Maluk Sumbawa Barat Didorong Jadi Model Kawasan Tambang Berkelanjutan
Wakil Menteri PKP Fahri Hamzah mendorong kawasan Maluk Sumbawa Barat menjadi model tambang berkelanjutan, menyeimbangkan industri, lingkungan, dan ekonomi lokal untuk masa depan.
Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Republik Indonesia, Fahri Hamzah, mendorong kawasan Maluk Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk menjadi model kawasan tambang berkelanjutan. Dorongan ini disampaikan Fahri Hamzah saat rapat koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan di Sumbawa Barat pada Minggu (8/2), membahas penataan kawasan permukiman di wilayah tersebut.
Fahri Hamzah menekankan bahwa kawasan tambang merupakan objek vital nasional yang perlu dikelola secara berkelanjutan, dengan fokus pada keseimbangan antara industri, lingkungan, dan sektor ekonomi lainnya. Ia menilai pengembangan wilayah sekitar tambang harus diarahkan pada keseimbangan tersebut.
Perkembangan pesat kawasan Maluk seiring aktivitas industri menuntut penataan permukiman, penyediaan infrastruktur dasar, serta pengelolaan lingkungan yang terencana. Pemerintah daerah memandang hal ini sebagai kebutuhan mendesak untuk mengantisipasi kepadatan yang akan datang.
Mendorong Keseimbangan Industri dan Lingkungan
Fahri Hamzah menegaskan bahwa kawasan tambang seperti Maluk harus menjadi contoh pengembangan yang berkelanjutan. Menurutnya, penting untuk memulai diskusi lintas sektor agar kawasan ini tidak hanya bertumpu pada industri tambang semata.
Pengembangan juga perlu didukung oleh sektor lain, seperti pariwisata, yang memiliki dampak luas terhadap perekonomian masyarakat setempat. Keseimbangan lingkungan menjadi perhatian utama yang harus dipegang teguh oleh semua pihak dalam proses pengembangan ini.
Pendekatan terintegrasi ini diharapkan mampu menciptakan sinergi positif antara kegiatan pertambangan dan pelestarian alam, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga Sumbawa Barat.
Tantangan dan Potensi Pengembangan Maluk
Kepala Bidang Permukiman pada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Sumbawa Barat, Marwoto, mengungkapkan bahwa perkembangan kawasan Maluk semakin pesat seiring dengan meningkatnya aktivitas industri. Kondisi ini diprediksi akan membuat Maluk semakin padat dalam beberapa tahun ke depan.
Selain potensi kepadatan penduduk, kawasan Maluk juga menghadapi tantangan seperti potensi banjir dan perlunya pengembangan sektor agroindustri. Pertumbuhan yang cepat ini juga diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan hunian.
Penanganan rumah tidak layak huni menjadi bagian integral dari program pembangunan daerah. Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah untuk memastikan kualitas hidup warga tetap terjaga di tengah pesatnya pembangunan.
Rencana Penataan Infrastruktur dan Lingkungan
Dalam menghadapi tantangan tersebut, rencana pengembangan tahap awal kawasan Maluk mencakup beberapa inisiatif penting. Ini termasuk penataan jalan lingkungan, penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas (PSU), serta pembangunan ruang terbuka.
Selain itu, penyediaan infrastruktur utilitas dasar juga menjadi prioritas guna menciptakan lingkungan permukiman yang lebih tertata dan nyaman bagi penduduk. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan secara menyeluruh.
Saat ini, luas kawasan kumuh di wilayah tersebut tercatat sekitar 15 hektare, dan direncanakan pengembangan ruang terbuka seluas sekitar 10 hektare. Langkah-langkah ini merupakan bagian dari komitmen untuk mewujudkan Maluk sebagai kawasan yang tidak hanya maju secara industri, tetapi juga lestari dan layak huni.
Sumber: AntaraNews