Modernisasi Pertanian Ala Mentan Amran, Manfaatkan Teknologi Seperti Negara AS
Mentan menjelaskan, tujuan utama pemanfaatan sistem pertanian modern untuk meningkatkan produktifitas hasil panen petani.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman terus mendorong program modernisasi pertanian di Indonesia. Bahkan, dia ingin pemanfaatan teknologi canggih ini setara dengan negara maju sekelas Amerika Serikat (AS).
"Ini kita ingin menciptakan petani modern. Bukan tradisional, seperti yang bapak lihat di desa-desa. Ini kita sejajarkan teknologinya dengan negara maju Amerika," ujar Mentan dalam acara Podcast Merdeka, dikutip Jumat, (11/4).
Mentan menjelaskan, tujuan utama pemanfaatan sistem pertanian modern untuk meningkatkan produktifitas hasil panen petani. Hasilnya, pasokan beras di gudang Perum Bulog telah mencapai 2,4 juta ton per Apri 2025.
Realisasi pasokan beras ini menjadi yang tertinggi dalam 7 tahun terakhir. Mentan Amran menargetkan pasokan beras diprediksi bisa menembus 3 juta ton di akhir bulan ini.
"Sekarang penyerapan oleh Bulog itu sudah 800 ribu ton serapan produksi dalam negeri. Tiga bulan 800 ribu ton. Padahal, tahun lalu 35 ribu ton. Nah ini datanya," ucapnya.
Tingkatkan Minat Generasi Muda
Selain itu, pemanfaatan teknologi dalam sistem pertanian modern bertujuan untuk meningkatkan minat generasi muda dalam bertani. Menurutnya, pengunaan teknologi yang efektif untuk meningkatkan produktifitas dapat mendongkrak pendapatan petani.
"Karena pertama syaratnya kalau mengajak milenial adalah satu, menguntungkan. Kalau jadi pegawai (gaji) Rp3 juta, bertani milenial minimal Rp10 juta," paparnya.
Bahkan, tak sedikit petani muda yang mendapat kan pendapatan hingga Rp20 juta dari menekuni profesi sebagai petani.
"Nah ini bisa ditunjukkan. Pendapatannya di Merauke, di Aceh, Kalimantan itu dapat Rp15 juta sampai Rp20 juta bersih per bulan," contohnya.
Berkat modernisasi pertanian, saat ini minat milenial untuk menjadi petani meningkat pesat. Mentan Amran, mencatat sekitar 27.000 orang usia milenial tertarik mengikuti pelatihan petani modern.
"Sekarang yang mendaftar petani milenial itu sudah 27.000. Sekarang nih, milenial pada tertarik bertani," tandasnya.