Panas Bumi Berpotensi Jadi 'Game Changer' Percepat Transisi Energi Indonesia
Pengamat menilai panas bumi memiliki potensi besar sebagai 'game changer' untuk mempercepat laju transisi energi di Indonesia, didukung cadangan melimpah dan kinerja positif.
Potensi panas bumi di Indonesia dinilai sangat besar dalam mendorong percepatan transisi energi nasional. Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS), Ali Ahmudi Achyak, menyatakan bahwa pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) bisa menjadi 'game changer' bagi sektor energi di Tanah Air. Pernyataan ini disampaikan Ali dalam keterangannya yang diterima di Jakarta pada hari Jumat, 27 Maret 2026.
Ali Ahmudi Achyak menyoroti posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan cadangan panas bumi terbesar di dunia. Cadangan melimpah ini menjadi fondasi kuat bagi pengembangan energi bersih. Pemanfaatan optimal sumber daya panas bumi akan mendukung target pemerintah dalam perluasan kapasitas Energi Baru Terbarukan (EBT).
Pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk perluasan kapasitas pembangkit EBT hingga 76 persen dalam periode 2025–2034, sebagaimana tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN. Dari total 42,1 GW kapasitas EBT yang direncanakan, sebesar 5,2 GW diharapkan berasal dari panas bumi, menunjukkan peran krusial sektor ini.
Peran Strategis Panas Bumi dalam RUPTL PLN
Dalam skenario RUPTL PLN 2025-2034, panas bumi dipandang sebagai salah satu kontributor utama yang tidak hanya mampu menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional tetapi juga efektif menekan emisi karbon. Kontribusi ini sangat vital di tengah dorongan global menuju dekarbonisasi dan keberlanjutan energi. Pemanfaatan panas bumi secara maksimal akan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Ali Ahmudi Achyak juga menambahkan bahwa terdapat tren positif yang ditunjukkan oleh Pertamina Geothermal Energy (PGE) dalam pengembangan panas bumi. Tren ini memperkuat optimisme terhadap pencapaian target transisi energi. Kinerja PGE yang terus meningkat menjadi indikator keberhasilan sektor panas bumi di Indonesia.
Peningkatan kapasitas terpasang dan produksi listrik hijau dari panas bumi akan secara langsung berkontribusi pada diversifikasi bauran energi. Langkah ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Investasi pada sektor panas bumi juga membuka peluang ekonomi baru dan menciptakan lapangan kerja.
Kinerja Positif PGE Dorong Akselerasi Transisi Energi
Tren positif yang dimaksud Ali merujuk pada peningkatan kapasitas terpasang PGE yang kini mencapai 727 megawatt (MW), naik signifikan dari sebelumnya 672 MW. Peningkatan ini menunjukkan komitmen PGE dalam mengembangkan potensi panas bumi di Indonesia. Kinerja bisnis yang konsisten dan ekspansif dari PGE berpotensi mempercepat laju transisi energi di Indonesia.
Menurut Ali, jika kinerja bisnis PGE dapat terus dijaga dan diperluas, transisi energi di Indonesia akan berjalan lebih agresif dari yang diperkirakan. Keberhasilan PGE dapat menjadi contoh nyata bahwa Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk mengakselerasi transisi energi. Hal ini juga membuktikan bahwa energi terbarukan dapat menjadi pilihan yang kompetitif.
Di tengah dinamika global dan dorongan kuat menuju dekarbonisasi, pencapaian PGE menjadi bukti kapasitas Indonesia. Dengan potensi panas bumi yang belum tergarap sepenuhnya, sektor ini bukan hanya peluang ekonomi, tetapi juga strategi jangka panjang. Ini adalah langkah menuju kemandirian energi yang berkelanjutan bagi bangsa.
Pencapaian Finansial dan Produksi Listrik Hijau PGE
Pertamina Geothermal Energy (PGE) mencatat kenaikan pendapatan yang mengesankan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan laporan keuangan audit per 31 Desember 2025, PGEO membukukan pendapatan sebesar 432,72 juta dolar AS. Angka ini meningkat dibandingkan dengan pendapatan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 407,12 juta dolar AS.
Selain itu, PGEO berhasil merealisasikan produksi listrik hijau tertinggi sepanjang sejarah perusahaan pada tahun 2025. Total produksi listrik mencapai 5.095 gigawatt hour (GWh). Pencapaian ini merupakan peningkatan sebesar 5,55 persen dibandingkan dengan produksi tahun 2024 yang sebesar 4.827 GWh.
Kenaikan pendapatan dan rekor produksi listrik hijau ini menggambarkan efisiensi operasional dan ekspansi bisnis PGE. Prestasi ini juga menunjukkan bahwa investasi pada energi panas bumi memberikan hasil yang konkret. Keberlanjutan kinerja positif ini akan sangat mendukung target transisi energi Indonesia.
Sumber: AntaraNews