Penerbitan Obligasi Korporasi 2025 Cetak Rekor Rp198,81 Triliun
PEFINDO catat penerbitan obligasi korporasi hingga November 2025 mencapai Rp198,81 triliun, tertinggi sepanjang sejarah dan diproyeksikan tembus Rp200 triliun.
PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) mencatat kinerja historis pasar obligasi korporasi nasional sepanjang 2025.
Hingga November 2025, nilai penerbitan surat utang korporasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp198,81 triliun, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp126,73 triliun.
Direktur Utama PT PEFINDO Irmawati Amran menyampaikan capaian tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah penerbitan obligasi korporasi di Indonesia.
“Pada tahun 2024 sampai dengan November itu penerbitan surat utangnya itu sebesar Rp126,73 triliun, dan sekarang (2025) sampai November itu penerbitannya sudah mencapai Rp198,81 triliun. Ini adalah surat utang korporasi yang diterbitkan, yang dicatatkan di Bursa Efek Indonesia,” kata Irma dalam Media Forum, Selasa (16/12).
Ia menambahkan, hingga November saja angka penerbitan sudah mencatat level tertinggi.
“Nah, ini merupakan tahun yang kita sebut juga one time high karena sampai November ini (2025) saja sudah mencapai Rp198,81 triliun,” ujarnya.
Total Surat Utang Diproyeksi Tembus Rp200 Triliun
PEFINDO memperkirakan nilai penerbitan akan terus bertambah hingga akhir tahun. Dengan tambahan penerbitan pada Desember, total surat utang korporasi yang tercatat di BEI dipastikan melampaui Rp200 triliun.
“Nanti di Desember kita pastikan akan lebih dari Rp200 triliun surat utang korporasi yang dicatatkan di Bursa Efek Indonesia,” ujar Irma.
Jika menghitung seluruh instrumen surat utang, termasuk yang tidak tercatat di bursa seperti Medium Term Notes (MTN) dan Long Term Notes (LTN), total penerbitan surat utang korporasi pada 2025 telah melampaui Rp200 triliun. Angka tersebut belum termasuk penerbitan Patriot Bond senilai Rp50 triliun.
“Kalau kita gabungkan penerbitan surat utang baik yang tercatat maupun tidak tercatat di BEI seperti LTN dan MTN, total penerbitan surat utang kita di pasar modal sebenarnya melebihi Rp200 triliun,” jelasnya.
Dari sisi struktur pasar, Irma menyebut kualitas pasar obligasi juga membaik. Pada 2024, rasio nilai jatuh tempo terhadap penerbitan mencapai 96 persen. Sementara pada 2025, penerbitan surat utang telah melampaui nilai jatuh tempo.
“Nah ini menunjukkan aktivitas yang sangat baik bagi penerbitan surat utang di Indonesia khususnya di pasar corporate bond di Indonesia,” pungkasnya.