPS) sebanyak 580.000 ekor. GPS ini sangat vital sebagai sumber genetik utama bagi peternak ayam dalam negeri, mengingat belum ada fasilitas pembibitan GPS di Indonesia.
Selain itu, impor bagian ayam seperti leg quarters, breasts, legs, atau thighs memang tidak dilarang. Namun, impor ini harus memenuhi persyaratan kesehatan hewan, keamanan pangan, kebutuhan tertentu, dan ketentuan teknis yang berlaku. Hal ini menunjukkan pemerintah tetap menjaga standar impor.
Untuk kebutuhan industri makanan domestik, Indonesia juga mengimpor mechanically deboned meat (MDM). MDM ini digunakan sebagai bahan baku pembuatan sosis, nugget, bakso, dan produk olahan lainnya. Estimasi volume impor MDM mencapai sekitar 120.000-150.000 ton per tahun. Pemerintah tetap memprioritaskan perlindungan peternak dalam negeri serta menjaga keseimbangan pasokan dan harga ayam nasional, tanpa kebijakan yang mengorbankan industri domestik.
Sumber: AntaraNews