Nilai Tukar Rupiah Melemah Pasca Lebaran, Hampir Sentuh Rp17.000
Pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh perang Iran dan AS.
Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan hampir mendekati Rp17.000 per dollar AS, atau dilevel Rp16.979 pada penutupan perdagangan sore ini.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 75 point sebelumnya sempat melemah 80 point dilevel Rp16.979 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.904," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya, Jumat (27/3).
Pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh perang Iran dan AS. Terbaru, Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan untuk mengakhiri perang dengan Iran berjalan dengan baik dan bahwa ia akan menghentikan serangan terhadap pembangkit energi negara itu selama 10 hari.
Meskipun Trump mengumumkan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi Iran, AS juga telah mengirim ribuan pasukan ke Timur Tengah, dengan Trump mempertimbangkan apakah akan menggunakan pasukan darat untuk merebut pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg.
15 Poin
Sementara, seorang pejabat Iran mengatakan bahwa proposal AS yang terdiri dari 15 poin, yang disampaikan kepada Teheran oleh Pakistan, adalah "sepihak dan tidak adil".
Disisi lain, perang tersebut telah mengurangi pasokan minyak global sebesar 11 juta barel per hari, dengan Badan Energi Internasional menggambarkan krisis tersebut lebih buruk daripada dua guncangan minyak tahun 1970-an dan perang gas Rusia-Ukraina jika digabungkan.
"Selain itu, pasar memperkirakan skenario inflasi tinggi. Pada awal tahun, para pedagang memperkirakan setidaknya dua kali pemotongan suku bunga dari Federal Reserve (Fed). Namun, sejak konflik dimulai dan setelah keputusan kebijakan Fed pada 18 Maret, mereka mengurangi taruhan dovish mereka," ujarnya.
Sebaliknya, mereka memperkirakan pengetatan sebesar 12 basis poin oleh bank sentral AS, menurut Prime Market Terminal. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani Emas dengan mengurangi daya tariknya sebagai aset yang tidak menghasilkan.
Faktor Internal
Lebih lanjut, Ibrahim mengatakan adanya momentum Hari Raya Lebaran 2026 turut menpengaruhi pelemahan rupiah. Momen tersebut dinilai menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tiga bulan pertama atau kuartal I-2026. Peningkatan konsumsi rumah tangga hingga arus mudik diyakini pemerintah bisa mendorong ekonomi Indonesia tumbuh hingga 5,5% atau lebih.
Namun, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 ini tak setinggi target pemerintah, yakni hanya 5,4% atau sedikit di bawah target. Perkiraan ini didasarkan pada pelaksanaan Hari Raya Lebaran tahun tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Hal ini membuat dorongan pelaksanaan Hari Raya terhadap pertumbuhan ekonomi jadi lebih terbatas.
Dari sisi pendorong, ekonomi nasional bisa tumbuh hingga 5,4% berkat belanja pemerintah yang dinilai cukup ekspansif, terutama pada program-program prioritas pemerintah dan bantuan sosial yang dinilai cukup untuk menjaga daya beli masyarakat.
"Kemudian, inflasi yang cukup tinggi ikut membuat konsumsi masyarakat sedikit tertahan selama puasa dan hari raya Lebaran berlangsung. Membuat dorongan ekonomi dari peristiwa ini tak maksimal seperti tahun-tahun sebelumnya," katanya.