Pasar Bergejolak, Menkeu Purbaya Pastikan Tak Ada Kebijakan Fiskal Aneh
Ia menegaskan tidak akan mengambil kebijakan fiskal yang bersifat eksperimental.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa berupaya menenangkan pasar keuangan yang bereaksi negatif usai dirinya ditunjuk menggantikan Sri Mulyani Indrawati.
Ia menegaskan tidak akan mengambil kebijakan fiskal yang bersifat eksperimental.
“Yang jelas kita tidak akan ambil kebijakan fiskal yang aneh-aneh,” kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (9/9).
Purbaya menyatakan akan memaksimalkan kebijakan fiskal yang ada untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurutnya, sistem pembiayaan program pemerintah akan dibuat lebih cair agar realisasi belanja negara bisa lebih cepat.
“Ke depan, sistem finansial kita akan lebih likuid untuk membiayai pertumbuhan ekonomi dan program pemerintah agar berjalan lebih cepat dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.
Ia juga optimistis dapat memperbaiki laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Purbaya, Presiden Prabowo Subianto telah menyusun strategi agar pembiayaan pembangunan lebih efisien dan tidak menahan laju investasi swasta.
“Saya ekonom sudah lama, jadi kira-kira ngerti lah gimana cara memperbaikinya. Pak Presiden dan beberapa menteri sudah setuju untuk menciptakan langkah supaya program pembangunan cepat, sistem finansial tidak ketat seperti sekarang. Artinya, bisa tumbuh lebih cepat, sektor swasta juga terdorong,” jelasnya.
Purbaya menambahkan, dirinya tetap akan berdiskusi dengan Sri Mulyani terkait sejumlah kebijakan fiskal.
“Saya bilang ke Bu Sri Mulyani, saya akan bertanya ke dia dari waktu ke waktu, dan dia bersedia. Bersedia ngajarin saya,” kata Purbaya.
IHSG Masih di Zona Merah
Di sisi lain, pasar modal masih menunjukkan respon negatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (9/9) ditutup melemah 1,78% ke level 7.628,60. Indeks LQ45 juga terkoreksi 1,74% ke 769,92.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di kisaran 7.791,33 hingga 7.619,71. Dari 805 saham yang diperdagangkan, 465 saham melemah, 222 saham menguat, dan 118 stagnan. Total transaksi tercatat Rp 24,9 triliun dengan volume 39,7 miliar saham.
Dari 11 sektor, hanya empat yang menguat, dipimpin sektor transportasi (+0,72 persen) dan consumer cyclical (+0,68 persen). Sementara sektor teknologi (-1,86 persen), keuangan (-1,73 persen), dan infrastruktur (-1,36 persen) mencatat koreksi terdalam.
Kiwoom Sekuritas dalam risetnya menyebut pelemahan IHSG dipicu sikap wait and see investor terhadap arah kebijakan fiskal setelah pergantian Menkeu dari Sri Mulyani ke Purbaya.